Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FUNGSI PELESETAN ABREVIASI NAMA KAMPUS DI INDONESIA (KAJIAN SEMIOTIKA) Erlina Handyani; Aceng Ruhendi Saifullah; Mahmud Fasya
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pelesetan dalam bahasa Indonesia sering digunakan masyarakat sebagai bentuk realitas dalam komunikasi. Hal tersebut dapat dilihat dari pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Pada awalnya, pelesetan singkatan nama kampus hanya dibuat sebagai kejenakaan biasa yang bertujuan untuk menghibur. Namun, pada perkembangannya mulai muncul pelesetan-pelesetan yang bekerja sebagai sindiran secara tidak langsung kepada situasi atau orang tertentu. Penelitian ini menggunakan teori semiotika dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Data penelitian ini bersumber dari penggunaan pelesetan abreviasi nama kampus yang berasal dari Twitter dan Kaskus. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan fungsi pelesetan yang terkandung dalam pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Temuan tentang fungsi pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Temuannya meliputi dua hal, yaitu fungsi humor dan fungsi sindiran. Terdapat 30 fungsi humor pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia yang terungkap melalui (1) identitas kampus, (2) lokasi kampus, (3) tampilan dan bentuk fisik kampus, (4) stereotip kampus, (5) kegiatan kampus, serta (6) biaya kuliah kampus yang murah. Selanjutnya, terdapat 20 fungsi sindiran pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia yang terungkap melalui (1) kondisi kampus dan (2) biaya kampus yang mahal. Kesimpulannya adalah fungsi humor dalam pelesetan abreviasi nama kampus di Indonesia memiliki jumlah yang dominan dibandingkan fungsi sindiran dalam pelesetan abreviasi nama kampus di Indonesia.
PENGGUNAAN AKRONIM DALAM VARIASI BAHASA GAUL SEBAGAI WUJUD KREATIVITAS REMAJA DI DUNIA MAYA (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK) Stefanie Dita Permata Sari Prasetya; Mahmud Fasya
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terdapatnya penggunaan akronim dalam variasi bahasa gaul di kalangan remaja masa milenial di dunia maya. Terjadinya variasi bahasa yang disebabkan oleh penuturan yang heterogen, dan aktivitas interaksi sosial yang sangat beragam. Hal ini juga mempengaruhi komunikasi antar remaja, yang terlihat pada penggunaan akronim dalam variasi bahasa gaul yang digunakan pada media sosial. Penelitian ini menarik untuk dikaji karena penelitian ini menghadirkan bukti nyata dari perkembangan bahasa yang terus beraneka ragam dan sebagai bukti wujud kreativitas remaja yang bervariasi. Adanya perbedaan diakronis dalam variasi bahasa gaul inilah yang membuat akronim-akronim di masa milenial berbeda dengan akronim di masa yang akhirnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan bentuk akronim; dan (2) makna akronim. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kridalaksana yang menjelaskan mengenai bentuk dan makna akronim dalam variasi bahasa. Objek kajian dalam penelitian ini adalah akronim dalam variasi bahasa gaul di kalangan remaja di dunia maya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan sosiolinguistik sebagai pendekatan teoretisnya. Hasil dari penelitian ini ditemukan 80 data bentuk akronim yang termasuk dalam teori Kridalaksana, dan 40 data penambahan bentuk baru pada akronim variasi bahasa gaul sebagai wujud kreativitas remaja.
Mimpi menjadi Bangsa Literat Mahmud Fasya; Fatwa Amalia
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.120

Abstract

The United Nations Development Program (UNDP) merilis laporan Human Development Index (HDI) tahun 2014 yang menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam peringkat 108 dari 187 negara di dunia. Peringkat ini lebih rendah dibandingkan dengan 4 negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura (9), Brunei (30), Malaysia (62), dan Thailand (89). Walaupun demikian, Indonesia masih lebih tinggi daripada Filipina (117), Vietnam (121), Kamboja (136), Laos (139), dan Myanmar (150). Peringkat Indonesia memang mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2011 yang hanya menempati urutan ke-124 dari 187 negara. Namun, peningkatan tersebut belum termasuk signifi kan karena secara keseluruhan Indonesia masih belum beranjak dari kategori medium human development. Data tersebut menggambarkan sebuah fenomena klasik tentang budaya membaca masyarakat kita. Membaca belum menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Membaca di kalangan masyarakat memang belum menjadi suatu kebutuhan sehingga bangsa ini belum bisa dikatakan sebagai bangsa literat. Padahal, generasi literat sangat dibutuhkan agar Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan bersaing dengan bangsa lain.