Penelitian ini mengkaji kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Sukoharjo dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perkembangannya. Dengan menggunakan studi kasus deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara, kuesioner, tes berpikir kritis, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa secara umum menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang moderat hingga tinggi, dengan skor rata-rata 73,74. Kinerja yang kuat ditemukan dalam analisis, interpretasi, dan evaluasi, sedangkan penjelasan dan inferensi masih kurang berkembang. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, termasuk Pembelajaran Berbasis Masalah, diskusi, debat, analisis sumber sejarah, dan pendekatan pembelajaran mendalam, secara efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan mendorong penalaran berbasis bukti dan argumentasi logis. Faktor pendukung meliputi strategi pengajaran yang tepat, bimbingan guru, sumber belajar yang memadai, kegiatan literasi, dan partisipasi aktif siswa. Sementara itu, motivasi siswa yang terbatas, waktu pembelajaran yang tidak mencukupi, dan perubahan kurikulum diidentifikasi sebagai hambatan utama. Studi ini menyimpulkan bahwa pengajaran sejarah yang reflektif, analitis, dan berpusat pada siswa memainkan peran penting dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa.