Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS STRUKTUR BATIN SYAIR ADAT PADA MASYARAKA SIKKA KROWE DALAM TRADISI POTO WUA TA’A DI KABUPATEN SIKKA NUSA TENGGARA TIMUR Gisela Nuwa; Ahmad Yani
MABASAN Vol. 13 No. 1 (2019): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v13i1.244

Abstract

Dampak langsung dari globalisasi adalah tergerusnya bahasa, seni, serta adat-istiadat yang selama ini dijaga dan dilestarikan oleh nenek moyang, akan hilang dan tidak dikenali lagi oleh para pemuda yang hidup di zaman sekarang. Padahal, sastra lisan adat istiadat justru memiliki nilai-nilai karakter yang mampu menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Berhadapan dengan tradisi poto wua ta’a yang merupakan bagian dari syair adat yang belakangan eksistensinya mulai hilang oleh perkembangan globalisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur batin dalam syair adat poto wua ta’a. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah struktural batin karena pendekatan ini menempatkan karya sastra sebagai dasar penelitian dan memandang karya sastra sebagai dasar penelitan serta sebagai sistem maknanya yang berlapis-lapis sebagai suatu totalitas yang tak dapat dipisahkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yaitu menganalisis data deskriptif dengan cara memaparkan dan mendeskripsikan sesuatu yang ada. Sumber data yang diperoleh dari narasumber berupa syair adat poto wua ta’a. Teknik dan prosedur pengumpulan data berupa: rekam, catat, observasi, wawancara. Teknik analisis data dengan cara: terjemahan syair adat poto wua ta’a, mengklasifikasi data, menganalisis data dan menyimpulkan. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, tema dalam syair adat poto wua ta’a adalah (1) tema perkenalan, (2) tema peminangan (3) tema keluarga, (4) tema keTuhanan. Kedua, Nada dalam syair adat Poto wua ta’a adalah (1) nada romantik yang mencakup nada tanya, nada menjawab, nada mengajak, (2) nada mencekam, (3) nada intensi/memohon, (4) nada memiliki. Ketiga, (1) rasa gembira, (2) rasa sedih, (3) rasa malu. Keempat, amanat yang terkandung dalam syair adat poto wua ta’a sebagai berikut: (1) amanat berkaitan dengan menjaga kesucian perkawinan, (2) amanat berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab kepala keluarga, (3) jangan lupa bersyukur kepada Tuhan, (4) harus hidup rukun dan damai dengan sesama ciptaan Tuhan.
Kajian terhadap Perkawinan Sedarah dalam Ritual Adat Tue Pose di Desa Serinuho, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur Paulina Oa Padu Hayon; Gisela Nuwa; Abdullah Muis kasim
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/z59fp018

Abstract

Consanguineous marriage is a marriage that is contrary to the laws of the Republic of Indonesia, religious law, and customary law. Customary law on marriage in the community in Serinuho village does not allow someone to enter into a marriage relationship with someone who is still a blood relative. However, in reality, consanguineous marriages still often occur in the Serinuho village community. The occurrence of consanguineous marriages is due to the lack of public knowledge about the applicable customary law, where this consanguineous marriage can cause challenges in family life such as having deformed offspring and other bad things. The purpose of this study was to determine the reasons for consanguineous marriages in Serinuho village and to determine the traditional rituals carried out in the process of consanguineous marriages in Serinuho village. This study uses a descriptive qualitative method. Primary data sources are, Customary Leaders, Customary Elders, Society, and Actors of Consanguineous Marriages. and Secondary data sources are Journals and Articles. Data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. Data analysis by collecting data, reducing data, presenting data, and finally drawing conclusions. The results of the study showed that: Consanguineous marriages carried out in Serinuho Village which still have close blood relations and kinship in the same tribe, this occurs because there are still marriages obtained by mutual consent, marriages that do not meet the customary rules of the three furnaces, and the lack of participation of young people in traditional ceremonies involving the extended family. from this incestuous marriage conflict a traditional ritual emerged, namely Tue Pose. This Tue Pose ritual is a ritual for straightening the traditional tribe of a girl from her original tribe to another traditional tribe that is legitimate and correct to be married by a male tribe.