Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STREET CHILDREN AND BROKEN PERCEPTION: A Childs Right Perspectives Lilis Mulyani
Masyarakat Indonesia Vol 37, No 2 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v37i2.639

Abstract

Anak jalanan merupakan salah satu potret kemiskinan di daerah perkotaandi Indonesia. Mereka menjalani kehidupan yang keras, tidak hanya untukmenghidupi diri mereka, namun kadang-kadang mereka juga harusmenghadapi orang-orang dewasa yang seringkali melakukan kekerasan dalamberbagai bentuk terhadap mereka. Kehidupan jalanan yang keras dan tanpapengawasan orang dewasa merubah pola dan sikap mereka sehingga membuatmereka melakukan hal-hal yang dianggap tidak wajar untuk seorang anak.Mereka memecahkan persepsi masyarakat yang sudah terbentuk tentangkehidupan seorang anak. Kehidupan mereka oleh banyak ahli sosiologidisebut sebagai sebuah bentuk dari sub kebudayaan (sub-culture) dari budayamasyarakat yang ada. Namun dibalik kerasnya hidup dan sikap mereka,bagaimanapun mereka tetaplah anak-anak yang membutuhkan perlindungan.Pendekatan yang dilakukan harus bisa memahami suara-suara mereka, jikatidak, segala upaya membantu dan melindungi mereka akan sia-sia.Kata kunci: anak jalanan, hak anak, sub-kebudayaan
THE UNBROKEN LEGACY: AGRARIAN REFORM OF YUDHOYONOS ERA Lilis Mulyani
Masyarakat Indonesia Vol 40, No 2 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v40i2.112

Abstract

Di saat pemerintahan yang baru akan segera dipilih, Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sebetulnya masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang cukup besar bagi pemerintahan baru. Sebuah program (dan visi) mengenai reforma agraria telah dilaksanakan dalam bentuk proyek rintisan (pilot project) sejak tahun 2007 meskipun kenyataan memperlihatkan bahwa pelaksanaan program ini mendapat banyak tantangan. Sebagai sebuah visi pemerintahan, diujicobakannya program reforma agraria di beberapa daerah sangat menarik, karena telah lama reforma agraria dipetieskan, belum lagi tantangan yang kemudian muncul karena saat ini pemerintah telah terlalu berat berpijak pada sistem ekonomi pasar bebas, sementara di sisi lain masih amat tergantung pada pola-pola kolonial yang mengandalkan industri ekstraktif atas pengelolaan sumber daya alam. Pola-pola industri ekstraktif ini terbukti membawa keuntungan bagi sektor yang mengelolanya sehingga ketika ada suatu program yang membutuhkan elemen terpenting dari industri itu, yaitu tanah dan sumber daya agraria untuk diredistribusikan pada masyarakat miskin, resistensi sektoral kemudian menguat. Dengan menggunakan pendekatan sosio-legal, tulisan ini mencoba mendalami bagaimana peninggalan pemerintahan-pemerintahan yang lalu berupa industri ekstraktif dan pengelolaan sektoral dalam sumber daya agraria, menjadi penghalang dilaksanakannya programprogram berbasis agrarian, termasuk program reforma agraria, baik secara ideologi maupun secara kelembagaan.Kata kunci: Reforma agraria, land reform, Pemerintahan SBY, pengelolaan sumber daya agrarian, institusi ekstraktif