Hestiyana Hestiyana
Balai Bahasa Kalimantan Selatan

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

IDENTIFIKASI LEKSIKON DALAM UPACARA ADAT NIMBUK DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT DAYAK HALONG BALANGAN Hestiyana Hestiyana
tuahtalino Vol 15, No 2 (2021): TUAH TALINO
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/tt.v15i2.3951

Abstract

 ABSTRAKUpacara adat nimbuk merupakan upacara mengantar roh yang ditandai dengan pembuatan batur di atas kuburan oleh keluarga atau ahli waris yang meninggal dunia. Dalam upacara tersebut terdapat beraneka ragam sesajian yang berkaitan dengan identifikasi leksikon. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan serta mengungkap fungsi identifikasi leksikon dalam upacara adat nimbuk masyarakat Dayak Halong Balangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik melalui tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian data. Identifikasi leksikon dalam upacara adat nimbuk masyarakat Dayak Halong diklasifikasikan menjadi dua, yaitu leksikon flora dalam upacara adat nimbuk dan leksikon fauna dalam upacara adat nimbuk. Leksikon dalam upacara adat nimbuk masyarakat Dayak Halong memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai bentuk kearifan lokal dan cerminan kultural masyarakat Dayak Halong, sebagai bentuk kekeluargaan dan gotong royong masyarakat Dayak Halong, dan sebagai bentuk solidaritas masyarakat Dayak Halong terhadap antarumat beragama. 
Klasifikasi Leksikon dan Fungsi Nilai Sosial Ornamen Tradisional Rumah Banjar Hestiyana Hestiyana
MABASAN Vol. 14 No. 1 (2020): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mab.v14i1.314

Abstract

Penelitian ini menganalisis klasifikasi leksikon dan fungsi nilai sosial ornamen tradisional rumah Banjar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan klasifikasi leksikon dan fungsi nilai sosial ornamen tradisional rumah Banjar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan semantik budaya. Sumber data yang digunakan berupa data lisan dan data tertulis mengenai leksikon ornamen tradisional rumah Banjar dan fungsi nilai sosialnya. Pengambilan data dilakukan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin. Hal ini dilakukan berdasarkan nilai sejarah kedua daerah tersebut yang pernah menjadi pusat Kerajaan Banjar. Dalam pengumpulan data digunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis data disajikan dengan metode penyajian informal, yakni dipaparkan dengan kata-kata serta uraian kalimat. Penelitian ini dapat mengungkap klasifikasi leksikon dan fungsi nilai sosial ornamen tradisional rumah Banjar. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa leksikon ornamen tradisional rumah Banjar dapat diklasifikasikan berdasarkan sarana bangunan yang diberikan ukiran atau motif, yaitu (1) pucuk bubungan, (2) pilis atau papilis, (3) tangga, (4) palatar, (5) lawang, (6) lalungkang, (7) watun, (8) tataban, (9) tawing halat, dan (10) sampukan balok. Adapun fungsi nilai sosial ornamen tradisional rumah Banjar, yaitu (1) nilai silaturahmi, (2) nilai gotong royong, (3) nilai tolong-menolong, dan (4) nilai musyawarah.
BENTUK DAN FUNGSI CAMPUR KODE DALAM TRANSAKSI JUAL-BELI DI PASAR ARJOWINANGUN PACITAN Hestiyana Hestiyana
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 1 (2019): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.215 KB) | DOI: 10.47269/gb.v5i1.78

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi campur kode dalam transaksi jual-beli di Pasar Arjowinangun Pacitan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah tuturan antara penjual dan pembeli pada saat proses transaksi jual-beli berlangsung di Pasar Arjowinangun Pacitan yang dilakukan pada bulan Desember 2018. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: (1) pengamatan berperan serta dan terbuka, (2) penyimakan, dan (3) pencatatan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Hasil analisis data bentuk dan fungsi campur kode dalam transaksi jual-beli di Pasar Arjowinangun Pacitan disajikan dengan menggunakan metode penyajian informal. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk campur kode dalam transaksi jual-beli di Pasar Arjowinangun Pacitan, yaitu: (1) campur kode yang berbentuk kata, (2) campur kode yang berbentuk kata ulang, (3) campur kode yang berbentuk kelompok kata, (4) campur kode yang berbentuk idiom, dan (5) campur kode yang berbentuk klausa. Kemudian, fungsi campur kode dalam transaksi jual-beli di Pasar Arjowinangun Pacitan, yaitu: (1) fungsi campur kode untuk menjelaskan dan (2) fungsi campur kode untuk menghormati pembeli.Kata Kunci: bentuk, fungsi, campur kode, pasar Abstract: This study aims to describe the form and function of mixed-code in the sale and purchase transactions in the Arjowinangun market in Pacitan. This study used descriptive qualitative method. The data taken in this research is a speech between the seller and the buyer at the time of the sale and purchase process take place in Arjowinangun market in Pacitan and done in December 2018. The techniques used in this research are: (1) participatory and open observation, (2) listening, and (3) recording. Data analysis in this research is done by using contextual approach. The result of data analysis of form and function of mixed-code in sale and purchase transaction in Arjowinangun Pacitan market is presented by using informal presentation method. The results of the analysis show that the code mixed form in the sale and purchase transaction in Arjowinangun Pacitan market are: (1) mixing the code in the form of word, (2) mixing the code in the form of a word, (3) mixing the code in the form of word group, (4) mix idiom-shaped code, and (5) mix code shaped clauses. Then, the code mixing function in the sale and purchase transaction in Arjowinangun Pacitan market, namely: (1) mixed code function to explain and (2) code mixed function to respect buyer.
STRUKTUR DAN FUNGSI MANTRA HIDU-MAHIDU TATAMBA ANAK PADA MASYARAKAT DAYAK BAKUMPAI Hestiyana Hestiyana
Sirok Bastra Vol 8, No 2 (2020): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v8i2.253

