Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pengaruh Modifikasi Crankshaft Terhadap Daya Efektif pada Motor 160cc Muhamad Zein; . Najamudin; Komang Sujana
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 1 (2010): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4042.559 KB)

Abstract

-
PENGARUH TEKANAN MASUK DAN TEKANAN KELUAR TURBIN TERHADAP DAYA PENGGGERAK GENERATOR Najamudin Najamudin
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 6, No 2 (2019): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.641 KB)

Abstract

The steam turbine is a prime mover that converts the vapor potential energy to kinetic energy and is subsequently converted to mechanical energy in the form of turbine shaft rotation. Turbine shaft, directly connected with the actuated mechanism, steam turbine can be used in various industrial fields or power plants. Generally, the steam turbine consists of a stationary part called a stator or turbine housing and a rotating part called a rotor. In the stator there is a nozzle, where the steam is exposed inside so that its speed rises. While on the rotor there are moving blades and discs that are the hilt of the moving blade. Because the shape of the motion blade is made curved in such a way that the change in vapor momentum flowing between the blades will cause a force acting on the blade curve so that it is pushed. This drive is subsequently transmitted by the disc and resulted in a spin on the turbine shaft. Power plants in Indonesia use generators to generate electricity. For that required the engine as a prime mover one of which is a steam turbine, to meet the above needs, then the problem is how to analyze the power generated steam turbine based on the influence of inlet pressure and turbine outlet pressure to generator generator power to fit Planning specifications of the turbine steam that can be used as a driving generator in a steam power plant.
Analisis Sifat Mekanis Pada Logam Dengan Metode Pelapisan Vernikel-Chrome Yang Dipengaruhi Waktu Pelapisan . NAJAMUDIN; Zein Muhamad; . Kunarto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 7, No 1 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1410.351 KB)

Abstract

Elektroplating merupakan suatu proses pengendapan zat ( ion-ion logam) pada suatu logam dasar ( katoda ) melalui proses elektrolisa. Proses tersebut dilakukan setelah benda kerja mencapai bentuk akhir atau setelah proses pengerjaan mesin serta penghalusan terhadap permukaan benda kerja yang dilakukan.Material baja yang dilapisi vernikel-chrome dengan waktu pelapisan 90 menit dengan arus 3 ampere memiliki nilai ketebalan lapisan yang sangat optimal yaitu dengan nilai ketebalan sebesar 0,926 , sedangkan waktu pelapisan 30 menit dengan arus yang sama memiliki nilai ketebalan lapisan yang sangat rendah yaitu dengan nilai ketebalan sebesar 0,747 .Waktu pelapisan sangat mempengaruhi harga kekerasan brinell (HB) seperti pada proses waktu pelapisan 90 menit dengan arus 3 ampere memiliki harga kekerasan terendah yaitu dengan harga kekerasan sebesar 128,7 kgf, namun pada material baja yang tidak dilakukan pelapisan memiliki harga kekerasan yang optimal yaitu dengan harga sebesar 138,6 kgf.Didalam material baja ini tidak hanya terdapat unsur kandungan baja dan karbon saja tetapi banyak unsur tambahan lainnya seperti almunium (Al), nikel (Ni), silikon (Si), mangan (Mn), khrom (Cr), dan lain-lain.
Peningkatan Kualitas Kekuatan Bahan Plat Dinding Corong Tuang (Hopper) Melalui Proses Chromizing Untuk Meningkatkan Jumlah Produksi Batu Bara . Najamudin; Bambang Pratowo
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 1 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.433 KB)

Abstract

Untuk meningkatkan Kualitas Kekuatan Bahan (kekerasan dan ketahanan aus permukaan Plat Baja Lapisan Dinding Corong Tuang (Hopper) Pada Sistem Produksi Batu Bara, yaitu dengan cara Proses Perlakuan Panas Chromizing  sehingga terjadi difusi atom-atom Chrom yang berlangsung pada temperatur tinggi. Proses perlakuan panas Chromizing akan dilakukan pada temperatur pemanasan 900oC, 1000oC dan 1100o C, dengan waktu penahanan selama 4, 5 dan 6 jam, dengan campuran serbuk terdiri dari Chromium    (Cr 2O3) dan Garam Halida (NH4Cl), Sedangkan pendinginan dilakukan diudara terbuka.Dari proses ini akibatnya akan dihasilkan permukaan yang keras dan tahan aus sehingga dapat memperpanjang umur Plat Baja tersebut. Pada umumnya Plat yang digunakan untuk corong tuang adalah plat baja hardox yang mempunyai kekerasan rata-rata 400 HB, namun akibat benturan dan gesekan antara plat dan batu bara maka plat baja tersebut cepat sekali mengalami keausan dan harus diganti plat yang baru sehingga memerlukan biaya penggantian dan perawatan yang besar, maka dengan peningkatan kekerasan tersebut hal ini dapat memperpanjang umur plat dan menurunkan biaya produksi dan biaya perawatan, serta dapat meningkatkan jumlah produksi batu bara.
Analisis Sistem Alat Uji Gaya Gesek Oli . Najamudin; Indra Surya; Dian Sutiantoro
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 1 (2010): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1448.767 KB)

