Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Jenis dan Daya Bahasa Salah Satu Iklan Rokok Bentoel Tahun 1970-an: Analisis Wacana Pragmatik Rissari Yayuk
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 6 No 2 (2018): Gramatika, Volume VI, Nomor 2, Juli--Desember 2018
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.363 KB) | DOI: 10.31813/gramatika/6.2.2018.141.88--99

Abstract

Discourse of advertising consists of text and context. This text and context depend on the purpose of the advertising being created. Text and context will show the type and power of an advertising. The problem of this research is, what kind of discourse one of Bentoel advertising of the 1970s? How is the language power one of Bentoel advertising in the 1970s? The purpose of this study is to describe the type of discourse and the language power one of Bentoel advertising the 1970s. This research is a qualitative research with descriptive method. Source of data from within old advertising: blogspot. co. id link. on Friday, February 9, 2018, 04. 22 o’clock. Technique of taking data is library technique and record. Data analysis is content analysis by presenting the description method. Basic theory is study of pragmatic discourse. The results showed that this type of discourse of one of the Bentoel advertising in the 1970s included persuasion. Furthermore, the power of language consists of linguistic, pragmatic, and nonlinguistic aspects.
PELECEHAN SINISME MITRA TUTUR DALAM KONTEKS TUTURAN KELUARGA PENGEMIS DI TERMINAL ENAM BANJARMASIN Rissari Yayuk
TELAGA BAHASA Vol 7, No 2 (2019): TELAGA BAHASA VOL.7 NO.2 TAHUN 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v7i2.62

Abstract

AbstrakPelecehan bukan hanya fisik, tetapi bisa dalam bentuk ucapan. Penelitian ini membahas masalah 1) Bagaimana bentuk pelecehan sinisme dari mitra tutur dalam komunikasi keluarga pengemis di Terminal Enam Banjarmasin. 2) Apa fungsi pelecehan dari mitra tutur dalam komunikasi keluarga pengemis di Terminal Enam Banjarmasin ? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan 1) bentuk pelecehan sinisme dari mitra tutur dalam komunikasi keluarga pengemis di Terminal Enam Banjarmasin. 2) Fungsi pelecehan mitra tutur dalam komunikasi keluarga pengemis di Terminal Enam Banjarmasin. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data utama dalam penelitian ini adalah tuturan berbahasa Banjar yang dilakukan oleh keluarga pengemis di Terminal Enam Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan. Pengumpulan data dilakukan dari Januari hingga Maret 2019. Teknik yang digunakan adalah observasi, rekaman, catatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan setelah mengumpulkan data, mengurutkan data, mengidentifikasi masalah, kemudian menganalisis data, dan menyajikan data. Presentasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelecehan dalam bentuk sindiran, cemoohan, ancaman, dan kekasaran. Fungsi melecehkan sinisme dari mitra tutur  yang berbicara di Terminal Enam Banjarmasin bersifat preventif. Kesimpulannya adalah bahwa tujuan penyalahgunaan mitra tutur dikatakan sebagai upaya untuk mencegah penutur melakukan apa yang tidak diinginkan mitra tutur. Untuk mencapai hal ini, mitra tutur melakukan pelecehan melalui ucapan bersifat sinis dengan melanggar etika, strategi dan prinsip-prinsip kesopanan.   
BENTUK DAN MAKSUD TUTURAN DEKLARATIF MITRA TUTUR DALAM BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
TELAGA BAHASA Vol 6, No 2 (2018): TELAGA BAHASA VOL.6 NO.2 TAHUN 2018
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v6i2.19

