Mimi Marina Lubis
Faculty Of Dentistry, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi Kelas I dan II skeletal The vertical facial height difference between skeletal class I and II malocclusions Mimi Marina Lubis; Jasver Fulvian
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v5i1.29376

Abstract

ABSTRAK  Pendahuluan: Tinggi vertikal wajah berperan penting untuk menghasilkan bentuk wajah yang seimbang. Bentuk wajah dibagi menjadi hiperdivergen, normodivergen, dan hipodivergen. Tinggi vertikal wajah pada setiap individu dapat dipengaruhi oleh faktor herediter, ras, jenis kelamin, kebiasaan buruk dan maloklusi. Maloklusi dapat menjadi penyebab perubahan dari struktur kraniofasial dan juga dapat mengganggu estetika pada wajah. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi kelas I dan II skeletal dan perbedaan tinggi vertikal wajah pada maloklusi kelas I dan II skeletal pada laki-laki dan perempuan. Metode: Jenis penelitian cross-sectional, populasi penelitian adalah pasien ortodonti yang pernah dirawat di RSGM USU. Besar sampel pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus dua proporsi. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan sebanyak 96 sampel. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien ortodonti yang pernah dirawat di RSGM USU berusia 8-15 tahun, tidak memiliki kebiasaan buruk, tidak pernah mengalami trauma, dan fraktur kraniofasial. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah tidak pernah melakukan perawatan ortodonti. Subjek maloklusi skeletal diperoleh melalui pengukuran berdasarkan metode Steiner, kemudian dilakukan pengukuran tinggi vertikal wajah menggunakan metode Jarabak (S-Go/N-Me)%. Hasil: Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tinggi vertikal wajah antara kelas I dan II skeletal dengan nilai  p=0,005 (p<0,05) dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi vertikal wajah antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan nilai p=0,447 (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan tinggi vertikal wajah pada kelas I dan II skeletal namun tidak terdapat perbedaan tinggi vertikal wajah antara laki-laki dan perempuan. Kata kunci: Tinggi vertikal wajah, metode Jarabak, maloklusi kelas II dan kelas II skeletal, metode Steiner. ABSTRACT  Introduction: The vertical height of the face plays an essential role in producing a balanced face shape. The facial shape is divided into hyperdivergent, normodivergent, and hypodivergent. The vertical facial height in each individual can be influenced by hereditary factors, race, gender, bad habits, and malocclusion. Malocclusion can change the craniofacial structure and also interfere the facial aesthetics. This study was aimed to analyse the difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions and the difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions in males and females. Methods: This study was cross-sectional. The study population was orthodontic patients who had been treated at Universitas Sumatra Utara Dental Hospital. The sample in this study was calculated using the formula of two proportions. The research sample that met the inclusion criteria was 96 samples. In this study, the inclusion criteria were orthodontic patients treated at Universitas Sumatra Utara Dental Hospital aged 8-15 years, with no bad habits, never experienced trauma and craniofacial fractures. The exclusion criteria in this study was never had orthodontic treatment. Skeletal malocclusion of the subjects was measured with the Steiner method, then the vertical height of the face was measured using the Jarabak method (S-Go / N-Me)%. Results: Statistical analysis showed a significant difference in the vertical facial height between skeletal class I and II malocclusions, with p-value=0.005 (p<0.05), and there was no significant difference in the vertical facial height between male and female with p-value=0.447 (p>0.05). Conclusion: There is a difference in the vertical facial height in skeletal class I and II malocclusions. However, there is no difference in vertical facial height between male and female. Keywords: Vertical facial height, Jarabak method, class I and class II skeletal malocclusions, Steiner method.
Perbedaan dimensi saluran udara faring pada berbagai relasi skeletal Differences of dimension of the pharyngeal airway in various skeletal relations Mimi Marina Lubis; Sonia Jayanthi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.678 KB) | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i2.23666

