Sandi Jaya Saputra
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RUANG KESEHARIAN SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS Saputra, Sandi Jaya
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1829.637 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v5i1.8706

Abstract

Dalam penelitian ini penulis membedah keseharian ruang personal dengan mengunakan medium fotografi, yaitu objek kamar kos penulis. Tujuannya adalah untuk merepresentasikan identitas dan ruang penulis dari realitas keseharian, lalu menghubungkannya dengan narasi modernitas. Identitas dalam ruang dibentuk oleh struktur dan superstruktur, struktur dipahami sebagai sesuatu hal yang remeh temeh tapi material, yakni benda-benda keseharian yang akrab dengan penulis, sementara super struktur dipahami sebagai wacana yang ideologis dan abstrak, sebagai penggambaran dari ruang ketiga seperti kusen, tembok dan lainnya.  Dalam membedah identitas dan ruang ketiga, serta hubungannya dengan struktur dan super struktur, penulis menggunakan pendekatan foto dokumenter. Pendekatan ini diyakini sebagai cara yang paling tepat, karena dalam foto dokumenter mampu mengurai indeks akan sebuah realita mengenai keseharian dalam kamar kos penulis. Dalam penelitian ini, penulis menunjukan relasi praktik keseharian yang remeh temeh dengan wacana besar modernitas. Atas kondisi tersebut, diharapkan adanya proses nyata yang saling berhubungan antara penulis dengan medium fotografi dan masyarakat.
TAMAN SEMPUR DAN RUANG PUBLIK: Analisis Geo-Semiotik dan Etnografi Justito Adiprasetio; Sandi Jaya Saputra
Jurnal Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2018): VOLUME 13 NO 1 OKTOBER 2018
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol13.iss1.art2

Abstract

Since 2016, Public Park in Indonesia, particularly in West Java has significantly been revitalized. Taman Sempur is one of public parks located in West Java that spent about Rp 2.2 billion for its revitalization process. That massive amount was poured out in order to develop public space for the community. Taman Sempur is a compound where Taman Kaulinan, Taman Skateboard, Taman Ekspresi, big pedestrian and few sports facilities with its own specific functions stand. This research, that applied the combination of geo-semiotic and ethnographic analysis, attempted to observe how meaningful Taman Sempur as urban public space for the community through public space and public sphere approaches. The existing modality indicates that the community have certain attention to participate in Taman Sempur as public space, with some of its flaws in material dimension aspect. At the same time, public sphere nuances still vaguely felt, considering the community’s awareness were not full and even due to habitus individual conflict while becoming part of the “public”.Keywords: Taman Sempur, Urban Public Space, Public Sphere, Geo-Semiotic
Proses review film-film Indonesia oleh komunitas film Cine Crib Sandi Jaya Saputra
ProTVF Vol 5, No 2 (2021): September 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i2.34687

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai proses Cine Crib dalam me-review film-film Indonesia. Cine Crib adalah komunitas film dengan jumlah subscribers YouTube tertinggi (216.000), yang digawangi Aria Gardhadipura, atau yang biasa dipanggil Aria. Kepopuleran Cine Crib saat ini tidak berbanding lurus dengan pemahaman khalayak terkait apa itu review, essay dan kritik film. Melalui penelitian ini, khalayak diharapkan mampu mendapatkan sebuah rujukan yang komprehensif dalam konteks review film. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan empat aspek proses review film-film Indonesia oleh Cine Crib, yaitu: (1) Bagaimana proses Cine Crib sebagai komunitas menentukan film yang akan di-review; (2) Bagaimana menentukan reviewer film; (3) Kaidah apa yang dipakai dalam me-review; dan (4) Bagaimana proses kurasi material video review yang memenuhi standar Cine Crib. Metode deskriptif kualitatif menjadi dipilih untuk memberikan pondasi dari semua tahapan yang dirancang berurut mengenai apa itu review film. Secara teoretis, penulis menggunakan pendekatan Planning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC) yang dicangkokkan dalam penelitian ini untuk melihat apakah Cine Crib bekerja secara terstruktur. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kajian dokumen, wawancara dan observasi. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain: (1) Tidak ada tema khusus dalam me-review film, karena reviewer film diberikan kebebasan sesuai dengan ketertarikan masing-masing; (2) Aria selaku editor dan bisa dikatakan “kurator” tidak menentukan reviewer film; (3) Cine Crib memodifikasi teori umum dalam mengkaji atau mengkritik film sesuai kebutuhan dan kenyamanan reviewer film; dan (4) Aria menentukan proses editing dan kurasi material video review.
RUANG KESEHARIAN SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS Sandi Jaya Saputra
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1829.637 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v5i1.8706