Abstract

 AbstrakTuturan dalam komunikasi lisan  merupakan kajian yang bisa dianalisis melalui teori Pragmatik.Penelitian ini membahas tentang  1) Bagaimanakah bentuk tuturan deklaratif mitra tutur dalam Bahasa Banjar.2) Apa saja maksud tuturan deklaratif mitra tutur dalam Bahasa Banjar.Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan 1) bentuk tuturan deklaratif mitra tutur dalam Bahasa Banjar.2) maksud tuturan deklaratif mitra tutur dalam Bahasa Banjar. jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data dengan cara rekam dan dokumentasi. Peneliti merekam dan mencatat hasil tuturan lisan yang ada di lapangan. Teknik analisis data adalah baca-simak.Langkah kerja analisis data adalah pengumpulan data, mengidentifikasi dan mengklasifikasi, menganalisis dan menyajikan data. Waktu pengambilan data pada bulan Juni 2017 sampai dengan Januari 2018. Lokasi pengambilan data di Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura, Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil analisis data tentang bentuk dan maksud  tuturan deklaratif mitra tutur dalam bahasa Banjar dapat disimpulkan bahwa Bentuk kalimat deklaratif terdiri atas kalimat bersusunan invers, berdiatesis aktif, dan berdiatesis pasif.Maksud tuturan deklaratif dalam Bahasa Banjar meliputi, menyatakan fakta, opini, prediksi,janji, perintah, dan permohonan.
TINDAK TUTUR IMPERATIF PERTANYAAN DALAM BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
TELAGA BAHASA Vol 4, No 1 (2016): TELAGA BAHASA VOL.4 NO.1 TAHUN 2016
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v4i1.196

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan  1) wujud tindak tutur imperatif pertanyaan dalam bahasa Banjar, dan  2) fungsi  yang terdapat dalam tindak tutur imperatif pertanyaan dalam bahasa Banjar. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah teknik rekam dan dokumentasi. Data diambil di Sakumpul, Kabupaten Banjar, dari bulan Juni  sampai  Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wujud tindak tutur imperatif pertanyaan yang terdapat dalam bahasa Banjar  dapat terjadi di berbagai konteks tempat, seperti beranda rumah, jalan, dan dalam rumah. Anggota tuturan bisa antar teman dan antar tetangga, dan lain-lain. Penanda ujaran dalam wujud ini adalah kata tanya seperti siapa, kah, kanapa, dan apa.  Fungsi tindak imperatif pertanyaan ini meliputi tindak imperatif pertanyaan keterangan, pengakuan, alasan, dan pendapat. Kata kunci: imperatif, pertanyaan, bahasa Banjar Speech Acts Imperative Questions in Banjarness The objective of this research is to describe 1) the nature of speech acts imperative language question in Banjarnese, and 2) the function contained in speech acts imperative questions in Banjarnese. The method used is descriptive method. The techniques used in data collection is by recording and documenting. The data were taken at Sakumpul, Banjar Regency, from June to December 2015. The result showed a form of speech acts imperative question in Banjarnese can occur in the various contexts of places, for instance at the porch, street, and home. Member of speech can be among friends and neighbors, etc.. The example of speech markers in this form is question words like who, why, and what The function of this imperative acts questions includes imperative acts of adjective questions, acknowledgment, reasons, and opinions. Keywords: imperative, questions, Banjarnese
KLASIFIKASI TABU PADA MASYARAKAT BANJAR (Taboo Classification in Banjar Society) Rissari Yayuk
Kandai Vol 15, No 1 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.402 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i1.632

Abstract

Penelitian ini mengkaji klasifikasi tabu pada masyarakat Banjar. Masalah yang dikaji adalah bagaimana klasifikasi tabu perbuatan dan klasifikasi tabu kebahasaan pada masyarakat Banjar?  Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan klasifikasi tabu perbuatan dan  klasifikasi tabu kebahasaan pada masyarakat Banjar. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik  rekam dan dokumentasi. Waktu pengambilan data dari Bulan Januari 2015 s.d Juni 2016  di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Banjar baru, Banjarmasin, dan Martapura. Analisis data dilakukan dengan  tiga tahap, yaitu  indentifikasi data, klasifikasi data, seleksi data, dan  interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi  tabu dalam masyarakat Banjar terdiri atas tabu perbuatan dan tabu kebahasaan. Tabu perbuatan adalah larangan untuk melakukan kegiatan atau perbuatan  yang diyakini akan mendatangkan malapetaka,sedangkan tabu kebahasaan adalah tabu yang berkaitan dengan kebahasaan. Kedua klasifikasi tabu ini dilatarbelakangi oleh dua hal, yaitu karena adanya rasa takut dan demi kenyamanan. Pengelakan tabu dalam masyarakat Banjar  ada yang menggunakan eufemisme, singkatan, metafora.(This study examines taboo classification in Banjar society. The problems are how act taboo classification is and how is language taboo classification in Banjar society. This study aims to describe taboo classification of act and taboo classification of language in Banjar society. The method used is descriptive-qualitative. This study uses recording and documentation technique. The data are gained from January 2015 until June 2016 in Hulu Sungai Selatan regency, Banjarbaru, Banjarmasin, and Martapura. Data analysis is carried out through several steps, namely data identification, data classification, data selection, and data interpretation. The result shows that taboo classification in Banjar society consists of act taboo and language taboo. Act taboo is prohibition not to do action or activity that is believed to cause disasters. Meanwhile, language taboo is a taboo dealing with language. Both of these taboo classifications are based on two things, namely existence of fear or for comfort. Some avoidances of taboo in Banjar society are by using euphemism, abbrevation, and metaphor.)
TINDAK TUTUR PADA TEKS “INDONESIA RAYA” KARYA W.R.SUPRATMAN (SPEECH ACT ON NATIONAL ANTHEM TEXT “INDONESIA RAYA” BY W.R. SUPRATMAN) Rissari Yayuk
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.01 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.207