Abstract

Pendahuluan: Faring merupakan otot yang berfungsi sebagai saluran masuk dan keluarnya makanan dan udara. Penilaian terhadap saluran udara faring berhubungan dengan penilaian terhadap fungsi pernafasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa adanya perbedaan dimensi saluran udara faring antara berbagai relasi sagital skeletal pada laki-laki dan perempuan. Metode: Sefalogram lateral dari 100 subjek di bagi menjadi tiga kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari 40 subjek Kelas I, 34 subjek Kelas II, 26 subjek Kelas III) berdasarkan sudut ANB: Kelas I (ANB 0-4), Kelas II (ANB >4°), Kelas III (ANB <0°). Seluruh sefalogram lateral dilakukan tracing dan pengukuran secara manual. Pengukuran dilakukan terhadap lebar nasofaring (PNS-UPW), lebar orofaring (U-MPW), lebar laringofaring (V-LPW). Hasil: Analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada lebar orofaring (U-MPW) di antara relasi sagital skeletal yang berbeda (p<0,05). Perbedaan pada jenis kelamin ditemukan pada lebar laringofaring (V-LPW) (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan dimensi saluran udara faring di antara relasi skeletal dan jenis kelamin yang berbeda.Kata kunci: Dimensi saluran udara faring, sefalometri lateral, relasi sagital skeletal.  ABSTRACTIntroduction: Pharynx is a muscle that functions as an inlet and outlet for food and air. The evaluation of the pharyngeal airway is related to the evaluation of respiratory function. The purpose of this study was to analyse the differences of dimension of the pharyngeal airway in various skeletal relations in men and women. Methods: Lateral cephalograms of 100 subjects divided into three groups (each group consisted of 40 Class I subject, 34 Class II subjects, and 26 Class III subjects) based on the ANB angles: Class I (ANB 0-4), Class II ( ANB >4 °), Class III (ANB <0 °). All lateral cephalograms were manually traced and measured. Measurements were made of nasopharyngeal width (PNS-UPW), oropharyngeal width (U-MPW), and laryngopharyngeal width (V-LPW). Results: Statistical analysis showed a significant difference in the width of the oropharynx (U-MPW) between different skeletal sagittal relations (p < 0.05). Sex differences were found in laryngopharyngeal width (V-LPW) (p < 0.05). Conclusion: There are differences in the dimension of the pharyngeal airway between different skeletal and gender relations.Keywords: Dimension of the pharyngeal airway, lateral cephalometry, sagittal skeletal relations. 
Perbedaan maturasi skeletal ditinjau dari berat badan dan jenis kelamin pada anak usia 8-12 tahunThe difference in skeletal maturation of children aged 8-12 years between underweight and normal Jeffri Vermilion; Mimi Marina Lubis
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i1.29392

