Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pakta Setan dalam Politik Kant tentang Politik dan Moral dalam Negara Modern Hardiman, Fransisco Budi
JURNAL LEDALERO Vol 23, No 2 (2024): Jurnal Ledalero Edisi Desember 2024
Publisher : Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v23i2.598.89-104

Abstract

Salah satu masalah mendasar dalam negara hukum demokratis adalah masalah hubungan antara moral dan politik. Bagi negara modern moral yang mengambilalih politik, seperti dalam radikalisme agama, akan sama berbahayanya dengan politik yang mengambilalih moral, seperti dalam Machiavellianisme. Bagaimana seharusnya hubungan politik dan moral dalam negara modern? Penulis artikel ini menggali jawaban Immanuel Kant dalam karyanya Zum ewigen Frieden (1795) atas pertanyaan itu. Ia mencoba menghubungkan alegori pakta setan dalam buku itu dengan antropologi Kant dan pandangannya tentang hubungan alam dan politik. Dari situ ia mendiskusikan pandangan Kant tentang hubungan politik dan moral dalam negara modern. Ditunjukkannya bahwa Kant menolak baik politisasi moral maupun moralisasi politik, karena baginya politik dan moral merupakan dua hal yang otonom sekaligus berkorelasi dalam negara modern. Keywords:  allegory, politics, nature, morals, law, utility maximiser, publicity
IMPLEMENTASI MANAJEMEN STRATEGIS KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MASA PANDEMI COVID-19 (SEBUAH STUDI KASUS PEMBELAJARAN DARING DI SDK PENABUR KOTA MODERN KOTA TANGERANG) [IMPLEMENTATION OF PRINCIPALS' STRATEGIC MANAGEMENT IN IMPROVING TEACHER PERFORMANCE DURING THE COVID-19 PANDEMIC (A CASE STUDY OF ONLINE LEARNING AT SDK PENABUR KOTA MODERN, TANGERANG] Murwanto, Marthynus Agung; Hardiman, Fransisco Budi
Polyglot Vol 20 No 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v20i2.5180

Abstract

AbstractThe COVID-19 pandemic has impacted all aspects of life. The impact can be categorized as a crisis. Changes that occurred in the education sector as a result of this crisis changed the system and patterns of learning. Learning in the era of the COVID-19 pandemic is carried out by distance learning or online. This study aims to obtain information about the principal's managerial strategy in improving teacher performance, especially in dealing with changes in the way of learning that occur, the implementation and evaluation of the principal's managerial strategy in online learning activities in times of crisis. This research uses a qualitative approach with a case study method. For data collection, researchers used interviews, document studies and observation. The results of the study are 4 principal management which includes: planning, implementation, supervision, organization and the seven principles carried out by school principals in dealing with changes in the implementation of learning in schools due to the crisis, including: 1) calm, 2) confident, 3) communication, 4) cooperation, 5) community, 6) concern, 7) financial ability in dealing with crises at school. By implementing the management strategy of the principal, the teacher's performance can be improved. The approach taken by the principal in overcoming the crisis can help improve performance so that services to students and parents can be provided to the maximum. Bahasa Indonesia AbstrakPandemi Covid-19 berdampak pada semua aspek kehidupan. Dampak yang ditimbulkan dapat dikategorikan dengan krisis. Perubahan yang terjadi pada ranah pendidikan akibat krisis ini mengubah sistem dan pola pembelajaran. Pembelajaran pada era pandemi Covid-19 dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh atau online. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang manajemen strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan kinerja guru khususnya dalam menghadapi perubahan cara pembelajaran yang terjadi, implementasi serta evaluasi manajemen strategi Kepala Sekolah pada kegiatan pembelajaran daring di masa krisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan wawancara, studi dokumen dan observasi. Hasil penelitian yaitu 4 manajemen Kepala Sekolah yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengorganisasian serta tujuh prinsip yang dilakukan kepala sekolah dalam menghadapi perubahan pelaksanaan pembelajaran di sekolah akibat krisis yang terjadi antara lain: 1) tenang, 2) percaya diri, 3) komunikasi, 4) kerjasama, 5) komunitas, 6) kepedulian, 7) kemampuan finansial dalam menghadapi krisis di sekolahan. Dengan menjalankan strategi manajemen dari Kepala Sekolah akhirnya kinerja guru dapat ditingkatkan. Pendekatan yang dilakukan Kepala Sekolah dalam mengatasi krisis dapat membantu meningkatkan kinerja sehingga pelayanan terhadap peserta didik dan orang tua dapat diberikan dengan maksimal.
Evaluation Study of Distance Learning Program for Indonesian Migrant Children Using Context, Input, Process, Product (CIPP) Method in Indonesian School of Kota Kinabalu Asdar, Muh; Hardiman, Fransisco Budi
Jurnal Teknologi Pendidikan : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembelajaran Vol. 8 No. 4 (2023): Oktober
Publisher : UNDIKMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jtp.v8i4.8668