Abstract

Dalam penelitian ini penulis membedah keseharian ruang personal dengan mengunakan medium fotografi, yaitu objek kamar kos penulis. Tujuannya adalah untuk merepresentasikan identitas dan ruang penulis dari realitas keseharian, lalu menghubungkannya dengan narasi modernitas. Identitas dalam ruang dibentuk oleh struktur dan superstruktur, struktur dipahami sebagai sesuatu hal yang remeh temeh tapi material, yakni benda-benda keseharian yang akrab dengan penulis, sementara super struktur dipahami sebagai wacana yang ideologis dan abstrak, sebagai penggambaran dari ruang ketiga seperti kusen, tembok dan lainnya.  Dalam membedah identitas dan ruang ketiga, serta hubungannya dengan struktur dan super struktur, penulis menggunakan pendekatan foto dokumenter. Pendekatan ini diyakini sebagai cara yang paling tepat, karena dalam foto dokumenter mampu mengurai indeks akan sebuah realita mengenai keseharian dalam kamar kos penulis. Dalam penelitian ini, penulis menunjukan relasi praktik keseharian yang remeh temeh dengan wacana besar modernitas. Atas kondisi tersebut, diharapkan adanya proses nyata yang saling berhubungan antara penulis dengan medium fotografi dan masyarakat.
TEATER KEBUDAYAAN SEBAGAI MEDIA PROMOSI WISATA KECAMATAN JATIGEDE, SUMEDANG Santi Susanti; Sandi Jaya Saputra; Sri Seti Indriani; Jimi Narotama Mahameruaji; Lilis Puspitasari; Evi Rosfiantika; Pandu Watu Alam
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.349

Abstract

Gagasan pembangunan Teater Kebudayaan Kecamatan Jatigede (TKKJ) sebagai ruang kreatif dan media promosi wisata berbasis budaya lokal merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Prodi Televisi dan Film FIKOM Unpad. TKKJ dirancang sebagai pusat kolaborasi antara komunitas budaya, akademisi, dan pelaku industri kreatif, dengan fungsi utama menyajikan narasi lokal melalui pertunjukan teater dan konten multimedia. Meskipun belum direalisasikan, konsep ini menawarkan pendekatan inovatif dalam pengembangan pariwisata berbasis pengalaman dan partisipasi masyarakat.Metode yang digunakan meliputi produksi konten kreatif berupa video dan foto promosi, serta perencanaan pembangunan fisik Jatigede Display Room di sekitar Masjid Al-Kamil. Konten audiovisual dirancang untuk menampilkan kekayaan budaya lokal, seperti mitos, sejarah, dan ekspresi seni kontemporer, dengan prinsip multimedia learning untuk meningkatkan daya tarik dan retensi informasi wisatawan. TKKJ diharapkan menjadi creative hub yang memperkuat branding Jatigede sebagai destinasi budaya dan edukatif.Tantangan seperti keterbatasan SDM, pendanaan, dan keberlanjutan program diantisipasi melalui sinergi lintas sektor dan dukungan kebijakan. Dengan perencanaan yang matang dan pelibatan komunitas, TKKJ berpotensi menjadi model promosi wisata budaya yang berkelanjutan dan berdampak sosial.