Hestiyana Hestiyana
Balai Bahasa Kalimantan Selatan

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : TOTOBUANG

PENGUASAAN KOSAKATA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VI SEKOLAH MADRASAHIBTIDAIYAH PANGERAN HIDAYATULLAH [Vocabulary Mastery of the Ability to Speak Indonesia Students of Class VI School of Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah] Hestiyana Hestiyana
TOTOBUANG Vol. 7 No. 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.721 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.129

Abstract

This study aims to describe the mastery of  Indonesian vocabulary and the ability to speak Indonesianstudents of class VI school of Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah. This research uses quantitativedescriptive research. The object of this research was students of class VI school of Madrasah IbtidaiyahPangeran Hidayatullah with a saturated sampling technique. Instruments used in data collection, namely:test sheets, observation guidelines, and documentation. Data analysis was performed using descriptivestatistical analysis. Based on the results of the analysis, it can be seen that the mastery of Indonesianvocabulary and the ability to speak Indonesian in students of class VI school of Madrasah IbtidaiyahPangeran Hidayatullah are in the moderate category. Mastery of Indonesian vocabulary has an averagevalue of 24.40 which is in the interval 23-24 so it can be stated that the mastery of Indonesian vocabularyof students is in the medium category. Then, the ability to speak Indonesian in students of class VI schoolof Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah was in the moderate category with an average value of 10.08in intervals of 10-11 so that students' speaking ability was in the medium category. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penguasaan kosakata bahasa Indonesia dan kemampuan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Objek penelitian ini adalah siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu: lembar tes, pedoman observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa penguasaan kosakata bahasa Indonesia dan kemampuan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah berada pada kategori sedang. Penguasaan kosakata bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata sebesar 24,40 yang berada pada interval 23—24 sehingga dapat dinyatakan bahwa penguasaan kosakata bahasa Indonesia siswa berada pada kategori sedang. Kemudian, kemampuan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VI Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pangeran Hidayatullah berada pada kategori sedang dengan  nilai rata-rata sebesar 10,08 yang berada pada interval   10—11 sehingga dapat dinyatakan bahwa kemampuan berbicara siswa berada pada kategori sedang.
KONSEP ILMU PENGETAHUAN LOKAL DALAM LEKSIKON PENANDA WAKTU DAN MUSIM SUKU DAYAK MERATUS [The Indigenous Knowledge Science Lexicon Marking the Time and Season of the Meratus Dayak Tribe] Hestiyana Hestiyana
TOTOBUANG Vol. 9 No. 2 (2021): TOTOBUANG: EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v9i2.306

Abstract

This study aims to describe the indigenous science in the lexicon of time and season markers by the Meratus Dayak tribe. The method used in this research is descriptive qualitative ethnolinguistic approach. The data in this study are lexicon markers of time and season spoken by the Meratus Dayak tribe who reside in the Balangan Regency, namely Meratus Balangan Dayak, especially traditional leader  and balian. Meanwhile the data collection techniques used were participant observation, listening techniques, and record techniques. Data analysis includes: (1) transcribing data obtained through the results of records and records; (2) identifying time and season marker data; (3) classifying data according to lingual form and lexicon function; and (4) analyze and conclude. Based on the results of the analysis it was found that the concept of local science in the lexicon markers of time and season can be classified into two: (1) based on the lingual form and (2) based on the function of the lexicon. The concept of local science is based in the lingual form: first, the lexicon marking the time and season of tangible words which a total of 30 lexicons. Second, lexicons marking the time and season in the form of phrases that include noun caterogical phrases, verb categorized phrases, and numeralia categorized phrases with a total of 21 lexicons. Then, the concept of local science based on the function of the lexicon, among others: (1) the function of the daily time lexicon is as much as 19 lexicon and (2) the time and season lexicon functions with a larger unit of 20 lexicon. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep ilmu pengetahuan lokal dalam leksikon penanda waktu dan musim oleh suku Dayak Meratus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Data dalam penelitian ini berupa leksikon penanda waktu dan musim yang dituturkan oleh suku Dayak Meratus yang bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Balangan, yakni Dayak Meratus Balangan, terutama tokoh adat dan balian. Adapun, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan, teknik simak, dan teknik rekam. Analisis data meliputi: (1) mentranskripsikan data yang diperoleh melalui hasil catatan dan rekaman; (2) mengidentifikasi data penanda waktu dan musim; (3) mengklasifikasikan data sesuai dengan bentuk lingual dan fungsi leksikon; dan (4) menganalisis dan menyimpulkan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa konsep ilmu pengetahuan lokal dalam leksikon penanda waktu dan musim dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) berdasarkan bentuk lingual dan (2) berdasarkan fungsi leksikon.  Konsep ilmu pengetahuan lokal berdasarkan bentuk lingual: pertama, leksikon penanda waktu dan musim berwujud kata yang meliputi nomina, verba, dan numeralia dengan jumlah keseluruhan 30 leksikon. Kedua, leksikon penanda waktu dan musim berwujud frasa yang meliputi frasa berkategori nomina, frasa berkategori verba, dan frasa berkategori numeralia dengan jumlah keseluruhan 21 leksikon. Kemudian, konsep ilmu pengetahuan lokal berdasarkan fungsi leksikon, antara lain: (1) fungsi leksikon penanda waktu harian sebanyak 19 leksikon dan (2) fungsi leksikon penanda waktu dan musim dengan satuan yang lebih besar sebanyak 20 leksikon.