Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Makna Simbolik yang Berwujud Materil dan Non Materil dalam Tradisi Karia pada Masyarakat Muna Sitti Hermina
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 4 No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2, Juni 2015
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.802 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v4i2.152

Abstract

Karia tradition is regarded as the most important ceremony for girls in Muna when entering adulthood. In the implementation of this Karia tradition has many symbols in it that implies. However, the phenomenon is happening now, most people in Muna especially young women do not know the meaning contained in the Karia tradition. Therefore, this study aims to answer two problems, namely stages in Karia tradition and symbolic meaning tangible material and non-material in stages Karia tradition in society Muna. This research uses qualitative descriptive method. Data collected by participant observation, in-depth interviews with key informants and informant principal as well as through the documents related with the tradition of Karia. Data were analyzed descriptively qualitative comprising data reduction, data presentation and conclusion. The results showed that the stages in the process of Karia tradition in Muna society consists of three stages, namely, the preparation phase, the implementation phase, and the final stage. In the preparation phase, the committee has been formed to prepare all needs, including oe kaalano sokaghombo, kaalano bhansano bhea. During the implementation phase, there are several processions, namely: kafoluku, kaghombo, kabhansule, kabhalengka, kabhindu, kafosampu, katandano wite, tarilinda, kabasano dhoa Salama, and kahapui and final stage tradi tion carried kafolantono Karia bhansa / kaghorono bhansa in the river. The symbols contained in Karia procession is divided into two, namely the form of material and non-material form. Meaning contained in the tradition of Karia both tangible material and non-material is purifying oneself for women and as one of the media in educating women associated with domestic life, community and country. Keywords: meaning, symbol, karia tradition in society Muna
EKSISTENSI MASYARAKAT ADAT MORONENE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI Sitti Hermina; Ambo Upe
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 6 No 3 (2017): Volume 6 Nomor 3, Oktober 2017
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.531 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v6i3.492

Abstract

Moronene is one of the ethnic groups in Southeast Sulawesi. It has a culture and a variety of traditional knowledge that is used in addressing and resolving life problems, especially in order to fulfill their daily needs. This study aims to describe the existence of the Moronene Indigenous People in Rawa Aopa Watumohai National Park area. Therefore, ethnographic studies are used as a methodology to describe the complexity of the Moronene Indigenous Peoples lives in the TNRAW area which includes historical reflection, village status, demographics and kinship systems, and their socio-cultural structure. The results showed that the existence of the Moronene in Huka'ea-La'ea before the Indonesian government established the area as a conservation area even before Indonesia's independence. Moronene has long lived their lives with traditional knowledge systems, by always making nature the source of life. The existence of the Moronene Indigenous People in the TNRAW area to date is due to the existence of a system of rules for managing forests consisting of Totongano Wonua, Totongano Inalahi, Totongano Lombo, and Totongano Kadadi.
MAKNA SIMBOLIK DALAM PERKAWINAN ANGKA MATA PADA MASYARAKAT MUNA Sitti Hermina
Journal Idea of History Vol 1 No 1 (2018): Volume 1 Nomor 1, Januari - Juni 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v1i1.420

Abstract

Masyarakat Muna umumnya taat dan patuh pada aturan-aturan adat yang telah ditetapkan oleh para sesepuh sehingga terwujud suatu kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Namun, sebagian besar masyarakat yang terlibat dalam proses perkawinan angka mata tidak memahami tentang makna simbolik yang ada dalam proses perkawinan tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam makna simbolik dalam proses perkawinan angka mata pada masyarakat Muna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowballing. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan serta wawancara mendalam dengan informan kunci dan informan pokok. Data dianalis secara deskriptif kualitataif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan dalam perkawinan angka mata pada masyarakat Muna dimulai dengan dekamata, dempali-mpali, defenagho tungguno karete, kafeena atau kabhentano pongke, kataburi, paniwi, sara-sara atau adhati bhalano, lolino ghawi, kaokanuha, kafoatoha, matano kenta, katangka/ijab qabul, dhoa salama, kafelesau, kafosulino katulu. Makna simbolik yang terkandung dalam perkawinan angka mata tersebut adalah makna religius, tanggung jawab, kejujuran, keindahan, sikap saling menghormati dan menghargai antara pihak perempuan dan pihak laki-laki. Kata kunci : Makna simbolik, perkawinan angka mata, dan masyarakat Muna
Ritual Kaghotino Buku Pada Masyarakat Desa Fongkinawa Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna Mira Kasmawati; Wa Kuasa Baka; Agus Rihu; Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/5stey008

Abstract

Ritual kaghotino buku merupakan ungkapan rasa syukur keluarga kepada Tuhan yang diyakini ikut mengatur kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan, fungsi, dan makna simbolik dari ritual kaghotino buku  di Desa Fongkaniwa  Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritual Kaghotino Buku terdiri atas tahapan persiapan dan pelaksanaan ritual. Ritual ini memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi sosial-psikologi, fungsi personal, fungsi kesehatan, dan fungsi religi.Fungsi sosial-psikologi mencerminkan keyakinan masyarakat sebagai bentuk reaksi positif terhadap asimilasi antara pikiran dan kepercayaan tradisional. Ritual ini berperan sebagai sarana permohonan dukungan spiritual melalui hubungan batin antara anggota masyarakat. Fungsi personal bersifat individual, yang ditujukan untuk kesejahteraan pribadi pelaksana ritual. Fungsi kesehatan tercermin dalam penyajian makanan bergizi seperti daging ayam kampung, telur rebus, nasi, dan pisang, yang menjadi bagian penting dari ritual sebagai media pemenuhan kebutuhan biologis.Fungsi religi menjadi dasar utama pembentukan budaya, termasuk dalam pelaksanaan ritual Kaghotino Buku di Desa Fongkaniwa. Ritual ini berakar pada ajaran Islam dan mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai religi diwujudkan melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam mantra, sebagai bentuk doa, syukur, serta harapan akan kekuatan, kesehatan, dan kelancaran rezeki. Makna simbolik dalam Haroa ritual Kaghotino Buku , berupa nasi, ayam, telur, pisang, dan air minum, dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan atas kekuatan fisik untuk keselamatan dan kemudahan dalam memperoleh rezeki.Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai identitas budaya dan spiritual masyarakat Muna