Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Agama dalam Masyarakat Post-Sekuler: Refleksi Teologis Arthur Aritonang
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 7 No 2 (2023): Volume 7 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/ja.v7i2.605

Abstract

Sejarah dan perjalanan sila pertama pancasila dari era orde lama sampai era reformasi (SBY) Arthur Aritonang
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 1 (2023): Juni
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i1.7

Abstract

AbstractThis article intends to trace the history of the sharp debate over the sound of the first Pancasila precepts among nationalists and political Islam. It is clear that this problem has not yet been resolved to be resolved, some Indonesians seem unable to come to terms with the sound of the first precepts. These efforts are still being fought for, either through political channels or through the birth of religious-based community organizations / mass organizations. In general, this effort is about to present the face of superiority in religion in Indonesia which in turn changes the way of being Indonesian religion from being intolerant of diversity. This indicates that Indonesian society seems to have started to ignore the meaning of the first Pancasila precepts. The purpose of this article is to trace the history of the first Pancasila precepts from the Old Order to the Reformation (SBY). Whether the way of religion in Indonesia shows the soul of the first Pancasila precepts or is it the other way around? The approach used in this article is a qualitative method that focuses on the literature on the first Pancasila precepts. The conclusion of this article is that the first Pancasila precepts experienced degradation until the end of the SBY administration. To overcome the problem of religious dissonance in Indonesia, Indonesian people need to live up to the values of the first Pancasila precepts. Key words: Pancasila First Principle, Islam, Politics, Religious Harmony. AbstrakArtikel ini hendak menelusuri sejarah perdebatan yang cukup tajam atas bunyi dari sila pertama pancasila di antara kalangan nasionalis dan islam politik. Persoalan ini nyata belum juga tuntas untuk diselesaikan sebagian masyarkat indonesia tampaknya belum dapat berdamai dengan bunyi dari sila pertama tersebut. Upaya tersebut masih terus diperjuangkan baik melalui jalur politik ataupun melalui lahirnya organisasi masyarakat/ormas yang berbasis agama. Usaha tersebut sebenarnya secara garis besar hendak menampilkan wajah superioritas dalam beragama di indonesia yang pada akhirnya mengubah cara beragama indonesia dari yang menjadi intoleran terhadap keberagaman. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat indonesia seperti sudah mulai mengabaikan makna dari pancasila sila pertama. Tujuan dari artikel ini ialah menelusuri sejarah perjalanan pancasila sila pertama dari orde lama sampai reformasi (SBY). Apakah cara beragama di Indonesia memperlihatkan jiwa dari sila pertama pancasila ataukah malah sebaliknya?. Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif yang menitikberatkan pada liteatur mengenai pancasila sila pertama. Kesimpulan dari artikel ini ialah pancasila sila pertama mengalami degradasi sampai masa berakhirnya pemerintahan SBY. Untuk mengatasi masalah ketidakrukunan umat beragama di Indonesia, masyarakat Indonesia perlu menghidupi nilai dari Pancasila sila pertama.Kata kunci: Pancasila Sila Pertama, Islam, Politik, Kerukunan Umat Beragama.
Book Review: Kekristenan dan Politik Arthur Aritonang
THEOLOGIA INSANI: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Vol. 2 No. 2 (2023): Juli
Publisher : STAK Reformed Remnant Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58700/theologiainsani.v2i2.53

Abstract

Tujuan buku ini diterbitkan adalah pertama, hendak memberikan pencerahan bagaimana seharusnya respons umat Kristen dalam menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia. Kedua, sudah saatnya di Perguruan Tinggi Teologi di Indonesia/STT memuat mata kuliah gereja dan politik. STT adalah tempat untuk membentuk calon pemimpin gereja yang harus diperlengkapi secara pemahamannya bahwa gereja tidak bisa terpisah dari dunia karena gereja ada dan diutus ke tengah-tengah dunia. Dengan demikian kehadiran gereja dapat terlihat nyata (berkontribusi) bagi masyarakat dan negara Indonesia. Metode penelitian yang digunakan oleh Daulay yaitu pendekatan kualitatif (kepustakaan). Kesimpulan dari penelitian ini ialah pentingnya kesatuan dari tubuh gereja-gereja Protestan di Indonesia sehingga dengan kesatuan ini gereja dapat mengimplementasikan dirinya sebagai gereja bagi orang lain.
RESENSI BUKU: RINGKASAN SEJARAH FILSAFAT Arthur Aritonang
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.152

