Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JPSB

Makna dan Nilai Pendidikan pada Lukisan Dinding Gua Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna: The Meaning and Educational Values of the Liang Kabori Cave Wall Paintings in Lohia District, Muna Regency La Ode Sabarudin; La Niampe; Irianto Ibrahim
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 10 No. 1 (2025): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya)
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66225/xxrh3914

Abstract

Lukisan dinding Gua Liang Kabori di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, merupakan tinggalan seni cadas yang memuat jejak visual kehidupan masyarakat masa lalu. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pelestarian dan pemaknaan kembali lukisan gua sebagai sumber pengetahuan lokal, pendidikan seni, dan penguatan literasi warisan budaya. Penelitian bertujuan mendeskripsikan motif lukisan, menafsirkan makna simboliknya, serta mengidentifikasi nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce melalui relasi representamen, objek, dan interpretant. Data diperoleh melalui observasi langsung pada situs, dokumentasi foto, wawancara dengan juru pelihara, tokoh masyarakat, dan praktisi budaya, serta studi pustaka terhadap kajian seni cadas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan di Gua Liang Kabori dapat dikelompokkan ke dalam motif manusia, hewan, benda budaya, geometris, dan abstrak. Makna yang muncul meliputi pertahanan diri, penaklukan dan pemanfaatan hewan, kepercayaan terhadap kekuatan leluhur, pencatatan pengetahuan tentang hewan, fungsi transportasi dan migrasi, serta petunjuk simbolik terhadap lingkungan sosial-budaya. Nilai pendidikan yang teridentifikasi meliputi nilai religius, komunikasi, sosial, budaya, dan pariwisata. Kesimpulannya, lukisan dinding Gua Liang Kabori tidak hanya menjadi bukti visual prasejarah, tetapi juga sumber pendidikan kontekstual yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran seni, sejarah, budaya lokal, dan pelestarian cagar budaya. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan pembacaan semiotik dan pedagogis terhadap seni cadas Muna sebagai dasar pengembangan bahan ajar berbasis warisan budaya lokal.
Pola gerak tari Linda dalam pelaksanaan Karia pada masyarakat Muna di Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat: Movement patterns of Linda dance in Karia ceremony among the Muna community in Wadaga District, West Muna Regency Muliani; La Niampe
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 10 No. 2 (2025): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya)
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66225/8xz7s092

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pola gerak, filosofi ritual, dan pewarisan tari Linda dalam pelaksanaan Karia pada masyarakat Muna di Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh mulai berkurangnya penguasaan masyarakat terhadap urutan gerak tari Linda dan perlunya pendokumentasian tari tersebut sebagai bagian integral dari ritus Karia. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan orientasi studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pelaku tari, dan masyarakat, serta dokumentasi praktik Karia dan unsur pertunjukan tari Linda. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan simpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karia dilaksanakan melalui tahapan kafoluku, kabhansule, kalempagi, kafosampu, katandano wite, kabasano dhoa, pertunjukan Linda, kahapui, dan kaghorono bhansa. Tari Linda memiliki struktur gerak awal, tengah, dan akhir. Kosakata gerak lengkapnya meliputi memegang sapu tangan, berputar, mengayunkan selendang, mengangkat selendang ke belakang, gerakan burung, mengikat selendang di pinggang, duduk, menyandarkan siku, meletakkan tangan di depan dada, mengangkat selendang di bahu, dan penutup Linda. Pola gerak tersebut merepresentasikan doa, kerendahan hati, pengendalian diri, kedewasaan, solidaritas, dan kesiapan perempuan Muna memasuki kehidupan sosial orang dewasa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tari Linda tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan ritual, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan pewarisan budaya. Kontribusi penelitian ini adalah memperkuat pendidikan seni berbasis kearifan lokal dan mendokumentasikan warisan tari Muna untuk kepentingan pembelajaran serta pelestarian.