Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

HUBUNGAN KEBISINGAN DENGAN PENINGKATAN KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA MENCIT Setiawan, Indra
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.03 KB) | DOI: 10.22219/sm.v7i2.4081

Abstract

Kebisingan merupakan masalah utama kesehatan kerja dan dapat menimbulkan dampak gangguan kesehatan. Eksperimental dan rancangan penelitian yang digunakan adalah the pre test and post test control group design untuk mengetahui perbedaan lama paparan kebisingan intensitas 90 dB pada peningkatan kadar glukosa darah sewaktu pada mencit (Mus Musculus) jantan. Kebisingan dengan lama 140 menit (mean = 57.333) menunjukkan rata-rata gula darah yang tinggi kemudian diikuti kebisingan 125 menit (mean = 33.833),kebisingan 110 menit (mean = 20.00), dan yang menunjukkan rata-rata gula darah yang paling rendah adalah kontrol (mean = 5.833). Ada hubungan lama paparan kebisingan 90 dB selama 110 menit, 125 menit, dan 140 menit dengan peningkatan kadar glukosa darah sewaktu pada mencit (Mus musculus) jantan dan Ada perbedaan lama paparan kebisingan intensitas 90 dB pada peningkatan kadar glukosa darah suatu mencit (Mus musculus) jantan.
HUBUNGAN RINITIS ALERGI DAN OBSTRUKTIF SLEEP APNEU DI POLI THT RS UNIVERSITAS MUHAMMADIAYAH MALANG Setiawan, Indra
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.997 KB) | DOI: 10.22219/sm.v11i2.4210

Abstract

Latar belakang: OSA, Obstruktif Sleep Apnea menyebabkan henti nafas dan memicu timbulnya penyakit berbahaya.Rinitis alergi dapat mengganggu kualitas tidur penderita. Penderita rinitis alergi beresiko terkena Obstructive Sleep Apnea karena sumbatan jalan napas napas atas secara berulang sehingga aliran udara ke paru-paru menjadi terhambat. Tujuan: mengetahui insiden Rinitis alergi dengan Obstruktif Sleep Apnea di Poli THT RS UMM Januari- Maret 2013 dan hubungan rhinitis alergi dan obstructive sleep apnea pada pasien Poli THT RS Universitas Muhammadiyah Malang. Hasil penelitian:insidensi OSA pada Responden yang menderita Rinitis Alergi 17,6%, gejala rinitis alergi yang paling banyak adalah kelompok rinorea dan nasal congestion dengan jumlah responden sebanyak 55 orang (64.71%), uji Chi Square Rinitis alergi dengan OSA pada pasien Poli THT RS UMM memiliki hubungan yang tidak signifikan (bermakna).Kata kunci : Obstruktif Sleep Apnea
PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PEKERJA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT DIBANDING NON-PEKERJA Faullya Zein, Dinda; Bahrudin, Moch; Setiawan, Indra
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.341 KB) | DOI: 10.22219/sm.v11i1.4196

Abstract

PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PEKERJA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT DIBANDING NON-PEKERJA. Sistem transportasi mukosiliar hidung merupakan sebuah mekanisme pertahanan yang penting dalam sistem pernapasan, jika fungsinya terganggu akan menimbulkan infeksi dan berbagai penyakit pada saluran pernapasan. Pada industri penyamakan kulit terdapat berbagai paparan uap zat kimia yang merupakan suatu zat iritan yang dapat menyebabkan terganggunya sistem transportasi mukosiliar. Tujuan: Mengetahui perbedaan kecepatan waktu transportasi mukosiliar hidung pada pekerja industri penyamakan kulit dibanding non-pekerja. Metode: Analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengukuran waktu transportasi mukosiliar hidung menggunakan uji sakarin. Sampel penelitian diambil secara simple random sampling dari Kecamatan Singosari dan Kecamatan Lawang dengan jumlah sampel pekerja dan non-pekerja total 50 orang, dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil Penelitian: Penelitian ini mendapatkan hasil rerata waktu transportasi mukosiliar hidung kelompok pekerja 7,32 menit (SD±3,54) dan rerata waktu kelompok non-pekerja 3,49 menit (SD±1,65). Tingkat waktu transportasi mukosiliar hidungantara kelompok pekerja dan non-pekerja menunjukkan perbedaan yang bermakna, diperoleh nilai p = 0,000.  Kesimpulan: Terdapat perbedaan kecepatan waktu transportasi mukosiliar hidung antara pekerja industri penyamakan kulit dibanding non-pekerja.
NYERI KEPALA ‘RHINOGENIC’ Setiawan, Indra
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.22219/sm.v10i1.4151

