Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

SISTEM FONOLOGI BAHASA BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR Nurul Masfufah
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.443 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.216.251-265

Abstract

Fonologi bahasa Benuaq memiliki beberapa ciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk memaparkan secara singkat dan jelas struktur fonologi bahasa Benuaq. Adapun masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur vokal, konsonan, diftong dan distribusinya, serta bentuk suku kata dalam bahasa Benuaq. Penelitian ini menggunakan teori linguistik struktural, yaitu dengan cara menganalisis struktur fonologinya. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu metode wawancara terstruktur dan observasi sistematis dengan teknik rekam dan catat. Adapun analisis data menggunakan metode deskriptif analitik untuk mengetahui fonologi bahasa Benuaq. Hasil penelitian ini ditemukan enam vokal pendek (i, u, e, |, o, dan a) dan ditemukan juga lima vokal panjang (i:, u:, e:, o:, dan a:), 23 konsonan, dan enam diftong. Fonem vokal berdistribusi lengkap, sedangkan konsonan ada yang berdistribusi lengkap dan tidak lengkap. Konsonan yang berdistribusi lengkap berjumlah sepuluh fonem, yaitu /p/, /m/, /s/, /t/, /n/, /l/, /r/, /y/, /k/, dan /G/, sedangkan konsonan yang berdistribusi tidak lengkap terdapat 13 fonem, yaitu /b/, / pm/, /w/, /d/, /tn/, /j/, /c/, /~n/, /g/, /q/, /kG/, /h/, dan /?/. Suku kata dalam bahasa Benuaq, yaitu V, D, VK, KV, KVK, KD, dan KDK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fonologi bahasa Benuaq memiliki keunikan tersendiri, seperti bentuk vokal panjang dan konsonan unik /pm/, /tn/, dan /kG/. 
FUNGSI DAN MAKNA PERIBAHASA DAYAK BENUAQ: KAJIAN ETNOLINGUISTIK Nurul Masfufah
Sirok Bastra Vol 4, No 2 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.906 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i2.81

Abstract

Peribahasa Dayak Benuaq menggambarkan pola pikir dan cara pandang masyarakat Dayak Benuaq terhadap berbagai kejadian yang dihadapi dalam kehidupannya. Hal ini  dibuktikan dengan penggunaan leksikon pembentuk peribahasa tersebut, yaitu berupa leksikon tumbuhan, hewan, dan benda lain berkaitan dengan alam yang dianalogikan dengan suatu keadaan yang dilihat. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna peribahasa Dayak Benuaq. Data dan sumber data dalam kajian ini berupa peribahasa yang berasal dari masyarakat Dayak Benuaq tersebut. Teknik pengumpulan data dengan teknik studi pustaka (dokumen) dan wawancara (dengan teknik cakap, teknik rekam, dan teknik catat). Dalam analisis data, metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis bahasa secara struktural dan etnolinguistik. Berdasarkan hasil kajian, dapat diketahui bahwa masyarakat Dayak Benuaq sebagai penutur peribahasa tersebut tidak hanya sekadar mengungkapkan tuturan kosong, tetapi tuturan dalam peribahasa tersebut mencerminkan budaya, cara pandang, dan pola pikir masyarakat Dayak Benuaq dalam menjalani kehidupan.
HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA BENUAQ, TONYOOI, DAN BAHAU: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF Nurul Masfufah
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 13, No 1 (2018): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.985 KB) | DOI: 10.26499/loa.v13i1.1580

Abstract

It is a comparative historical linguistic study that discusses about the kinship of Benuaq, Tonyooi, and Bahau languages. Those are used and exist in East Kalimantan. This research is quantitative by using lexicostatistics of Swadesh-200 lists and also qualitative by describing the kinship of those languages. The lexicostatistical calculations indicate that those three languages are related. Benuaq and Tonyooi language relation percentage is 46.15%. Benuaq and Bahau language relation percentage is 27.18%. Tonyooi and Bahau language relation percentage is 30.77%. It shows that Benuaq and Tonyooi languages are classified as one language family, Benuaq and Bahau are classified as one language group, and Tonyooi and Bahau are classified as one language group. Thus, those three languages are not classified as one language.
KOHENSI GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL DALAM CERPEN ”MADU LOMUQ” KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN Nurul Masfufah
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 11, No 1 (2016): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.493 KB) | DOI: 10.26499/loa.v11i1.1661