Abstract

Pendahuluan: Periode tumbuh kembang pada perawatan pasien ortodonti merupakan hal penting untuk menentukan waktu perawatan maloklusi yang dapat dilihat dari maturasi skeletal. Perawatan kelas II skeletal paling baik dimulai pada masa pubertas atau cervical vertebrae maturation stage (CVMS) 3 atau 4 yaitu sekitar umur 10-12 tahun pada perempuan dan 12-14 pada laki-laki, dan pada kelas III pada masa prepubertal atau CVMS 1 yaitu sekitar 8-9 tahun untuk perempuan dan 8-11 tahun untuk laki-laki. Maturasi skeletal dapat dipengaruhi oleh status gizi seseorang. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan maturasi skeletal pada anak usia 8-12 tahun ditinjau berat badan dan jenis kelamin. Metode: Jenis penelitian observasional analitik yang dilakukan pada 100 pasien ortodonti RSGM USU usia 8-12 tahun terdiri dari 50 pasien berat badan kurang dan 50 pasien berat badan normal. Pasien berat badan kurang dan normal diperoleh melalui pengukuran berdasarkan indeks massa tubuh, kemudian dilakukan pengukuran maturasi skeletal menggunakan metode Bacetti yang terdiri dari CVMS 1-CVMS 6 dengan uji chi-square sebagai data analisis. Hasil: Maturasi skeletal berat badan kurang sebanyak 40% CVMS 1, 30% CVMS 2, 16% CVMS 3, 12% CVMS 4, dan 2% CVMS 5, sedangkan pada berat badan normal 12% CVMS 1, 34% CVMS 2, 26% CVMS 3, 18% CVMS 4, dan 10% CVMS 5. Hasil uji chi square menunjukkan terdapat perbedaan maturasi skeletal dengan berat badan kurang dan normal diperoleh nilai p=0,015; p<0,05 dan menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara maturasi skeletal dengan jenis kelamin dimana p<0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan maturasi skeletal antara berat badan kurang dan normal namun tidak terdapat perbedaan maturasi skeletal pada laki-laki dan perempuan pada anak usia 8-12 tahun.Kata kunci: Maturasi skeletal, indeks massa tubuh, metode Bacetti. ABSTRACTIntroduction: The growth and development period in orthodontic treatment is important in determining the malocclusion treatment timing, which can be seen from skeletal maturation. Class II skeletal treatment is best started at puberty or cervical vertebrae maturation stage (CVMS) 3 or 4, around the age of 10-12 years in women and 12-14 in men. In class III skeletal treatment is best started at the prepubertal period or CVMS 1, namely about 8-9 years for women and 8-11 years for men. Skeletal maturation can be affected by a person's nutritional status. This study was aimed to analyse the differences in skeletal maturation in children aged 8-12 years in terms of body weight and sex. Methods: This type of analytical observational study was conducted on 100 orthodontic patients at Universitas Sumatera Utara Dental Hospital aged 8-12 years consisting of 50 underweight patients and 50 normal-weight patients. The patients' weight was obtained through measurements based on body mass index; then, the skeletal maturation was measured using the Bacetti method consisting of CVMS 1-CVMS 6 with the chi-square test as data analysis. Results: Underweight skeletal maturation was 40% CVMS 1, 30% CVMS 2, 16% CVMS 3, 12% CVMS 4, and 2% CVMS 5, while at normal weight 12% CVMS 1, 34% CVMS 2, 26 % CVMS 3, 18% CVMS 4, and 10% CVMS 5. The chi square test results showed differences in skeletal maturation with underweight and normal body weight, the value of p=0.015; p<0.05 and no significant difference between skeletal maturation and sex where p<0.05. Conclusion: There is a difference in skeletal maturation between underweight and normal body weight, but there is no difference in skeletal maturation between sex in children aged 8-12 years.Keywords: Skeletal maturation, body mass index, Bacetti method.
Hubungan tingkat maturitas vertebra servikalis dengan panjang mandibulaRelationship between cervical vertebrae maturity and mandibular length Tessa Rebecca Sihombing; Mimi Marina Lubis
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i3.28300

