Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengembangan Theory Of Mind Melalui Bermain Dalam Membangun Karakter Anak Usia Prasekolah Mukhlisin Mukhlisin
Jurnal Kajian Agama Hukum dan Pendidikan Islam (KAHPI) Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Kajian Agama, Hukum dan Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Kajian Keagamaan Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/kahpi.v1i1.p14-29.2906

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan dan menganalisa secara mendalam bagaimana Pengembangan Theory of Mind pada anak bisa dilakukan melalui pretend play, (2) karakter apa saja yang memungkinkan berkembang dengan pretend play. Penelitian ini menggunakan penelitian ke-pustakaan (library research) karena sumber datanya adalah teks dari berbagai literatur yang tersedia seperti buku, serta jurnal yang terkait dengan pendidikan karakter khususnya untuk anak usia prasekolah. Karena penelitian ini fokusnya adalah pendidikan karakter anak usia prasekolah melalui permainan, maka obyek utamanya adalah permainan anak usia prasekolah. Oleh sebab itu, metode yang digunakan adalah metode diskriptif. Hasil dari penelitian adalah berkembangnya kemampuan anak dalam memahami status mental diri dan mental orang lain dengan melalui pretend play. Dengan Theory of Mind  seorang anak dapat memprediksi prilaku, menerangkan prilaku, dan memanipulasi prilakuKarakter yang memungkinkan berkembang melalui pretend play ini adalah toleransi, empati, kreatif, percaya diri, dan kecerdasan emosi.Kata Kunci: Mind, Bermain, Karakter Anak
PENERAPAN HUMANIS RELIGIUS DALAM PEMBELAJARAN PAI (STUDI PADA UNIVERSITAS PAMULANG) Mukhoyyaroh Mukhoyyaroh; Kamil Falahi; Mukhlisin Mukhlisin
Jurnal Kajian Agama Hukum dan Pendidikan Islam (KAHPI) Vol 3, No 1 (2021): VOL 3, NO 1, JULI 2021: JURNAL KAJIAN AGAMA HUKUM DAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : Lembaga Kajian Keagamaan Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/kahpi.v3i1.p1-10.12956

Abstract

Terminologi pendidikan humanis religius diperkenalkan akhir-akhir ini sebagai konsep pendidikan yang menarik dibincangkan lebih lanjut, setidaknya karena dipandang sesuai dengan dasar falsafah pendidikan di Indonesia: Pancasila. Walaupun demikian, secara konseptual belum banyak ahli yang membahasnya. Penjelasan konsep pendidikanhumanis religius perlu dilakukan sebagai upaya merumuskan teori pendidikan yang khas Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Penerapan humanis Religius dalam Pembelajaran PAI Studi Pada Universitas Pamulang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan pedagogis, psikologis, dan teologis normatif.Sumber data yaitu data primer bersumber dari, Ketua LKK, Dosen PAI, Mahasiswa, sedangkan data sekunder diambil dari dokumen yang ada kaitannya dengan penelitian. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah peneliti sendiri yang berfungsi menetapkan dan memilih informan sebagai sumber data, analisis data, menafsirkan data, serta instrumen dalam mengumpulkan data adalah observasi,wawancara, dan dokumentasi. Dengan konsep humanis religius, maka mahasiswa mengembangkan karakter yang teraktualisasi dalam sikap jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, cinta damai, responsif dan proaktif; bertanggung jawab atas keputusan yang diambil berdasar prinsip musyawarah serta mengaktualisasikan nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap, dan berperilaku.Kata Kunci : Humanis, Religius, Pendidikan Agama Islam.
WAYANG SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER (PERSPEKTIF DALANG PURWADI PURWACARITA) Mukhlisin
Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 17 No. 02 (2021): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54069/attaqwa.v17i02.134

Abstract

Wayang is the right medium to convey character education to children. The story of wayang is very interesting and the characters of the characters can be used as examples of human behavior. Embedding character through wayang is an effort to strengthen identity. by retelling wayang in the classroom, students or the younger generation are introduced, taught and instilled the noble values contained in it. The introduction of character education with a game approach will be more fun for students and easier for them to understand. And in the end, with regard to character education as a priority for national education in the future, the life of the nation and state will be stronger based on the values of its cultural roots. Like Dalang purwadi purwacarita about the characters: wayang semar, humble, not arrogant, honest, and still loving others. Wayang Gareng, with handicapped hands, crooked feet, crossed eyes, symbolizes creativity, that creates something, and is not perfect. Puppet petruk, depicted in a long form that symbolizes the thought that must be long in living human life, must think long (not grusa-grusu) and be patient. Wayang bagong, Bagong has a character who likes to joke even when facing very serious problems and has a presumptuous nature
MAKNA NILAI-NILAI TOMANURUNG DALAM PENDIDIKAN KARAKTER Yunus Yunus
EDURELIGIA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.677 KB) | DOI: 10.33650/edureligia.v5i1.1664

