Catarina Laboure Dian Noviana
Universitas Katolik Atma Jaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KONFLIK INTRAPERSONAL WANITA LAJANG TERHADAP TUNTUTAN ORANGTUA UNTUK MENIKAH (INTRAPERSONAL CONFLICT OF SINGLE WOMEN TOWARDS PARENT’S DEMAND TO MARRIED) Dian Noviana, Catarina Laboure; Tyas Suci, Eunike Sri
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah wanita lajang usia dewasa awal yang bekerja meningkat di Indonesia. Mereka memilih melajang karena ingin memusatkan waktu dan energinya pada karir. Di lain pihak, orangtua berharap anak wanitanya segera menikah agar terhindar dari pelabelan negatif oleh masyarakat, hidup anaknya terjamin, dan segera memberi cucu.Label yang paling sering didengar adalah “perawan tua” atau “tidak laku.” Hal ini membuat orangtua menuntut anak wanitanya segera menikah. Tuntutan ini membuat konflik intrapersonal pada wanita lajang yang bekerja. Konflik intrapersonal adalah konflik antara individu dengan dirinya sendiri dan terjadi pada waktu yang bersamaan ketika individu memiliki kebutuhan, keinginan, kenyataan dan nilai yang tidak sejalan satu sama lain dan tidak mungkin dua atau lebih kebutuhan dapat dipenuhi. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran konflik intrapersonal yang dialami wanita bekerja yang masih lajang pada usia dewasa awal menghadapi tuntutan menikah oleh orangtuanya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam kepada 4 subjek dari tingkat sosial menengah ke atas yang terbagi menjadi 2 kelompok usia: 25–29 dan 30–35 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan orangtua untuk menikah bagi wanita lajang merupakan nilai yang harus dipatuhi. Intensitas konflik intrapersonal dipengaruhi oleh budaya, karakteristik subjek, seberapa besar nilai dapat mempengaruhi perilaku serta perasaan subjek, urutan kelahiran dan saudara yang sudah menikah. Penelitian ini diharapkan membuat cakrawala orangtua dalam memahami anak wanitanya yang hidup melajang di masa kini dan menjadi terbuka dan membuat mereka mampu mengkomunikasikan dengan baik keinginan mereka agar anak perempuannya segera menikah sehingga kesejahteraan mental anak tetap terjaga.Kata kunci: wanita lajang, konflik intrapersonal, harapan menikah, tuntutan orangtua.The number of single working women in their early adult life tends to increase in Indonesia. They chose to stay single because they want to spend their time and energy for their career. On the other hand, parents expect them to get married to avoid negative social labeling, to make sure that their daughters are secured, and also to give them grandchildren. The common labels include “perawan tua” or “tidak laku.” These make parents expect them to get married soon. This expectation creates intrapersonal conflict in single working women. Intrapersonal conflict is a conflict between an individual with herself and occurrs when the individual has needs, desires, realities and values that are inconsistent one another, and fails to meet two or more needs. This study aims to describe intrapersonal conflict in single working women agaist parents’ demand to get married. This study applied descriptive qualitative approach and used in-depth interviews to four respondents with various characteristics (middle to upper-middle class with two age groups: 25-29 and 30-35 years old). The results showed that parental demand to their single working daughters to get married is a value that must be obeyed. Intrapersonal conflict intensity is influenced by culture, respondents’ characteristics, the extent that value influences behavior, respondents’ feelings, birth order, and married sisters. In order to make intrapersonal conflict free from negative impact on single working women, it is hoped that this research may broaden parents’ understanding about their daughters. Parents’ expectation to their daughters to get married should be communicated so that it does not influence their daughters’ mental well-being.Keywords: single women, intrapersonal conflict, marriage expectation, parental demand