Abstract

Nyeri kepala banyak dikeluhkan penderita didalam praktek  kedokteran, tetapi berbagai tipe nyeri kepala memberikan perhatian yang semakin tinggi 20 tahun terakhir, artikel ini membahas entang diagnostik dan kriteria nyeri kepala secara umum dan nyeri kepala rhinogenikKata kunci: nyeri kepala biasa, nyeri kepala rhinogenik
GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN MELAKSANAKAN INSTRUKSI SETELAH PENCABUTAN GIGI DI RSGM FK UNSRAT Setiawan, Indra; Mariati, Ni Wayan; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9606

Abstract

Abstract: Instruction after tooth extraction is about what to do and to avoid after tooth extraction which aims to prevent the disruption of wound healing process and any possible complications. This study aimed to know patients’ obedience to the instructions after tooth extraction implemented in RSGM FK Unsrat and at respondents’ houses. This study used mixed methods with a cross sectional design. There were 44 people as respondents obtained by using purposive sampling method. The results showed that some patients ignored instruction, as follows: drug use rules, bite the gauze for 30 minute-1 hour, avoid hot, spicy, hard textured food and not touching the surgery site with tounge. Conclusion: The most ignored instruction by patient was to follow the drug consuming rules.Keywords: instruction after tooth extraction, obediencedAbstrak: Instruksi setelah pencabutan gigi ialah instruksi mengenai hal hal yang sebaiknya dilakukan dan dihindari setelah pencabutan gigi yang bertujuan untuk mencegah terganggunya proses penyembuhan luka dan komplikasi yang mungkin dapat terjadi. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran kepatuhan pasien melaksanakan instruksi setelah pencabutan gigi di RSGM FK Unsrat. Jenis penelitian ini ialah mixed method study dengan desain penelitian potong lintang. Penelitian dilakukan di RSGM FK Unsrat dan di rumah responden dengan jumlah responden 44 orang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data disajikan dalam bentuk diagram dan tabel berdasarkan distribusi frekuensi, serta beberapa pernyataan dari responden. Hasil penelitian menunjukan ditemukan beberapa instruksi yang diabaikan oleh pasien, seperti menaati aturan pakai obat, menggigit kapas atau kassa selama 30 menit-1 jam, menghindari makanan panas, keras, pedas dan tidak menyentuh-nyentuh luka dengan lidah. Simpulan: Instruksi yang paling banyak diabaikan oleh pasien ialah instruksi untuk menaati aturan pakai obatKata kunci: instruksi setelah pencabutan gigi, kepatuhan
Hubungan Kebisingan dengan Peningkatan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Mencit Indra Setiawan
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v7i2.4081

Abstract

Kebisingan merupakan masalah utama kesehatan kerja dan dapat menimbulkan dampak gangguan kesehatan. Eksperimental dan rancangan penelitian yang digunakan adalah the pre test and post test control group design untuk mengetahui perbedaan lama paparan kebisingan intensitas 90 dB pada peningkatan kadar glukosa darah sewaktu pada mencit (Mus Musculus) jantan. Kebisingan dengan lama 140 menit (mean = 57.333) menunjukkan rata-rata gula darah yang tinggi kemudian diikuti kebisingan 125 menit (mean = 33.833),kebisingan 110 menit (mean = 20.00), dan yang menunjukkan rata-rata gula darah yang paling rendah adalah kontrol (mean = 5.833). Ada hubungan lama paparan kebisingan 90 dB selama 110 menit, 125 menit, dan 140 menit dengan peningkatan kadar glukosa darah sewaktu pada mencit (Mus musculus) jantan dan Ada perbedaan lama paparan kebisingan intensitas 90 dB pada peningkatan kadar glukosa darah suatu mencit (Mus musculus) jantan.
NYERI KEPALA ‘RHINOGENIC’ Indra Setiawan
Saintika Medika Vol. 10 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v10i1.4151

Abstract

Nyeri kepala banyak dikeluhkan penderita didalam praktek  kedokteran, tetapi berbagai tipe nyeri kepala memberikan perhatian yang semakin tinggi 20 tahun terakhir, artikel ini membahas entang diagnostik dan kriteria nyeri kepala secara umum dan nyeri kepala rhinogenikKata kunci: nyeri kepala biasa, nyeri kepala rhinogenik
EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA L) TERHADAP SHIGELLA DYSENTERIAE SECARA IN VITRO DENGAN METODE DILUSI TABUNG DAN DILUSI AGAR Senja Ristya Hertanti; Irma Suswati; Indra Setiawan
Saintika Medika Vol. 11 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v11i1.4188