Abstract

The Distance Open Learning (TJJ) program is an education program that offers ease of learning by utilizing information and communication technology (ICT). This TJJ program aims to expand and facilitate access to education for children of Indonesian migrant workers (PMI) in Sabah who are constrained and unable to get education through regular program Indonesian School of Kota Kinabalu. This research aims to evaluate the implementation of the TJJ Program at Indonesian School of Kota Kinabalu (SIKK) using the CIPP (Context, Input, Process, Product) research model. This research uses qualitative and quantitative approaches with an evaluation study method. Respondents in this research amounted to 113 students. The results of the evaluation of the SMA TJJ SIKK program based on the evaluation of a) Context, has the ability to implement programs with goals in line with the vision and mission of the school, but still needs improvement so that the program targets can be achieved as a whole b) Input, needs attention to learning models, costs and other supporters to be better and more appropriate, c) Process, needs improvement in terms of learning technology, interactive materials and communication media used, d) Product, the results of the program are in accordance with the objectives to be achieved, namely increasing the ability and opportunity to access education for PMI children.
Memulihkan Demokrasi yang Rusak? Aktualisasi Konsep "Natalitas" Arendt di Era Digital: Restoring a Broken Democracy? The Relevance of Arendt's Concept of "Natality" in the Digital Age Hardiman, Fransisco Budi
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 22 No. 1 (2026): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v22i1.937

Abstract

Can democracy, which has been damaged in this digital age, still be restored? Hannah Arendt, who experienced democracy being destroyed by the German totalitarian regime, offers a powerful ray of hope for the restoration of democracy. Through phenomenological approach, she views humans as beings capable of making new beginnings, an ability she calls natality. Unlike the bleak picture in The Origins of Totalitarianism—in which Arendt analyzes the collapse of the republic through the destruction of public space—the concept of natality in The Human Condition opens up the possibility for the restoration and reinvigoration of the republic. However, the author argues that Arendt’s republican ideas face challenges in the digital communication era. Therefore, before suggesting ways to restore democracy according to Arendtian persopective, the author first explains the new difficulties facing democracy in the digital era and reinterpret natality in this new context as a practice of resistance to algorithmic determinism. In the digital age, humans do not lose their natality; they can always reopen the possibility of starting something new. Abstrak Apakah demokrasi yang rusak di era digital ini masih dapat dipulihkan? Hannah Arendt yang mengalami demokrasi yang dirusak oleh rezim totaliter Jerman memberi cahaya harapan yang sangat kuat untuk pemulihan demokrasi. Lewat pendekatan fenomenologis ia memandang manusia sebagai makhluk yang mampu membuat permulaan baru, kemampuan yang disebutnya natalitas. Berbeda dari gambaran kelabu dalam Ursprünge totaler Herrschaft (1955) —di mana Arendt menganalisis proses runtuhnya republik melalui penghancuran ruang publik—konsep natalitas dalam Vita activa (1960) membuka kemungkinan bagi pemulihan dan penguatan kembali republik. Namun penulis berpendapat bahwa gagasan republikan Arendt ini mendapat tantangannya di era komunikasi digital, sehingga sebelum menyarankan cara pemulihan demokrasi dalam perspektif Arendtian penulis lebih dahulu menjelaskan kesulitan-kesulitan baru bagi demokrasi di era digital. Penulis akan memaknai kembali natalitas dalam konteks baru ini sebagai praktik resistensi atas determinasi algoritmik. Di era digital manusia tidak kehilangan natalitas; ia selalu dapat membuka kembali kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru. Kata-kata kunci: demokrasi, gerakan legislasi publik, natalitas, pluralitas, republik, komunikasi digital