Abstract

AbstrakTeks Indonesia Raya karya W.R. Supratman merupakan lagu kebangsaan Indonesia yang dinyanyikan untuk pertama kalinya sebelum kemerdekaan terjadi. Terdapat  tuturan pengarang mengenai bangsa dan negaranya agar merdeka dan bahagia. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaiman wujud fungsi tindak tutur pada teks Indonesia Raya karya  W.R. Supratman dan termasuk dalam klasifikasi tindak tutur apakah fungsi tersebut,Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan wujud fungsi tindak tutur pada teks Indonesia Raya karya  W.R. Supratman dan klasifikasi tindak tutur berdasarkan fungsi tersebut. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif.Metode pengumpulan data adalah kepustakaan dengan teknk  catat.Teknik analisis data adalah baca simak Langkah kerja analisis data adalah pengumpulan data, mengidentifikai, mengklasifikasi, analisis dan pennyajian. Hasil analisis disajikan dengan kata-kata biasa.Waktu pengambilan data  bulan Maret  2018. Teks Indonesia Raya dikutip dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id › Kesenian. Dasar teori yang digunakan adalah pragmatik. Hasil pembahasan Fungsi tindak tutur pada teks Indonesia Raya, karya W.R. Supratman ini terdiri atas fungsi menyatakan, fungsi menyuruh, fungsi berjanji, fungsi pujian, fungsi opini, dan fungsi penyebutan. Keenam fungsi ini tercakup dalam empar klasifikasi tindak tutur. Pertama. Tindak tutur representatif atau asertif dalam teks Indonesia Raya karya W.R.Supratman meliputi fungsi tindak tutur pernyataan, penyebutan, dan opini. Kedua.Tindak tutur imperatif. Tindak tutur imperatif dalam teks ini meliputi fungsi tindak tutur suruhan. Ketiga.Tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ini  meliputi fungsi tindak tutur pujian. Keempat. Tindak tutur komisif .Tindak tutur ini meliputi fungsi berjanji.Kesimpulandari penelitian ini yaitu Teks Indonesia Raya karya W.R. Supratman memilkii  memiliki  makna dan maksud tertulis dari penutur  yang secara pragmatik terwujud dalam  fungsi dan klasifikasi tindak tutur. 
LEKSIKON PENGUNGKAP KARAKTERISTIK BUDAYA SUNGAI MASYARAKAT BANJARMASIN DAN NAGARA: TELAAH ETNOSEMANTIS (LEXICON OF CHARACTERISTIC DISCLOSURE OF RIVER CULTURE AT BANJARMASIN AND NAGARA SOCIETIES: AN ETHNOSEMANTIC STUDY) Rissari Yayuk
Naditira Widya Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.001 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.312

