Lastry Monika
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kedaulatan Negara dan Subjek Homo Sacer dalam Film The Pianist Berdasarkan Perspektif Giorgio Agamben Lastry Monika
Wanastra: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2020): September
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/w.v12i2.8786

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis film The Pianist yang disutradarai oleh Roman Polanski pada tahun 2002. Analisis tersebut dilakukan berdasarkan sudut pandang filsafat politik yang dikemukakan oleh Giorgio Agamben. Analisis dalam penelitian ini ialah mengenai kondisi sosial ketika terjadinya invasi Polandia oleh Jerman Nazi yang totaliter pada tahun 1939 yang tervisualisasi dalam film The Pianist. Kondisi sosial yang dimaksud di antaranya berupa HAM masyarakat sipil yang menjadi suatu problematik bagi Polandia jika dilindungi atau tidak dilindungi dan kelompok-kelompok yang di-homo sacer-kan ketika terjadinya invasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Polandia berada di luar hukum atau menangguhkan hukum untuk melindungi dirinya dari invasi Jerman Nazi. Oleh sebab itu, Polandia tidak memenuhi kewenangannya untuk memberi keamanan, keadilan, dan pelayanan sosial, terutama terhadap kelompok yang di-homo sacer-kan. Kelompok-kelompok yang di-homo sacer-kan dalam hal ini ialah Yahudi Polandia. Kelompok Yahudi Polandia mengalami penangguhan dan diskriminasi terhadap hak kewarganegaraan mereka. Penangguhan dan diskriminasi tersebut merupakan dampak dari kewenangan Polandia yang berada di luar hukum untuk melindungi kedaulatan negara atas invasi Jerman Nazi.
Sabai Nan Aluih: dari Kaba Klasik ke Komik Lastry Monika
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.2843

Abstract

The discussion in this paper aims to discuss Sabai Nan Aluih which was originally a classic work which was transformed into a new work in the form of a comic. It happened as a reception of a literary form. Both works are analyzed and interpreted by looking at the relationship between works related to the horizon of hope as stated by Hans Robert Jauss. Based on this theory, the presence (those who are present) and the absence (those who are not present) are stated as a form of respect for the two works that are used as object materials. The results of the analysis show that there are a number of presences and absences between the two works. The presence and absence of the two works can be seen based on the plot, setting of the story, and the choice of words used. The number of attendances and absences occurs because or is intended to be adjusted to the different times of the presence of the two works. However, these two things do not change the main idea of the story of Sabai Nan Aluih. AbstrakPembahasan dalam tulisan ini bertujuan untuk membahas Sabai Nan Aluih yang pada awalnya merupakan karya klasik bertranformasi menjadi karya baru berupa komik. Hal itu terjadi sebagai bentuk resepsi sastra. Kedua karya tersebut dianalisis dan ditafsir dengan melihat hubungan antarkarya yang berkaitan dengan horizon harapan sesuai yang dikemukakan oleh Hans Robert Jauss. Berdasarkan teori tersebut dikemukakan presence (yang hadir) dan absence (yang tak hadir) sebagai wujud dari respesi atas kedua karya yang dijadikan sebagai objek material. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat sejumlah presence dan absence antarkedua karya. Presence dan absence yang terdapat dalam kedua karya dapat dilihat berdasarkan alur, latar cerita, dan pilihan kata yang digunakan. Adanya sejumlah presence dan absence terjadi dikarenakan atau bertujuan untuk disesuaikan dengan perbedaan zaman hadirnya kedua karya tersebut. Akan tetapi, kedua hal itu secara keseluruhan tidak mengubah gagasan utama dari cerita Sabai Nan Aluih.
Resistansi dan Alternatif dari Singularitas terhadap Empire dalam Film Captain Fantastic Lastry Monika
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3479

Abstract

This paper aims to discuss the issues of singularity, resistance, and alternatives chosen by the subject to fight against the empire contained in Matt Ross's Captain Fantastic movie. The analysis was carried out using the visual analysis method through the stages of taking notes and selecting dialogues between the characters to then be elaborated through literature study. Based on the use of Antonio Negri's perspective, the results of the analysis found that there was rejection of the homogeneity and capitalistic global order formed by the empire. This then gave rise to a singularity with independent human subjectivity. The subjectivity begins with the family structure to resist the all-materialistic and consumerismstic life order. Resistance takes place through a pattern of life and education in the form of a combination of the traditional and the modern as an alternative to dealing with empire. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk membahas mengenai persoalan singularitas, resistansi, dan alternatif yang dipilih oleh subjek untuk melakukan perlawanan terhadap empire yang terdapat dalam film Captain Fantastic garapan Matt Ross. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisis visual melalui tahapan mencatat serta menyeleksi dialog antartokoh untuk kemudian dielaborasi melalui studi kepustakaan. Berdasarkan penggunaan perspektif Antonio Negri, hasil analisis menemukan bahwa terdapat penolakan terhadap homogenitas dan tatanan global yang kapitalistik bentukan empire. Hal itu kemudian memunculkan singularitas dengan subjektivitas manusia yang merdeka. Subjektivitas tersebut diawali dari tatanan keluarga untuk melakukan resistansi terhadap tatanan kehidupan yang serba materielistisk dan konsumerismetik. Resistansi berlangsung melalui pola kehidupan dan pendidikan yang berupa perpaduan antara yang tradisional dengan yang modern sebagai alternatif untuk menghadapi empire.