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan fungsi mantra hidu-mahidu tatamba anak pada masyarakat Dayak Bakumpai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural semiotik. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Data penelitian ini adalah tuturan-tuturan dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak masyarakat Dayak Bakumpai yang berupa kata, frasa, kalimat, dan ungkapan dalam mantra tersebut. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu teknik observasi, teknik wawancara tidak terarah, dan teknik studi pustaka. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa struktur mantra hidu-mahidu tatamba anak terdiri atas diksi dan imajinasi. Diksi yang terdapat dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak meliputi kata umum dan kata khusus. Imajinasi yang terdapat dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak meliputi (1) imajinasi visual, (2) imajinasi auditif, dan (3) imajinasi taktil. Fungsi yang terdapat dalam mantra hidu-mahidu tatamba anak meliputi (1) fungsi sebagai sistem proyeksi (projective system); (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (3) sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device); dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.This study aims to describe the structure and function of the mantra hidu-mahidu tatamba anak in Dayak Bakumpai community. The method used in this research is descriptive qualitative with a semiotic structural approach. Sources of data used in this study are primary and secondary data sources. The data of this research are the utterances in the mantra hidu-mahidu tatamba anak of the Dayak Bakumpai community, in the form of words, phrases, sentences, and expressions in the mantra. Data collection techniques in this study, namely observation techniques, unfocused interview techniques, and literature study techniques. From the analysis, it was found that the structure of the mantra hidu-mahidu tatamba anak consisted of diction and imagination. The diction contained in the mantra hidu-mahidu includes general words and special words. The imagination contained in the mantra hidu-mahidu tatamba anak includes (1) visual imagination, (2) auditive imagination, and (3) tactile imagination. Meanwhile, the functions contained in the mantra hidu-mahidu tatamba anak include (1) function as a projective system; (2) as a means of ratifying cultural institutions and institutions; (3) as a pedagogical device; and (4) as a means of coercion and supervision so that the norms of society will always be obeyed by their collective members. 
Fungsi Sastra Lisan Banjar Tatangar Hestiyana Hestiyana
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5 No 2 (2017): Gramatika, Volume V, Nomor 2, Juli--Desember 2017
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.773 KB) | DOI: 10.31813/gramatika/5.2.2017.117.166--177

Abstract

This study addresses the issue of oral literature Banjar tatangar function with the aim to describe the function of oral literature Banjar tatangar. The theory used is the theory of William R. Bascom. The method used in this research is descriptive qualitative method. Techniques of collecting data are the documentation, recordings, and interviews. Furthermore, in the technique of data analysis used descriptive analysis, by analyzing one by one tatangar accordance with its function. Sources of data used in this study: (1) primary data, namely informants in the field as many as three people were categorized as oral literature Banjar tatangar speakers residing in Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah and Hulu Sungai Utara; and (2) secondary data, ie data obtained from the complement existing research related to the study of oral literature Banjar tatangar. Based on the analysis found four functions Banjar tatangar oral literature, namely: (1) tatangar function as a form of entertainment; (2) functions as an instrument of ratification tatangar institutions and cultural institutions; (3) tatangar function as an educational tool children; and (4) tatangar function as a means of coercion and supervisors so that society's norms will be respected member of the collective
PENGUASAAN KOSAKATA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VI SEKOLAH MADRASAHIBTIDAIYAH PANGERAN HIDAYATULLAH [Vocabulary Mastery of the Ability to Speak Indonesia Students of Class VI School of Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah] Hestiyana Hestiyana
TOTOBUANG Vol. 7 No. 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.721 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.129