Abstract

Pendahuluan: Beberapa tahun terakhir, hubungan antara cervical vertebral maturation (CVM) dengan pertumbuhan mandibula yang dinilai melalui panjang mandibula mendapat perhatian. Pemahaman mengenai pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial pasien sangat penting dalam membantu menegakkan diagnosis, merencanakan perawatan, dan keberhasilan perawatan ortodonti. Waktu perawatan ortodonti berhubungan dengan keparahan dan tipe maloklusi yang dikaitkan dengan tingkat maturitas pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan tingkat maturitas vertebra servikalis dengan panjang mandibula. Metode: Jenis penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian menggunakan 100 foto sefalogram lateral pasien usia 8-18 tahun dengan Klas I skeletal. Kualitas foto sefalogram lateral baik dan berasal dari laboratorium yang sama. Pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis tingkat maturitas vertebra servikalis dan mengukur panjang mandibula pada sefalogram lateral. Uji statistik yang digunakan ANOVA dan Kruskal-Wallis, analisis korelasi menggunakan Pearson. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna pada panjang mandibula laki-laki dan perempuan, dengan nilai p=0,009. Panjang mandibula pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Peningkatan panjang mandibula tertinggi pada laki-laki terjadi dari cervical vertebrae maturation stages (CVMS) 3 ke CVMS 4 sebesar 8,19±5,79 mm dan pada perempuan terjadi dari CVMS 3 ke CVMS 4 sebesar 6,38±4,51 mm. Hubungan yang paling erat adalah pada tahap CVMS 3 ke CVMS 4 sebesar 0,858 yang bersifat kuat. Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat maturitas vertebra servikalis dengan panjang mandibula, pada setiap tingkat maturitas vertebra servikalis terjadi peningkatan panjang mandibula. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mandibula sejalan dengan maturitas vertebra servikalis.Kata kunci: Maturitas, vertebra servikalis, panjang mandibula. ABSTRACTIntroduction: In recent years, the relationship between cervical vertebral maturation (CVM) and mandibular growth assessed by mandibular length has received attention. Understanding the patient’s craniofacial growth and development is very important in helping make the diagnosis, planning treatment, and the success of orthodontic treatment. The orthodontic treatment timing was related to the severity and type of malocclusion associated with the patient’s maturity level. This study was aimed to analyse the relationship between cervical vertebrae maturity level and mandibular length. Methods: This was an analytic study with a cross-sectional design. The study sample used 100 lateral cephalogram photos of patients aged 8-18 years with skeletal Class I. The quality of the lateral cephalogram images was good and came from the same laboratory. Data collection was carried out by analysing the cervical vertebrae’s maturity level and measuring the mandibular length on the lateral cephalogram. The statistical test used was ANOVA and Kruskal-Wallis, and the correlation analysis used was Pearson. Results: There were significant differences in the male and female mandibular length, with the p-value = 0.009. The mandibular length in male was higher than in the female. The highest increase in the male mandibular length occurred from cervical vertebrae maturation stages (CVMS) 3 to CVMS 4 by 8.19 ± 5.79 mm, and in women occurred from CVMS 3 to CVMS 4 by 6.38 ± 4.51 mm. The closest relationship was at the CVMS 3 to CVMS 4 stage of 0.858, which was categorised as strong. Conclusion: There is a relationship between the maturity level of the cervical vertebrae and the mandibular length. At each maturity level of the cervical vertebrae, there is an increase in the mandibular length. These results suggest that the mandibular growth is in line with the maturity of the cervical vertebrae.Keywords: Maturity, cervical vertebrae, mandibular length.
Perbedaan ukuran sinus maksilaris pada maloklusi kelas I, II, dan III skeletal ditinjau dari radiografi sefalometriThe difference in the maxillary sinus size of skeletal class I, II, and III malocclusions in terms of cephalometric radiographs Brandon Thamran; Mimi Marina Lubis
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i1.30240