Abstract

This paper is about discourse in a short story “Madu Lomuq” by Korrie Layun Rampan. It studies the short story’s lexical and grammatical cohesion.      The data are sentences in “Madu Lomuq”. It uses distributional method. It applies direct elemental analysis as the basic techniques followed by substitution, deletion, and covering mark reading techniques as advanced techniques. The result shows that there are (1) grammatical cohesion markers, such as references, comparisons, substitutions, ellipses, conjunctions, inversions, and passivizations and also (2) lexical cohesion markers, such as repetitions, synonyms, antonyms, text’s overall cohesion, and collocations.
ANALISIS KONTRASTIF FONEM VOKAL DAN KONSONAN BAHASA INDONESIA DENGAN BAHASA BENUAQ Nurul Masfufah
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 13, No 2 (2018): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.991 KB) | DOI: 10.26499/loa.v13i2.1669

Abstract

Linguistic characteristics in Indonesian and Benuaq language may be different and have their own characteristics, one of which is in their phonological aspects. This research aims to do a contrastive analysis of vowel and consonant phonemes in Indonesian and Benuaq language. It discusses about differences in vowel and consonant phonemes in Indonesian and Benuaq language. It uses structural linguistic theory to analyze the vowel and consonant phonemes based on phonological studies. It applies literature study method and interviews, like recording techniques and notes. The data analysis uses descriptive analytical methods to determine the differences in vowel and consonant phonemes. The results of this study reveal that Benuaq language has 23 consonant phonemes (b, p, pm, m, w, d, t, tn, s, n, l, r, j, c, ~ n, y, k, kG, g, G, q , h, and ?), six short vowels (i, u, e, |, o, and a), and five long vowels (i :, e :, u :, o :, and a :). Whereas, Indonesian has 22 consonant phonemes (b, p, f, m, w, d, t, s, ş, n, l, r, j, c, ~ n, y, k, kh , g, G, h, and z), six short vowels (i, u, e, |, o, and a), and no long vowels. Both languages have differences and similarities in the contrastive analysis. 
AFIKSASI DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM GAUL DI KOTA SAMARINDA: SEBUAH KAJIAN MORFOLOGI Nurul Masfufah
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 1 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.232 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i1.2067

Abstract

                                                           AbstrakTulisan ini mendeskripsikan bentuk afiks dan afiksasinya dalam bahasa Indonesia ragam gaul di Kota Samarinda. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu teknik SBLC (Simak Bebas Libat Cakap) dan teknik catat. Adapun teknik analisis data dengan melalui langkah-langkah, yaitu mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menganalisis bentuk afiks dan proses afiksnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entuk afiks yang digunakan dalam bahasa Indonesia ragam gaul di Kota Samarinda, meliputi prefiks ke-, simulfiks N-, infiks /p/ + vokal, infiks /g/ + vokal, infiks /s/ +vokal, infiks /ok/, sufiks –in, sufiks –an, dan konfiks N- + -in.Kata kunci: afiksasi, ragam gaul, morfologi                                                            AbstractThis paper describes affixes and affixations in Indonesian slang in Samarinda. It uses SBLC (Simak Bebas Libat Cakap) and note-taking techniques. The data analysis techniques involve three major steps: identifying, classifying, and analyzing the affixes and the affixes formation. The result shows that Indonesian slang inSamarinda uses prefix ke-, simulfix N-, infix /p/ + vowel, infix /g/ + vowel, infix /s/ + vowel, infix /ok/, suffix –in, suffix –an, and confix N- + -in.Keywords: affixation, slang, morphology
BENTUK DAN MAKNA KOSAKATA NELAYAN PADA SUKU BAJAU DI KECAMATAN PENAJAM: KAJIAN SEMANTIK Nurul Masfufah
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara kultural, masyarakat Bajau masih tergolong masyarakat sederhana dan hidup menurut tata kehidupan lingkungan laut. Salah satu keunikan yangdimiliki sukuBajauadalahkosakata-kosakatayangberkaitandengan kehidupan nelayan. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk dan makna kosakata nelayan suku Bajau di Kecamatan Penajam. Teknik pengumpulan data didapat dari informan melalui teknik wawancara dan rekam catat. Analisis data penelitian menggunakan teknik analisis deskriptif dengan kajian semantik. Hasil penelitian dan pembahasan menemukan hal-hal sebagai berikut. Kosakata nelayan yang dikumpulkan sebanyak 220 kata, terdiri atas bentuk dasar sebanyak 155 (70%), bentuk terikat sejumlah 28 (13%), bentuk majemuk sejumlah 24 (11%), dan bentuk ulang sebanyak 13 (6%). Berdasarkan kelas katanya, terdapat kosakata berkelas nomina sebanyak 180 (82%), verba sejumlah 31 (14%), dan adjektiva sebanyak 9 (4%). Berdasarkan maknanya, terdapat sepuluh makna, yaitu menyatakan aktivitas atau melakukan sesuatu sebanyak 34 (15%), menyatakan orang yang menyatakan benda atau barang sebanyak 56 (25%), menyatakan hewan yang hidup di laut sebanyak 48 (22%), menyatakan alat sebanyak 23 (11%), menyatakan keadaan sebanyak 22 (10%), melakukan atau pelaku sebanyak 13 (6%), menyatakan proses sebanyak 7 (3%), menyatakan hasil sebanyak 6 (3%), menyatakan tempat sebanyak 6 (3%), dan menyatakan ketidaksengajaan sebanyak 5 (2%). Kosakata nelayan pada suku Bajau tersebut memiliki peluang untuk berkontribusi dalam pengayaan kosakata bahasa Indonesia karena memiliki konsep yang berbeda dan memiliki keunikan.
SISTEM FONOLOGI BAHASA BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR Nurul Masfufah
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.216.251-265

