Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Kajian terhadap Perkawinan Sedarah dalam Ritual Adat Tue Pose di Desa Serinuho, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur Paulina Oa Padu Hayon; Gisela Nuwa; Abdullah Muis kasim
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/z59fp018

Abstract

Consanguineous marriage is a marriage that is contrary to the laws of the Republic of Indonesia, religious law, and customary law. Customary law on marriage in the community in Serinuho village does not allow someone to enter into a marriage relationship with someone who is still a blood relative. However, in reality, consanguineous marriages still often occur in the Serinuho village community. The occurrence of consanguineous marriages is due to the lack of public knowledge about the applicable customary law, where this consanguineous marriage can cause challenges in family life such as having deformed offspring and other bad things. The purpose of this study was to determine the reasons for consanguineous marriages in Serinuho village and to determine the traditional rituals carried out in the process of consanguineous marriages in Serinuho village. This study uses a descriptive qualitative method. Primary data sources are, Customary Leaders, Customary Elders, Society, and Actors of Consanguineous Marriages. and Secondary data sources are Journals and Articles. Data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. Data analysis by collecting data, reducing data, presenting data, and finally drawing conclusions. The results of the study showed that: Consanguineous marriages carried out in Serinuho Village which still have close blood relations and kinship in the same tribe, this occurs because there are still marriages obtained by mutual consent, marriages that do not meet the customary rules of the three furnaces, and the lack of participation of young people in traditional ceremonies involving the extended family. from this incestuous marriage conflict a traditional ritual emerged, namely Tue Pose. This Tue Pose ritual is a ritual for straightening the traditional tribe of a girl from her original tribe to another traditional tribe that is legitimate and correct to be married by a male tribe.
Kampus Mengajar dan Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi Peserta Didik Sekolah Dasar Maria Ermelinda Dua Lering; Abdullah Muis Kasim; Nur Chotimah; Rimasi
Jurnal Praktik Baik Pembelajaran Sekolah dan Pesantren Vol. 3 No. 02 (2024): Jurnal Praktik Baik Pembelajaran Sekolah dan Pesantren
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56741/pbpsp.v3i02.518

Abstract

Program kampus mengajar merupakan bentuk pelaksanaan  program MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Program ini di peruntukkan mahasiswa di perguruan tinnggi untuk berkontribusi dalam memajukan pendidikam dasar. Kegiatan kampus mengajar ini meliputi kegiatan literasi dan numerasi walaupun dalam program kampus mengajar terdapat dua fokus kegiatan lainnya yaitu adaptasi teknologi dan administrasi sekolah. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk meningkatakan  kemampuan literasi numerasi peserta didik kelas III di Sekolah Dasar Inpres Lisabheto, Nusa Tenggara Timur. Jenis penelitian yang dilakukan ialah kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan dokumentasi selama kegiatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa program kampus mengajar membawa kebermanfaatan bagi sekolah dan salah satu kebermanfaatan yang diperoleh adalah  adanya peningkatan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik kelas III.
Analisis Nilai dan Makna Gading Sebagai Belis Perkawinan pada Masyarakat Adat Leworook Desa Serinuho Kecamatan Titehena Kabupaten Flores Timur: Penelitian Melkior Bala Kwuta; Abdullah Muis Kasim; Kristina Tresia Leto
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7298

Abstract

Gading memiliki peran yang sangat penting dalam tradisi perkawinan masyarakat adat Leworook di Desa Serinuho, Flores Timur. Sebagai simbol kekuatan dan kemewahan, gading digunakan sebagai belis atau mahar yang menunjukkan kemampuan dan kesungguhan pihak keluarga laki-laki dalam meminang calon istri. Pemberian gading tidak hanya mencerminkan status sosial dan ekonomi keluarga mempelai pria, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan yang tinggi terhadap perempuan yang akan dinikahi. Lebih dari sekadar benda berharga, gading memiliki nilai spiritual yang mendalam, dianggap sebagai benda sakral yang membawa berkah, perlindungan, dan keberuntungan bagi pasangan pengantin. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas budaya yang terus dijaga oleh masyarakat adat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai dan makna simbolik serta fungsi sosial gading sebagai belis dalam perkawinan masyarakat adat Leworook. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa sebagai sumber data primer, serta jurnal dan artikel sebagai sumber data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gading memiliki makna sebagai simbol penghormatan terhadap perempuan, ikatan kekeluargaan dan persaudaraan, serta penanda status sosial dan nilai budaya yang tinggi. Fungsi gading dalam konteks belis perkawinan meliputi penentu sahnya perkawinan, pengikat hubungan kekeluargaan antar dua belah pihak, penanda peralihan status perempuan, serta lambang kesungguhan dalam membina rumah tangga. Dengan demikian, gading tidak hanya berperan sebagai mahar, tetapi juga sebagai alat pelestari nilai-nilai budaya dan identitas masyarakat adat Leworook.
Struktur Organisasi Sebagai Instrumen Penguatan Tata Kelola Lembaga Pendidikan Yang Efektif Abdullah Muis Kasim; Paulin Alfantina Nelci; Theresia Bunga Karlince; Yeremia Aristania Meti; Maria Ica Siming; Marhaban Sahrir Ramadhan Kau
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/xvfjhb89

Abstract

This study aims to analyze organizational structure as an instrument for strengthening effective educational institution governance. The research uses a qualitative descriptive approach through library research. Data were collected from various scientific literature such as books, journals, and relevant government regulations related to educational management. The results show that organizational structure plays an important role in creating clarity of duties, authority, and responsibilities within educational institutions. A clear organizational structure is proven to improve coordination effectiveness, accelerate decision-making processes, and strengthen the principles of accountability, transparency, effectiveness, and efficiency in educational governance. In addition, the study also finds that weak organizational structure may lead to task overlap and low work effectiveness. Therefore, organizational structure is a strategic element in achieving professional and high-quality educational governance. 
Fungsi-Fungsi Administrasi dan Manajemen Pendidikan Abdullah Muis Kasim; Lisnawati Lisnawati; Maria Yuni Yanti Tia; Maryono Maryono; Maria W. Verlina Nona; Maria Ranciana Bhae; Maria Nona An
Educational Journal Vol. 2 No. 1 (2026): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/1g11fy21

Abstract

Educational administration and management are essential components of educational governance that ensure all educational resources are effectively and efficiently organized to achieve educational goals. This article aims to examine the concepts of educational administration and management, their objectives, principal functions, implementation in educational institutions, and the supporting and inhibiting factors affecting their application. The study employed a library research method by reviewing and analyzing relevant scholarly literature, including books, journal articles, and educational policy documents. The findings indicate that educational administration encompasses a broader scope than educational management, while educational management primarily focuses on implementing the POAC functions: Planning, Organizing, Actuating, and Controlling. The effective implementation of these functions contributes to improved institutional management through systematic planning, task distribution, instructional implementation, and continuous supervision and evaluation. Furthermore, successful educational management is influenced by the quality of human resources, leadership, educational facilities, government support, and the effective utilization of technology. Therefore, the consistent application of management functions is essential for improving the quality of education and ensuring the achievement of educational objectives