Abstract

Pendahuluan: Ukuran sinus maksilaris dapat dipengaruhi maloklusi skeletal, oleh karena itu pengetahuan dalam perkembangan dan ukuran sinus maksilaris penting dalam diagnosa dan menentukan rencana perawatan kasus maloklusi. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan rerata ukuran sinus maksilaris pada maloklusi kelas I, II, dan III skeletal pada laki-laki dan perempuan. Metode: Jenis penelitian Penelitian deskriptif analitik dilakukan pada 96 pasien RSGM USU usia 18-35 tahun dengan Teknik purposive sampling, terdiri dari 27 relasi rahang Kelas I, 31 Kelas II dan 22 Kelas III. Subjek  diperoleh melalui pengukuran metode Steiner. Hasil tracing dipindahkan melalui scanner dan  pengukuran luas Sinus Maksilaris dengan program AutoCAD. Hasil: Rerata sinus maksilaris Kelas I skeletal adalah 1492,18268,44 mm2  untuk laki-laki dan 1614,80259,13 mm2 untuk perempuan p=0,275, maka tidak ada perbedaan signifikan antara rerata sinus maksilaris Kelas I skeletal pada laki-laki dan perempuan, Kelas II skeletal adalah 1879,75 mm2 untuk laki-laki dan 1544,41239,47 mm2 untuk perempuan diperoleh p=0,016, maka terdapat perbedaan signifikan antara rerata  sinus maksilaris Kelas II skeletal pada laki-laki dan perempuan, dan Kelas III skeletal adalah 1619,36 mm2 untuk laki-laki dan 1489,92 mm2 untuk perempuan diperoleh p=0,239, maka tidak ada perbedaan signifikan antara rerata  sinus maksilaris  Kelas III skeletal pada laki-laki dan perempuan. Rerata ukuran antar kelompok didapatkan 1572,93 263,72 mm2  untuk Kelas I skeletal, 1609,32 mm2 untuk Kelas II skeletal, dan 1531,11 mm2 untuk Kelas III skeletal dengan p=0,600, Hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan rerata  sinus maksilaris pada maloklusi Kelas I, Kelas II dan Kelas III skeletal. Simpulan: Tidak ada perbedaan pada rerata ukuran sinus maksilaris pada maloklusi Kelas I, Kelas II dan Kelas III skeletal.Kata kunci: Ukuran sinus maksilaris, maloklusi skeletal, analisa Steiner, radiogram sefalometri. ABSTRACTIntroduction: Maxillary sinus size can be affected by skeletal malocclusion. Therefore knowledge of maxillary sinus development and size is essential in diagnosing and determining the treatment plan for malocclusion cases. This study was aimed to analyse the mean difference in maxillary sinus size in skeletal class I, II, and III malocclusions in males and females. Methods: This type of study was a descriptive-analytic study conducted on 96 patients at Universitas Sumatera Utara Dental Hospital aged 18-35 years with a purposive sampling technique, consisting of 27 Class I, 31 Class II and 22 Class III jaw relations. Subjects were obtained by measuring the Steiner method. The tracing results were transferred through a scanner and measuring the maxillary sinus area using the AutoCAD program. Results: The mean skeletal Class I maxillary sinus was 1492.18268.44 mm2 for men and 1614,80259.13 mm2 for women p = 0.275, so there was no significant difference between the mean skeletal Class I maxillary sinus in males and females. Class II skeletal is 1879.75 mm2 for men and 1544.41239.47 mm2 for women obtained p = 0.016. Hence, there is a significant difference between the mean skeletal Class II maxillary sinus in males and females, and skeletal Class III is 1619.36 mm2 for men and 1489.92 mm2 for women obtained p = 0.239, so there was no significant difference between the mean skeletal Class III maxillary sinus in males and females. The mean size between groups was 1572.93 263.72 mm2 for skeletal Class I, 1609.32 mm2 for skeletal Class II, and 1531.11 mm2 for skeletal Class III with p = 0.600. skeletal Class I, Class II and Class III malocclusions. Conclusion: There was no difference in mean maxillary sinus size in skeletal Class I, Class II and Class III malocclusions.Keywords: Maxillary sinus size, skeletal malocclusion, Steiner analysis, cephalometric radiograph.
Labial and palatal alveolar bone changes during maxillary incisor retraction at the Universitas Sumatera Utara Dental Hospital Suci Purnama Sari; Mimi Marina Lubis; Muslim Yusuf
Dental Journal Vol. 55 No. 3 (2022): September 2022
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga https://fkg.unair.ac.id/en

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v55.i3.p148-153

Abstract

Background: The fundamental concept of tooth movement during orthodontic treatment is the occurrence of bone remodelling accompanied by tooth movement in equal proportions. The thickness of the alveolar bone, which supports incisors, is important in estimating the direction of tooth movement. Purpose: The study aimed to measure labial and palatal alveolar bone thickness changes after maxillary incisor retraction using lateral cephalograms. Methods: Cephalograms of 40 patients (18.58 ± 4.2 years) with skeletal Class I bimaxillary protrusion after maxillary first premolar extraction for insisivus retraction had been taken before (T0) and after (T1) orthodontic treatment. Changes in alveolar bone thickness were measured in linear and angular directions and then analysed with Spearman correlative analysis. Then the samples were separated into two groups based on the type of tooth movement (tipping and torque), and then the data were analysed using Wilcoxon analysis to see differences in the bone thickness (p<0.05). Results: There was a significant difference in the apical palate (p<0.05) and a relationship between retraction and alveolar bone thickness in the midroot area. In the angular direction, there was no significant difference and relationship; however, there was a significant difference in the labial crestal in the tipping group. In the torque group, the difference in bone thickness occurred in the crestal and apical palatal areas. Conclusion: The retraction and the type of tooth movement difference influence the alveolar bone thickness.
Perbedaan panjang palatum lunak, kedalaman nasofaring, dan Need’s ratio pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal Nadya Okta Mulyani; Mimi Marina Lubis
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i1.38911

