DESMAWARDI DESMAWARDI
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Musik Etnik Nusantara

Dzikrullah Sebagai Sumber Kreativitas Musik Genre Melayu Bernuasa Islam Mustika Utari Agustin; Elizar Elizar; Desmawardi Desmawardi
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.372 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2011

Abstract

Dzikrullah merupakan karya yang terinspirasi dari ritual keagamaan Ratik Togak yang terdapat di daerah Kuantan Singingi Provinsi Riau. Ratik togak merupakan kesenian ritual bernuansa Islami yang gunanya untuk mengingat kebesaran Allah SWT dengan cara  Zikir bersama. Amalan zikir dan tahlil ini dilakukan masyarakat sambil berdiri yang pembacaannya dilakukan bersama dengan cara berulang-ulang yang terlebih dahulu diawali oleh Mursyid dengan tempo yang lambat kemudian dilakukan bersama-sama dengan tempo yang semakin lama semakin cepat dan kembali berubah kepada tempo yang lambat. Ratik Togak memiliki dua bentuk irama atau melodi yang dimainkan secara berulang ulang dari awal sampai akhir pertunjuka. Berdasarkan pengamatan, terhadap melodi Ratik Togak pengkarya menemukan bentuk tangga nada minor harmonis, tangga nada minor harmonis ini adalah salah satu skala minor, yang tersusun oleh delapan not. Interval antara not yang berurutan dalam skala minor harmonis adalah 1- ½,-1-1- ½- 1 ½, -½. Sebagai contoh skala minor harmonis adalah A-B-C-D-E-F-GIS-A. Modus ini akan menjadi ide utama bagi pengkarya untuk menciptakan sebuah bentuk garapan komposisi baru yang akan digarap dengan menggunakan  pendekatan Populer dengan Genre Melayu, tanpa menghilangkan unsur spiritual tradisi tersebut sehingga memenuhi standar sebuah seni pertunjukan sesuai dengan selera masa kini.Kata Kunci: Ritual; Ratik Togak; Agama Islam; Zikir     ABSTRACTDzikrullah is a work inspired by the religious ritual of Ratik Togak located in the Kuantan Singingi area of Riau Province. Ratik togak is a ritual art with Islamic nuances which is useful for remembering the greatness of Allah SWT by means of dhikr together. The practice of remembrance and tahlil is done by the community while standing, whose readings are carried out together in a repetitive way which is first initiated by the Mursyid at a slow tempo then carried out together with a tempo that is getting faster and faster and returns to a slow tempo. Ratik Togak has two forms of rhythm or melody that are played repeatedly from the beginning to the end of the performance. Based on observations, the composer found the Ratik Togak melody in the form of a harmonic minor scale, this harmonic minor scale is one of the minor scales, which is composed of eight notes. The interval between successive notes in the harmonic minor scale is 1- ,-1-1- - 1 , -½. An example of a harmonic minor scale is A-B-C-D-E-F-GIS-A. This mode will be the main idea for the artist to create a new form of composition that will be worked on using the Popular approach with the Malay Genre, without losing the spiritual element of the tradition so that it meets the standards of a performing art according to today's tastes.Keywords : Ritual; Ratik Togak; Islam; dhikr 
Fungsi Dikia Baruda pada Acara Sunat Rasul (Khitanan) di Nagari Andaleh Baruh Bukit Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar Chairunnisa Salsabillah Salsabillah; Desmawardi Desmawardi; Misda Elina; Syafniati Syafniati
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1013.989 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2016

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan fungsi dikia baruda pada acara sunat rasul di Nagari Andaleh Baruh Bukit Kecamatan Sunagayang Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Pertunjukan kesenian dikia baruda sebagai produk budaya masyarakat ditampilkan pada acara arak-arakan dan dalam posisi duduk dalam masjid, mushallah dan rumah penduduk. Penelitian ini menggunakan metode kulitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan mendata langsung kelapangan. Teori yang digunakan adalah teori fungsi yang di kemukakan oleh Allan P. Merriam dan RM. Soedarsono, adapun teori bentuk yang digunakan adalah teori yang dikemukakan ole Djelantik.  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukan bahwa bentuk pertunjukan kesenian dikia baruda ditinjau dari segi penyajiannya menggunakan, instrument rabano dan vocal yang melantukan syair puji-pujian kepada Allah SWT dan memuliakan Nabi Muhammad SAW. Selajutnya fungsi pertunjukan dikia baruda pada acara sunat rasul adalah, menyangkut emosional, penghayatan estetis, hiburan, komunkasi, sebagai sarana upacara, sebagai hiburan, dan sebagai sarana tontonan.Kata kunci: Dikia Baruda, Sunat Rasul, Fungsi, BentukABSTRACT This study aims to describe the function of dikia baruda at the apostle circumcision event in Nagari Andaleh Baruh Bukit, Sunagayang District, Tanah Datar Regency, West Sumatra Province. The art performances of Dikia Baruda as a cultural product of the community are displayed at processions and in a sitting position in mosques, prayer rooms and people's homes. This study uses a qualitative method with a descriptive analysis approach by collecting data directly from the field. The theory used is the function theory proposed by Allan P. Merriam and RM. Soedarsono, the theory of form used is the theory proposed by Djelantik. Data collection techniques were carried out by literature study, observation, interviews and documentation. The results of the study indicate that the art form of Dikia Baruda in terms of presentation uses rabano and vocal instruments that sing praises to Allah SWT and glorify the Prophet Muhammad SAW. Furthermore, the function of the dikia baruda performance at the circumcision of the apostle is related to emotional, aesthetic appreciation, entertainment, communication, as a means of ceremony, as entertainment, and as a means of spectacle.Keywords: Dikia Baruda, Apostle Circumcision, Function, Form
Dendang Baruah Andiang dalam Potoguran di Nagari Banja Loweh Kecamatan Bukik Barisan Gebi Satria; Desmawardi Desmawardi; Arnailis Arnailis; M. Halim
Jurnal Musik Nusantara Vol 2, No 2 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i2.3204

Abstract

-Dendang baruah andiang merupakan lagu Tradisi Minangkabau yang termasuk ke dalam kelompok dendang darek yang digunakan untuk kegiatan Potoguran di Nagari Banja Loweh, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota. Kegiatan Potoguran merupakan kegiatan padukunan yang gunanya untuk mencelakai orang lain terutama dalam dunia percintaan. Teks yang digunakan adalah teks yang berbentuk pantun yang isinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan dunia pedukunan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dendang baruah andiang dalam kegiatan potoguran dengan menggunakan metode kualitatif serta memakai pendekatan deskriptif. Aspek-aspek yang dikaji meliputi, teks, konteks, bentuk  serta fungsi dendang Baruah Andiang terhadap kegiatan potoguran tersebut, untuk membahas bentuk penulis menggunakan teori bentuk dari A.A Djelantik, bentuk yang dikemukakan oleh Djelantik ada bentuk kongkret dan ada bentuk abstrak, bentuk konkret terdiri dari: saluang, peniup saluang, tukang dendang, tempat dan lainnya, sedangkan untuk membahas fungsi penulis menggunakan teori fungsi dari alam P Mariam yang mana dalam teorinya terdapat 10 fungsi, akan tetapi dalam 10 fungsi tersebut terdapat 5 fungsi yang berhubungan dengan fungsi dendang baruah andiang dalam kegiatan Potoguran diantaranya: fungsi komunikasi, fungsi reaksi jasmani, fungsi jati diri, fungsi estetis dan fungsi kepercayaan.