I Ngurah Suryawan
Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TEKNIKALISASI PEMETAAN WILAYAH ADAT: KETAHANAN SOSIAL BUDAYA ORANG SUMURI DI KABUPATEN TELUK BINTUNI, PROVINSI PAPUA BARAT I Ngurah Suryawan
Masyarakat Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v42i2.671

Abstract

This article aims to analyze the impacts of increasing bussiness investment in Sumuri District, Bintuni Bay, West Papua Province. One of the company social responsbility (CSR) is mapping the customary rights to identify some areas that would become business’s location. As the results, it appears the complexity issues that connect social and cultural resistance to the technicalization of mapping problems. Territorialising indigenous community’sterritories happens and they were trapped in the processes of regulation prepared by the local government and investors. The most difficult challenge is to clear up the process of mapping technicalization that has become into the state and investor perpsectives. Therefore, this article attempts to explore social processes in negotiations between technicalization ofclan territories and expectations of local communities on sociocultural changes. Inthis contestation, imagination about the customs and cultures involved in the current sociocultural changes and the setting becomes very problematic and risky. So, this article is necessary to find out which social and cultural resilience are the local communities expect.Keyword: technicalization processes, mapping, clan territories, conflict, socio-cultural resilienceABSTRAKArtikel ini menganalisis berbagai dampak yang ditimbulkan dari penetrasi investasi di Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Salah satu hal yang dilakukan perusahaan adalah pemetaan hak-hak ulayat marga untuk mengidentifikasi wilayah yang menjadi lokasi perusahaan. Pada momen inilah muncul kompleksitas persoalan yang menghubungkan ketahanan sosial budaya komunitas tempatan dengan teknikalisasipermasalahan pemetaan ini. Teritorialisasi wilayah-wilayah adat terjadi begitu saja dan komunitas tempatan terjebak dalam proses pengaturan yang dipersiapkan oleh negara dan perusahaan. Tantangan terberat pemetaan partisipatif adalah menjernihkan proses teknikalisasi dan pengaturan yang menjadi perspektif dari negara dan perusahaan. Artikel ini mencoba mendalami apa yang terjadi dalam negosiasi antara proses teknikalisasi pemetaan wilayah adat tersebut dengan harapan-harapan yang terbangun dalam diri orang Sumuri tentang perubahan sosial budaya. Dalamkontestasi inilah, imajinasi tentang melibatkan adat dan budaya dalam arus perubahan sosial budaya dan pengaturan menjadi sangat problematik dan riskan. Sehubungan dengan hal itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan sosial budaya apa yang mereka (orang-orang Sumuri) harapkan.Kata kunci: teknikalisasi, pemetaan, wilayah adat, konflik, ketahanan sosial buday
KEBERAGAMAN EKOLOGI BUDAYA MARGA NDIKEN ETNIK MARORI MEN GEY DI KABUPATEN MERAUKE PROVINSI PAPAU I Ngurah Suryawan
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 2 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to understand the diversity of cultural knowledge of the Ndiken clan of the Marori Men Gey ethnic group in Merauke district of Papua Province about the environment. The historical relation of man with the surrounding natural environment fosters natural knowledge, culture, and language in the life of ethnic communities in the land of Papua. The values and knowledge created are inherited and embedded in their daily lives. The diversity of cultural ecological knowledge has become an important source in understanding the e?orts to utilize and conserve natural resources in the land of Papua. Keywords: diversity, cultural ecology, cultural knowledge, conservation, resources Natural resources
MEMBANGUN KAMPUNG ADAT DAN JUGA MELAWAN INVESTASI: ARTIKULASI ADAT DI KABUPATEN JAYAPURA, PAPUA I Ngurah Suryawan
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i1.1179

Abstract

Artikel ini bertitik tolak dari argumen yang ditawarkan oleh Li (2000) bahwa mengartikulasikan adat sarat dengan berbagai kepentingan sekaligus juga pemihakan. Artikulasi adat di Kabupaten Jayapura menunjukkan dua sisi yang saling bertentangan. Artikulasi adat untuk pembentukan kampung adat berelasi dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk pemberdayaan dan mengangkat jati diri masyarakat adat dengan bekerjasama dengan aktivis dan organisasi masyarakat sipil. Sedangkan artikulasi adat yang dilakukan oleh ORPA (Organisasi Perempuan Adat) Suku Namblong yang berada di bawah DAS (Dewan Adat Suku Namblong) berjuang untuk melawan investasi sawit yang masuk ke wilayah mereka yang sering disebut Lembah Grime, Kabupaten Jayapura. Kedua artikulasi adat tersebut menunjukkan bahwa menggunakan wacana dan praktik adat menjadi sangat lentur dan kompleks. Konteks struktur ekonomi politik kampung juga menjadi tantangan dan berdampak penting bagi artikulasi adat itu diterjemahkan.  Argumen artikel ini adalah perlunya melihat adat sebagai sebentuk gerakan yang di dalamnya kompleksitas, kolaborasi, dan keterlibatan komunitas adat dalam memposisikan dirinya untuk terlibat dalam gerakan sosial yang lebih luas.