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kasus celah palatum, pembesaran adenoid, Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS), serta maloklusi skeletal kraniofasial sering disertai disfungsi palatum lunak. Penelitian menunjukkan panjang palatum lunak pada laki-laki secara signifikan lebih besar dibanding perempuan, namun tidak ada perbedaan yang signifikan dari kedalaman nasofaring serta Need’s ratio antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan panjang palatum lunak dan kedalaman nasofaring (Need’s ratio) pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal, serta perbandingannya antara laki-laki dan perempuan. Metode: Penelitian observasional analitik cross sectional dan menggunakan uji hipotesis dengan sampel sefalogram lateral pasien pada usia 16-40 tahun. Subjek maloklusi skeletal diperoleh melalui pengukuran berdasarkan metode Steiner, kemudian dilakukan pengukuran panjang palatum lunak dan kedalaman nasofaring, serta perhitungan nilai Need’s ratio menggunakan aplikasi Corel-Draw X8. Hasil: Tipe palatum lunak yang paling umum ditemukan pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal adalah tipe Leaf shaped. Analisis data dengan uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada panjang palatum lunak (p=0,054), kedalaman nasofaring (p=0,617), dan Need’s ratio (p=0,229) antara maloklusi klas I, II, dan III skeletal. Hasil uji t-independent menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada panjang palatum lunak antara laki-laki dan perempuan (p=0,002), akan tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedalaman nasofaring (p=0,179) dan Need’s ratio (p=0,130) antara laki-laki dan perempuan. Simpulan: Panjang palatum lunak, kedalaman nasofaring, dan Need’s ratio tidak berbeda pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal, Sedangkan antara laki-laki dan perempuan yang berbeda hanya panjang palatum lunak.Kata Kunci : gigi artifisial akrilik; ekstrak kulit manggis; stabilitas warna.Kata Kunci : palatum lunak, nasofaring, Need’s ratio, maloklusiThe differences of soft palate length, nasopharyngeal depth, and need’s ratio in class I, II, and III skeletal malocclusion  ABSTRACTIntroduction: Cases of cleft palate, adenoid enlargement, Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS), and craniofacial skeletal malocclusion often accompanied by soft palate dysfunction. Research found the soft palate length in men is significantly higher than women. No significant differences were found in nasopharyngeal depth and Need’s ratio between men and women. The aim of this study is to determine the differences of soft palate length, nasopharyngeal depth, and Need’s ratio in class I, II, and III skeletal malocclusion and its differences between men and women. Method: This research was analytic observational with cross-sectional method using patient’s lateral cephalograms between 16 to 40 years old. The sample in lateral cephalogram were obtained and classified through measurement based on Steiner method. The calculation were determined using Corel-Draw X8 software.  Result: The most common type of soft palate found was leaf shaped type. Data analysis using ANOVA test showed there was no significant differences in the length of soft palate (p=0,054), the depth of nasopharynx (p=0,617), and the Need’s ratio (p=0,229) between class I, II, and III skeletal malocclusion. The result of independent T-test showed there was a significant difference in the length of soft palate between men and women (p=0,002). However, there was no significant difference in nasopharyngeal depth (p=0,179) and Need’s ratio (p=0,130) between men and women. Conclusion: Soft palate length, nasopharyngeal depth, and Need’s ratio had no significant difference in class I, II and III skeletal malocclusion, but there was a significant difference in soft palate length between men and women.Keywords: soft palate, nasopharynx, Need’s ratio, malocclusion