Abstract

Banjarmasin dan Nagara merupakan dua kawasanang terdiri atas sungai dan rawa. Di sepanjang aliran sungai dan rawa ini terdapat permukiman warga dengan segala aktivitas yang berhubungan dengan budaya sungai. Aktivitas budaya sungai yang dilakukan warga di kedua kawasan ini tercermin dalam leksikon-leksikon yang terdapat dalam bahasa mereka.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan leksikon pengungkap karakteristik budaya sungai masyarakat Banjarmasin dan Nagara, dan mendeskripsikan karakteristik budaya sungai pada masyarakat Banjarmasin dan Nagara berdasarkan leksikon. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dari data umum kedua wilayah dan analisis data leksikon diketahui terdapat leksikon-leksikon yang mengungkapkan karakteristik budaya sungai masyarakat Banjarmasin dan Nagara. Selanjutnya diketahui juga unsur karakteristik yang terdapat pada leksikon tersebut meliputi bahasa, mata pencaharian, religi, pengetahuan dan teknologi, dan sistem sosial kemasyarakatan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu makna yang terdapat pada leksikon-leksikon bahasa masyarakat Banjarmasin dan Nagaramencerminkan karakteristik kebudayaan mereka sebagai suku Banjar yang tidak jauh berbeda karena berhubungan dengan cara hidup di pemukiman atas sungai atau rawa. Banjarmasin and Nagara consist of rivers and swamps. Along these areas there are residential communities with all activities related to river culture. The culturalriver activities of the two regions are reflected in the lexicons contained in their language. This research aim are to describe the lexicons which express the characteristics of river culture of the people, and to depict the cultural river characteristcs of the people based on the lexicons. The method used is descriptive qualitative. Based on the general data of both regions and lexicon data analysis, many of lexicons have revealed the characteristics of river culture of both people, Banjarmasin and Nagara. Furthermore, the characteristics on lexicon are found in language, livelihood, religion, knowledge and technology, and social systems. The conclusion is that the lexicon meaning of Banjarmasin and Nagara languages eflects their cultural characteristics as Banjarese which look liketheir ways of living along the river banks and swamp areas.
WUJUD KESANTUNAN ASERTIF DAN IMPERATIF DALAM BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.873 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.147

Abstract

Politeness by the present generation has shifted as a result of various factors. Important to the preservation of a form of politeness that coud be used as a teaching example for increased intelligence-speaking children today and will come in a variety of speech acts. The problem studied include (1) How Being assertive speech act of politeness Banjar, (2) How to form the speech acts imperative Banjar. The aim is to describe, (1) Being assertive speech act of politeness Banjar, and (2) form the speech acts imperative Banjar. This research method is descriptive technique used in data collection and documentation is a recording technique. Sources of data taken from the area which is considered to represent the people of Banjar, namely Banjar. Time data capture for 2 months (of January s.d. End of February 2016). The results showed being politeness contained in an assertive speech act can be seen in the form of pleasantries and politeness sapaan.Wujud words contained in the imperatif speech acts can be seen in the form of pleasantries and greeting words. ABSTRAKKesantunan berbahasa oleh generasi sekarang mengalami pergeseran akibat berbagai faktor. Penting dilakukan pelestarian wujud kesantunan berbahasa yang bsa dijadikan contoh ajar bagi peningkatan kecerdasan berbahasa anak-anak sekarang maupun akan datang dalam ragam tindak tutur. Masalah yang dikaji meliputi (1) Bagaimana Wujud kesantunan tindak tutur asertif dalam bahasa Banjar, dan (2) Bagaimana wujud tindak tutur imperatif dalam bahasa Banjar. Tujuan yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan (1) wujud kesantunan tindak tutur asertif dalam bahasa Banjar, dan (2) wujud tindak tutur imperatif dalam bahasa Banjar. Metode penelitian ini adalah deskriptif Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah teknik rekam dan dokumentasi. Sumber data diambil dari wilayah yang dianggap mewakili masyarakat Banjar, yaitu Kabupaten Banjar. Waktu pengambilan data selama 2 bulan (Januari s.d. Februari 2016). Hasil penelitian menunjukkan wujud kesantunan berbahasa yang terdapat dalam tindak tutur asertif dapat dilihat dalam wujud basa-basi dan kata sapaan. Wujud kesantunan berbahasa yang terdapat dalam tindak tutur imperatif dapat dilihat dalam wujud basa-basi dan kata sapaan.
TINDAK EKSPRESIF PUJIAN DALAM BAHASA BANJAR [Expressive Speech Acts Compliment the Banjar Language] Rissari Yayuk
TOTOBUANG Vol. 4 No. 2 (2016): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.434 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v4i2.25