Abstract

Dr. Kees Bertens dalam bukunya hendak menguraikan sejarah perjalanan filsafat yang sudah melewati berbagai zaman, mulai dari Era Klasik Yunani-Romawi, Abad Pertengahan yang disebut dengan Era Keagamaan, Era Pencerahan (Renaisans), dan Era Modern. Tentunya dalam buku ini, Bertens mengakui bahwa keterbatasan untuk menjelaskan detail-detail informasi mengenai sejarah, tokoh-tokoh penting beserta dengan pemikirannya yang disajikan dalam buku ini. Namun demikian, Bertens tetap berusaha untuk menyajikan secara lebih sederhana, dengan memberikan garis-garis besarnya saja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertama, pemikiran Klasik Yunani seperti Socrates, Plato, maupun Aristoteles bisa dikatakan sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran filsafat barat. Kedua, pada abad pertengahan akal mengalami perjumpaan dengan teologi di abad pertengahan era ini disebut Era Skolastik. Di masa ini akal digunakan untuk memahami kebenaran agama (kekristenan). Ketiga, sejak berakhir abad pertengahan (abad pencerahan) para filsuf mulai melepaskan filsafat dari teologi. Di Era ini rasio mendapatkan tempat penting bahwa pengetahuan sejati berasal dari rasio manusia. Sementara dipihak yang lain, munculnya filsafat empirisme yaitu pengetahuan berasal dari pengalaman manusia, sebab tanpa pengalaman rasio manusia itu lembaran kertas kosong. Sementara Immanuel Kant mendamaikan filsafat rasio dan filsafat empirisme bahwa ada pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan ada juga pengetahuan yang berasal sebelum pengalaman itu ada. Keempat, pada transisi abad ke-18 menuju 19 filsafat hegel dengan metode dialektika, tesis, antitesis dan sintesis. Filsafat ini ingin menjelaskan sebuah perkembangan dan kemajuan itu berasal dari sebuah proses pertentangan ide dan gagasan. Kelima, masih pada abad yang sama lahirnya Filsafat positivisme yaitu pengetahuan yang benar harus berdasarkan sebuah fakta-fakta yang bisa yang dapat diverifikasi. Sementara itu, filsafat materialisme segala sesuatu diciptakan melalui benda/materi. Aliran filsafat ini menolak Tuhan, sebab keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan. Keenam, filsafat eksistensialisme. Filsafat ini lahir sebagai reaksi atas corak filsafat sebelumnya yang menekankan sistem berpikir yang ketat dan logis dengan tokoh Søren Kierkegaard. Filsafat ini menekankan pada pengalaman dan kebebasan manusia. Pada perkembangan berikutnya, filsafat eksistensialisme tidak jarang beraliran atheis, seperti tokohnya Friedrich Nietzsche. Ateisme ini muncul apabila filsafat eksistensialisme bertemu dengan cara manusia menghayati dan memandang eksistensi agama. 
RESENSI BUKU: ATEISME SIGMUND FREUD KETEGANGAN RADIKAL PSIKOLOGI DAN SPIRITUAL Arthur Aritonang
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i1.130

Abstract

Hans Kung dalam karyanya meneliti pemikiran dari Sigmund Freud tentang agama. Publik mengenal Freud sebagai ahli psikolog abad ke-20. Di era modern Freud mempertanyakan mengapa mayoritas manusia memeluk agama. Pertanyaan ini hendak didekati Freud dengan dengan pendekatan psikologi. Freud melihat agama itu lahir dari sebuah pengalaman ingatan manusia di masa kanak-kanak yang mendapatkan perlindungan dari ayahnya. Ia melihat agama dan Tuhan adalah sebuah ilusi yang diciptakan dalam pikiran manusia untuk kebutuhan manusia seperti rasa aman dan perlindungan sebab eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan pendekatan saintifik. Atas dasar itu, ia berkesimpulan bahwa orang beragama seperti orang yang sakit jiwa (neurosis). Sebagai seorang ateis, Kung memperhatikan bahwa pemikiran Freud dipengaruhi oleh pemikir ateis sebelumnya semisal Karl Marx, Ludwig Feuerbach, dan Friedrich Nietzsche. Selain itu juga, dipengaruhi oleh literatur ilmu sejarah asal-usul agama yang ia pernah pelajari, tentang kisah mitologi Yunani Oedipus maupun totemisme. Menurut Freud, orang beragama seperti demikian: (a) orang yang secara psikologi tidak dewasa atau seperti kekanak-kanakan, karena masih adanya perasaan ketergantungan kepada Tuhan (b) dengan agama manusia berusaha untuk mengatasi rasa bersalah dalam dirinya (c) manusia berusaha mengatasi hal-hal yang terjadi di luar kendali manusia, dan (d) dengan agama manusia mencoba memecahkan teka-teki dunia dan membebaskan manusia dari semua penderitaan. Untuk itu Freud menganjurkan bahwa manusia harus mampu mengatasi perasaan bersalah, manusia harus membebaskan dirinya dari rasa bergantungnya terhadap agama dan Tuhan. Freud juga menaruh harapannya pada sains bukan kepada agama. Kung memiliki pandangan yang berbeda dari Freud. Ia memandang kehadiran agama bagi manusia itu secara positif (1) Menurutnya, agama berasal dari pengalaman individu seseorang bukan hasil dari ilusi pikiran manusia (2) Freud terlalu mereduksi agama sebatas kebutuhan perlindungan maupun keamanan, bagi Kung agama memiliki muatan yang kompleks dan mendalam dimana terdapat dimensi spiritualitas, teologis, histroika, ritual, maupun memiliki dimensi transendetal. Meskipun demikian kung tetap memberikan apresiasi atas pemikiran kritisnya terhadap agama.
Sejarah Dogma Trinitas Arthur Aritonang
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 1 (2025): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i1.44

Abstract