Abstract

This study aims to describe the mastery of  Indonesian vocabulary and the ability to speak Indonesianstudents of class VI school of Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah. This research uses quantitativedescriptive research. The object of this research was students of class VI school of Madrasah IbtidaiyahPangeran Hidayatullah with a saturated sampling technique. Instruments used in data collection, namely:test sheets, observation guidelines, and documentation. Data analysis was performed using descriptivestatistical analysis. Based on the results of the analysis, it can be seen that the mastery of Indonesianvocabulary and the ability to speak Indonesian in students of class VI school of Madrasah IbtidaiyahPangeran Hidayatullah are in the moderate category. Mastery of Indonesian vocabulary has an averagevalue of 24.40 which is in the interval 23-24 so it can be stated that the mastery of Indonesian vocabularyof students is in the medium category. Then, the ability to speak Indonesian in students of class VI schoolof Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah was in the moderate category with an average value of 10.08in intervals of 10-11 so that students' speaking ability was in the medium category. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penguasaan kosakata bahasa Indonesia dan kemampuan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Objek penelitian ini adalah siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu: lembar tes, pedoman observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa penguasaan kosakata bahasa Indonesia dan kemampuan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah berada pada kategori sedang. Penguasaan kosakata bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata sebesar 24,40 yang berada pada interval 23—24 sehingga dapat dinyatakan bahwa penguasaan kosakata bahasa Indonesia siswa berada pada kategori sedang. Kemudian, kemampuan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah berada pada kategori sedang dengan  nilai rata-rata sebesar 10,08 yang berada pada interval   10—11 sehingga dapat dinyatakan bahwa kemampuan berbicara siswa berada pada kategori sedang.
KONSEP ILMU PENGETAHUAN LOKAL DALAM LEKSIKON PENANDA WAKTU DAN MUSIM SUKU DAYAK MERATUS [The Indigenous Knowledge Science Lexicon Marking the Time and Season of the Meratus Dayak Tribe] Hestiyana Hestiyana
TOTOBUANG Vol. 9 No. 2 (2021): TOTOBUANG: EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v9i2.306

Abstract

This study aims to describe the indigenous science in the lexicon of time and season markers by the Meratus Dayak tribe. The method used in this research is descriptive qualitative ethnolinguistic approach. The data in this study are lexicon markers of time and season spoken by the Meratus Dayak tribe who reside in the Balangan Regency, namely Meratus Balangan Dayak, especially traditional leader  and balian. Meanwhile the data collection techniques used were participant observation, listening techniques, and record techniques. Data analysis includes: (1) transcribing data obtained through the results of records and records; (2) identifying time and season marker data; (3) classifying data according to lingual form and lexicon function; and (4) analyze and conclude. Based on the results of the analysis it was found that the concept of local science in the lexicon markers of time and season can be classified into two: (1) based on the lingual form and (2) based on the function of the lexicon. The concept of local science is based in the lingual form: first, the lexicon marking the time and season of tangible words which a total of 30 lexicons. Second, lexicons marking the time and season in the form of phrases that include noun caterogical phrases, verb categorized phrases, and numeralia categorized phrases with a total of 21 lexicons. Then, the concept of local science based on the function of the lexicon, among others: (1) the function of the daily time lexicon is as much as 19 lexicon and (2) the time and season lexicon functions with a larger unit of 20 lexicon. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep ilmu pengetahuan lokal dalam leksikon penanda waktu dan musim oleh suku Dayak Meratus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Data dalam penelitian ini berupa leksikon penanda waktu dan musim yang dituturkan oleh suku Dayak Meratus yang bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Balangan, yakni Dayak Meratus Balangan, terutama tokoh adat dan balian. Adapun, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan, teknik simak, dan teknik rekam. Analisis data meliputi: (1) mentranskripsikan data yang diperoleh melalui hasil catatan dan rekaman; (2) mengidentifikasi data penanda waktu dan musim; (3) mengklasifikasikan data sesuai dengan bentuk lingual dan fungsi leksikon; dan (4) menganalisis dan menyimpulkan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa konsep ilmu pengetahuan lokal dalam leksikon penanda waktu dan musim dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) berdasarkan bentuk lingual dan (2) berdasarkan fungsi leksikon.  Konsep ilmu pengetahuan lokal berdasarkan bentuk lingual: pertama, leksikon penanda waktu dan musim berwujud kata yang meliputi nomina, verba, dan numeralia dengan jumlah keseluruhan 30 leksikon. Kedua, leksikon penanda waktu dan musim berwujud frasa yang meliputi frasa berkategori nomina, frasa berkategori verba, dan frasa berkategori numeralia dengan jumlah keseluruhan 21 leksikon. Kemudian, konsep ilmu pengetahuan lokal berdasarkan fungsi leksikon, antara lain: (1) fungsi leksikon penanda waktu harian sebanyak 19 leksikon dan (2) fungsi leksikon penanda waktu dan musim dengan satuan yang lebih besar sebanyak 20 leksikon.