Abstract

Efek Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica papaya, L.) terhadap Shigella dysenteriae secara In Vitro dengan Metode Dilusi Tabung dan Dilusi Agar. Daun pepaya merupakan salah satu tanaman yang mengandung zat aktif, terdiri dari asam organic dan fitosterol, alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, dan polifenol berfungsi sebagai antimikroba terhadap bakteri, salah satunya adalah Shigella dysenteriae. Tujuan untuk membuktikan efek antimikroba ekstrak etanol daun pepaya terhadap pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae secara in vitro. Penelitian memakai rancangan true experiments dengan menggunakan Post Test Only Control. Konsentrasi ekstrak daun pepaya yang digunakan adalah 5%, 10%, 15%, 20%, 25%,30% dan 2 kontrol (kontrol bahan dan kontrol kuman). Analisa data menggunakan one way ANOVA, korelasi, dan regresi. Hasil: Nilai KBM (Kadar Bunuh Minimal) pada konsentrasi 30% Hasil uji one way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan antar perlakuan (p=0,004). Semakintinggi konsentrasi ekstrak etanol daun pepaya, semakin besar kemampuan menghambat dan membunuh bakteri Shigella dysenteriae (r=-0,472). Pemberian konsentrasi ekstrak etanol daun pepaya berpengaruh terhadap penurunan jumlah koloni bakteri Shigella dysenteriae per ml (106) (R2= 22,3%). Nilai KHM (Kadar Hambat Minimal)pada konsentrasi 10%. Hasil uji one way ANOVA  (p=0,066), pada uji korelasi (r=-0,564) dan pada uji regresi didapatkan (R2= 31,9%). Kesimpulan: Ekstrak etanol daun pepaya memiliki efek antimikroba terhadap pertumbuhan koloni Shigella dysenteriae.Kata kunci: Ekstrak etanol daun pepaya, Shigelladysenteriae, KBM, KHM
PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PEKERJA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT DIBANDING NON-PEKERJA Dinda Faullya Zein; Moch Bahrudin; Indra Setiawan
Saintika Medika Vol. 11 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v11i1.4196

Abstract

PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PEKERJA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT DIBANDING NON-PEKERJA. Sistem transportasi mukosiliar hidung merupakan sebuah mekanisme pertahanan yang penting dalam sistem pernapasan, jika fungsinya terganggu akan menimbulkan infeksi dan berbagai penyakit pada saluran pernapasan. Pada industri penyamakan kulit terdapat berbagai paparan uap zat kimia yang merupakan suatu zat iritan yang dapat menyebabkan terganggunya sistem transportasi mukosiliar. Tujuan: Mengetahui perbedaan kecepatan waktu transportasi mukosiliar hidung pada pekerja industri penyamakan kulit dibanding non-pekerja. Metode: Analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengukuran waktu transportasi mukosiliar hidung menggunakan uji sakarin. Sampel penelitian diambil secara simple random sampling dari Kecamatan Singosari dan Kecamatan Lawang dengan jumlah sampel pekerja dan non-pekerja total 50 orang, dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil Penelitian: Penelitian ini mendapatkan hasil rerata waktu transportasi mukosiliar hidung kelompok pekerja 7,32 menit (SD±3,54) dan rerata waktu kelompok non-pekerja 3,49 menit (SD±1,65). Tingkat waktu transportasi mukosiliar hidungantara kelompok pekerja dan non-pekerja menunjukkan perbedaan yang bermakna, diperoleh nilai p = 0,000.  Kesimpulan: Terdapat perbedaan kecepatan waktu transportasi mukosiliar hidung antara pekerja industri penyamakan kulit dibanding non-pekerja.
HUBUNGAN RINITIS ALERGI DAN OBSTRUKTIF SLEEP APNEU DI POLI THT RS UNIVERSITAS MUHAMMADIAYAH MALANG Indra Setiawan
Saintika Medika Vol. 11 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v11i2.4210

Abstract

Latar belakang: OSA, Obstruktif Sleep Apnea menyebabkan henti nafas dan memicu timbulnya penyakit berbahaya.Rinitis alergi dapat mengganggu kualitas tidur penderita. Penderita rinitis alergi beresiko terkena Obstructive Sleep Apnea karena sumbatan jalan napas napas atas secara berulang sehingga aliran udara ke paru-paru menjadi terhambat. Tujuan: mengetahui insiden Rinitis alergi dengan Obstruktif Sleep Apnea di Poli THT RS UMM Januari- Maret 2013 dan hubungan rhinitis alergi dan obstructive sleep apnea pada pasien Poli THT RS Universitas Muhammadiyah Malang. Hasil penelitian:insidensi OSA pada Responden yang menderita Rinitis Alergi 17,6%, gejala rinitis alergi yang paling banyak adalah kelompok rinorea dan nasal congestion dengan jumlah responden sebanyak 55 orang (64.71%), uji Chi Square Rinitis alergi dengan OSA pada pasien Poli THT RS UMM memiliki hubungan yang tidak signifikan (bermakna).Kata kunci : Obstruktif Sleep Apnea