Abstract

Fonologi bahasa Benuaq memiliki beberapa ciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk memaparkan secara singkat dan jelas struktur fonologi bahasa Benuaq. Adapun masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur vokal, konsonan, diftong dan distribusinya, serta bentuk suku kata dalam bahasa Benuaq. Penelitian ini menggunakan teori linguistik struktural, yaitu dengan cara menganalisis struktur fonologinya. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu metode wawancara terstruktur dan observasi sistematis dengan teknik rekam dan catat. Adapun analisis data menggunakan metode deskriptif analitik untuk mengetahui fonologi bahasa Benuaq. Hasil penelitian ini ditemukan enam vokal pendek (i, u, e, |, o, dan a) dan ditemukan juga lima vokal panjang (i:, u:, e:, o:, dan a:), 23 konsonan, dan enam diftong. Fonem vokal berdistribusi lengkap, sedangkan konsonan ada yang berdistribusi lengkap dan tidak lengkap. Konsonan yang berdistribusi lengkap berjumlah sepuluh fonem, yaitu /p/, /m/, /s/, /t/, /n/, /l/, /r/, /y/, /k/, dan /G/, sedangkan konsonan yang berdistribusi tidak lengkap terdapat 13 fonem, yaitu /b/, / pm/, /w/, /d/, /tn/, /j/, /c/, /~n/, /g/, /q/, /kG/, /h/, dan /?/. Suku kata dalam bahasa Benuaq, yaitu V, D, VK, KV, KVK, KD, dan KDK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fonologi bahasa Benuaq memiliki keunikan tersendiri, seperti bentuk vokal panjang dan konsonan unik /pm/, /tn/, dan /kG/. 
SISTEM FONOLOGI BAHASA BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR Nurul Masfufah
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.216.251-265

Abstract

Fonologi bahasa Benuaq memiliki beberapa ciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk memaparkan secara singkat dan jelas struktur fonologi bahasa Benuaq. Adapun masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana struktur vokal, konsonan, diftong dan distribusinya, serta bentuk suku kata dalam bahasa Benuaq. Penelitian ini menggunakan teori linguistik struktural, yaitu dengan cara menganalisis struktur fonologinya. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu metode wawancara terstruktur dan observasi sistematis dengan teknik rekam dan catat. Adapun analisis data menggunakan metode deskriptif analitik untuk mengetahui fonologi bahasa Benuaq. Hasil penelitian ini ditemukan enam vokal pendek (i, u, e, |, o, dan a) dan ditemukan juga lima vokal panjang (i:, u:, e:, o:, dan a:), 23 konsonan, dan enam diftong. Fonem vokal berdistribusi lengkap, sedangkan konsonan ada yang berdistribusi lengkap dan tidak lengkap. Konsonan yang berdistribusi lengkap berjumlah sepuluh fonem, yaitu /p/, /m/, /s/, /t/, /n/, /l/, /r/, /y/, /k/, dan /G/, sedangkan konsonan yang berdistribusi tidak lengkap terdapat 13 fonem, yaitu /b/, / pm/, /w/, /d/, /tn/, /j/, /c/, /~n/, /g/, /q/, /kG/, /h/, dan /?/. Suku kata dalam bahasa Benuaq, yaitu V, D, VK, KV, KVK, KD, dan KDK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fonologi bahasa Benuaq memiliki keunikan tersendiri, seperti bentuk vokal panjang dan konsonan unik /pm/, /tn/, dan /kG/.