Abstract

-
Pengaruh Perlakuan Quenching-Tempering Terhadap Kekuatan Impak Pada Baja Karbon Sedang Muhamad Yunus; . Najamudin; . Kurniadi
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 1 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.668 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pengaruh perlakuan panas terhadap kekuatan impak logam baja karbon sedang. Proses perlakuan panas yang diterapkan pada penelitian ini yaitu proses quenching dan tempering, dimana pada proses quenching pemanasan terhadap spesimen dilakukan hingga mencapai temperatur austenit yaitu 910°C yang kemudian ditahan selama 30 menit. Setelah itu spesimen tersebut didinginkan secara cepat dengan menggunakan media oil quenching. Selanjutnya, spesimen dipanaskan kembali (tempering) hingga mencapai temperatur 300°C, 400°C, 500°C, 600°C. Yang kemudian pada masing-masing temperatur tempering tersebut ditahan selama 60 menit. Setelah itu spesimen tersebut didinginkan pada temperatur ruangan.       Pada spesimen-spesimen yang telah mengalami proses perlakuan panas tersebut dilakukan pengujian impak. Kekuatan impak rata-rata baja karbon yang tidak mengalami proses perlakuan panas adalah 0,166 J/mm2. Pada baja yang hanya mengalami proses quenching kekuatan impak rata-rata yang dimiliki adalah 0,142 J/mm2. Pada baja karbon sedang yang mengalami proses tempering 300°C adalah 0,422 J/mm2. Pada tempering 400°C adalah 0,525 J/mm2. Pada tempering 500°C adalah 0.604 J/mm2. Pada tempering 600°C adalah 1,249 J/mm2 dengan masing-masing waktu penahanan selama 60 menit. Dari hasil pengujian tersebut, baja karbon yang memiliki kekuatan impak tertinggi memiliki sifat mekanik ulet, sedangkan baja karbon yang memiliki kekuatan impak terrendah memiliki sifat mekanik getas.
ANALISA PENGARUH KAMPUH LAS BERBAHAN ALUMINIUM TERHADAP SIFAT MEKANIS PADA LAS ASETILIN Najamudin Najamudin; Frendiantoro Frendiantoro
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 5, No 1 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.867 KB)

Abstract

Telah dilakukan proses pengujian dengan meterial alumunium yang dilas dengan beda kampuh las yaitu X, V, dan I. Dimana pengujian ini membandingkan hasil lasan yang memakai kampuh yang berbeda yang mengakibatkan mempengaruhi sifat-sifat mekanik dari alumunium tersebut. Pengelasan (Welding) adalah salah satu teknik penyambungan  logam  dengan  cara  mencairkan  sebagian logam induk dan logam pengisi. Dari definisi tersebut terdapat 2 kata kunci untuk menjelaskan definisi pengelasan yaitu mencairkan sebagian  Iogam dan logam pengisi. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan hasil pengelasan beda kampuh las pada alumunium terhadap ketangguhan uji impact (carpy) dan struktur mikro. Nilai uji impact dan struktur mikro rata-rata spesimen adalah :BM 2,2472 joul/mm2, Nilai uji impact rata-rata spesimen dengan kampuh V 2,6300 joul/mm2, Nilai uji impact rata-rata spesimen dengan kampuh X 2,6449 joul/mm2, Nilai uji impact rata-rata spesimen dengan kampuh I 2,8400 joul/mm2, Dan hasil analisis struktur mikro yang didapat Al (berwarna putih ), Mg (berwarna keabu-abuan), Si (bewarna abu-abu) dan Cu (berwarna abu-abu agak kemerahan) dari setiap speseimen Base Material, has dan las pada kampuh V, X dan I.
Modification Effect of Volume Cylinder Four Stroke Engine to Effective Power Najamudin NAJAMUDIN
International Conference on Engineering and Technology Development (ICETD) 2014: 3rd ICETD 2014
Publisher : Bandar Lampung University (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.793 KB)

Abstract

To improve the ability, power changes (performance) of a motor used for racing most mechanics do modifications to the cylinder volume. When the motor cylinder enlarged, the enlarged combustion volume, so that automatically will increase the compression ratio and compression pressure effect on the combustion pressure rise as well, in order to obtain great power. Bore up is a way to increase the volume of the contents of the cylinder, using a piston that has a larger diameter than the standard. So that the cylinder and piston are enlarged, the fuel and air for combustion in the engine can be more obtainable with high compression ratio that produces greater energy (torque) and a higher engine speed (rpm). In the discussion of this study the author discusses the influence of bore up the engine on the motorcycle supra x-cylinder 125 cc of cylinder diameter 52.4 mm to 54 mm, the things that need to be reviewed in this discussion include: Changes in power (performance), changes in torque before and after the engine in the bore up.
CARA MENENTUKAN DAYA YANG DIGUNAKAN AIR CONDITIONING (AC) UNTUK KENDARAAN Najamudin Najamudin
SINTEK JURNAL: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol 12, No 1 (2018): SINTEK JURNAL
Publisher : University of Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vital transportation facilities for the community to facilitate and accelerate human movement from bed more quickly, safely and comfortably. Buses with large capacity with passengers over 50 people operating between cities or between provinces require specific performance in order to provide security and comfort for passengers on the way. Bus transports between cities and between provinces are equipped with air conditioning  system (AC) and some are not. In Buses that use air refreshments there is also no use of the standard main components installed from the manufacturer; such as compressors, condensers, expansion valves and others. Compressors in the air refreshing system can be analogous to the heart of the human body, which serves to suck and pump coolant (refrigerant) that circulates in the system. In this study found that there are several buses that compressor is not a standard compressor from the manufacturer. For that purpose, calculations are mainly carried out on cooling loads, achievement coefficients and compressor power.