Abstract

This post-chaos period is called the Tomanurung period with a character named Simpurusiang in Bugis language, "Simpurusiang" implies "a strong and unbroken binder". Because society is in a state of chaos and divorces. Because of this, they are looking for figures who can unite societies that have been divided and in chaos. Through a long search, they found the person they needed, namely a Tomanurung (the descendant) and they agreed to make him king through a "collective agreement" that is between Tomanurung and people's representatives. According to the perspective of the Luwu community, Tomanurung means a person who descends from heaven or heaven. Tomanurung did not know the news of his arrival beforehand, suddenly appeared and his presence was being awaited to fix the chaotic situation. Therefore, Tomanurung for the people of Luwu and Bugis-Makassar is generally considered a savior, unifier and continuation of royal life. So the value of human behavior in the past, which was the source of the lontaraq pappaseng script, such as adele '(fair), lempu' (honest), getteng (firm), Abbulo Sibatang.
SOSIAL-BUDAYA: HARMONISASI AGAMA DAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN TOLERANSI Yunus Yunus; Mukhlisin
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.78

Abstract

Tana Luwu dihuni oleh komunitas multietnis seperti Bugis, Makassar, Rongkong dan Toraja. Beragam suku, kepercayaan, dan agama yang berbeda. Mereka hidup rukun bersama, mengatasi kerjasama dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, hingga kegiatan keagamaan telah membentuk pemahaman tentang toleransi dalam beragama, yaitu saling menghormati dan menghormati pemeluk agama. Kota Palopo memiliki beberapa kearifan lokal antara lain; Sipakatau artinya saling memanusiakan, Sipakalebbi artinya saling menghormati, Sipakaingge 'artinya saling mengingatkan. Hal ini harus dijaga dan disosialisasikan agar menjadi perekat kreasi dan pemeliharaan umat beragama di Kota Palopo. Pembelajaran kearifan lokal budaya Bugis UNANDA dan IAIN Palopo yang menunjukkan bahwa pembelajaran menciptakan kesadaran empati (Pesse) terhadap orang lain yang memiliki identitas pribadi dan budaya yang berbeda. Kearifan lokal, pembinaan aspek afektif seperti sikap, minat, konsep diri, pengembangan nilai, dan moral diperlukan dalam masyarakat majemuk sehingga dapat memberikan makna belajar bagi peserta didik.
WAYANG SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER (PERSPEKTIF DALANG PURWADI PURWACARITA) Mukhlisin
Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 17 No. 02 (2021): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54069/attaqwa.v17i02.134

Abstract

Wayang is the right medium to convey character education to children. The story of wayang is very interesting and the characters of the characters can be used as examples of human behavior. Embedding character through wayang is an effort to strengthen identity. by retelling wayang in the classroom, students or the younger generation are introduced, taught and instilled the noble values contained in it. The introduction of character education with a game approach will be more fun for students and easier for them to understand. And in the end, with regard to character education as a priority for national education in the future, the life of the nation and state will be stronger based on the values of its cultural roots. Like Dalang purwadi purwacarita about the characters: wayang semar, humble, not arrogant, honest, and still loving others. Wayang Gareng, with handicapped hands, crooked feet, crossed eyes, symbolizes creativity, that creates something, and is not perfect. Puppet petruk, depicted in a long form that symbolizes the thought that must be long in living human life, must think long (not grusa-grusu) and be patient. Wayang bagong, Bagong has a character who likes to joke even when facing very serious problems and has a presumptuous nature
ANALISIS HUBUNGAN PEMBELAJARAN PAI DALAM PENDIDKAN KARAKTER Mukhlisin Mukhlisin; Yunus Yunus
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 7, No 2 (2024): May 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v7i2.1883

Abstract

Pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu. Namun karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkuta. Penelitian yang digunakan adalah ex post facto, dimana peneliti menghubungkan sebab dan akibat yang tidak dimanipulasi atau ditangani (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Pembelajaran PAI berpengaruh signifikan terhadap karakter siswa, karena nilai p = 0,000 lebih kecil dari 5%. Kriteria korelasinya sangat kuat (ry1,2 = 0,886). Dengan demikian, budaya sekolah dan pembelajaran PAI ada hubungannya secara mandiri atau tidak dengan karakter siswa Madrasah Aliyah Negeri Palopo. Variabel yang paling dominan mempengaruhi karakter siswa adalah variabel pembelajaran PAI. Berdasarkan uji hipotesis disimpulkan bahwa budaya sekolah dan pembelajaran PAI secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap karakter siswa Madrasah. Terdapat pengaruh positif antara budaya sekolah dan pembelajaran PAI dengan karakter siswa, hal ini menunjukkan bahwa karakter siswa akan meningkat jika budaya sekolah dan pembelajaran PAI di Madrasah Aliyah Negeri Palopo.