Abstract

This research material in expressive speech acts compliment the Banjar people. The problem studied 1) How is the follow-expressive form of compliment in Banjar, 2) What sentence mode used in compliment speech acts expressive e,3) what politeness strategies used in the follow-expressive of Banjar language. The purpose of research included the description of 1) the form of the expressive act of compliment in Banjar, 2) sentence mode used in speech acts expressive of compliment,3) politeness strategies used in the follow-expressive Banjar language.. The method used descriptive qualitative. Research techniques were recorded and noted. Source data from Martapura city on June 2015 until January 2016 .the research found that the expressive act of compliment in Banjar language was characterized by umay'amboi modalities ', salut'salut', and the dasar of 'dasar'. This speech spoken in an enjoy situation . In generally utterances have news or declarative sentence mode. Flat intonation of sentences accompanied by a friendly smile of speakers. The use of this complimentacts of adhering to the principles of politeness (maxim) modesty. Humility is characterized by emphasizing the compliment of others advantages. Penelitian ini mengangkat materi  tindak tutur ekspresif pujian  pada  masyarakat Banjar. Masalah yang dikaji 1) Bagaimana wujud tindak ekspresif pujian dalam bahasa Banjar, 2) Modus kalimat apa yang digunakan dalam tindak tutur ekspresif pujian, 3) Strategi kesantunan apa yang digunakan dalam tindak ekspresif bahasa Banjar. Tujuan penelitian meliputi pendeskripsian 1)  wujud tindak ekspresif pujian dalam bahasa Banjar, 2) Modus kalimat  yang digunakan dalam tindak tutur ekspresif pujian, 3) Strategi kesantunan  yang digunakan dalam tindak ekspresif bahasa Banjar. Metode yang digunakan deskritif kualitatif. Teknik penelitian adalah rekam dan catat. Sumber data dari kota Martapura . Waktu pengambilan data Juni 2015 sampai dengan Januari 2016 .Berdasarkan hasil penelitian ditemukan Wujud tindak ekspresif pujian dalam bahasa Banjar ini ditandai dengan modalitas  umay’amboi’, salut’salut’, dan dasar’ dasar’. Ujaran ini dituturkan dalam situasi santai.Pada umumnya tuturan memiliki modus kalimat berita atau deklaratif. Intonasi kalimat datar dengan disertai senyum ramah penutur. Penggunaan tindak pujian ini berpegang kepada prinsip kesantunan (maksim) kerendahantian. Kerendahatian ditandai dengan mengutamakan pujian kepada kelebihan yang dimiliki orang lain.
APLIKASI MAKNA MITOS BANYU DALAM BAHASA BANJAR [The Application of Mythical Meaning of “Banyu” in Banjar Language] Rissari Yayuk
TOTOBUANG Vol. 6 No. 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.452 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v6i1.63

Abstract

This research studied about how the mythical meaning of Banyu (water) applyed in Banjar language based on the lexicon  and contextual source. The purpose of this research was describing the myth meaning of Banyu in Banjar language based on its lexicon source and the function based on its contextl. The research method was qualitative descriptive.The data collection techniques had used  observing-conversation  technique. The frame of work was data collection, data processing, and results of data analysis. The sampling technique that used in this paper was the purposive sampling, the sampling technique of data source collection with considering. The data collection that had been takenfrom January  to December 2017. The place where data were collectedwas at Padang Village, Banjar Regency. The data presentation was using ordinary words. The result showed thath  myth meaning of Banyu that applyed in Banjar language based on lexicon source consisted of  original source, material, and pars proto whilee based on contextual were ordinary and magical, or religious. Later, it was used  as regular drinking water,  therapy water, and  medication.Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana aplikasi makna mitos Banyu pada bahasa banjar berdasarkan sumber leksikon dan  kontekstual. Tujuan penelitian meliputi deskripsi aplikasi makna mitos banyu pada bahasa banjar berdasarkan sumber leksikon dan fungsi Banyu dalam bahasa Banjar berdasarkan kontekstual.  Metode yang digunakan adalah deskrieptif kualitatif. Teknik pengambilan data adalah simak dan libat cakap. Langkah kerja adalah pengumpulan data, pengolahan data, dan hasil analisis data. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam tulisan ini adalah  purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang mempertimbangan waktu pengambilan data pada bulan Januari sampai  bulan desember 2017. Tempat pengambilan data di Desa Padang, Kabupaten Banjar. Penyajian data  menggunakan kata-kata biasa. Hasil penelitian aplikasi makna mitos banyu pada bahasa banjar berdasarkan sumber leksikonnya terdiri atas sumber asal, bahan, dan pars proto, sedangkan berdasarkan konstektual  bersifat biasa dan magis, atau religi. Ada yang difungsikan sebagai air minum biasa, terapi, dan  pengobatan.