This Author published in this journals
All Journal JURNAL WALENNAE
Bernadeta AKW
Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ERONG: SALAH SATU BENTUK WADAH KUBUR DI TANA TORAJA SULAWESI SELATAN Bernadeta AKW
WalennaE Vol 13 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5713.716 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i2.262

Abstract

Penelitian yang dilakukan dengan metode survei menghasilkan sejumlah data mengenai distribusi wadah penguburan (erong) di wilayah budaya Enrekang Toraja. Erong sebagai wadah berfungsi untuk menempatkan mayat di dalamnya, yang secara implisit juga akan memberikan pengaruh yang kuat pada wadah pengguna dalam mencapai tujuan utamanya, kebahagiaan dalam alam roh untuk orang mati dan kesejahteraan bagi keluarga yang masih hidup. Tana Toraja sebagai daerah budaya, dapat dilihat dari berbagai bentuk warisan material dan juga kebiasaan dan tradisi yang menyertainya masih berlanjut hingga sekarang. Sejumlah situs penguburan gua yang diteliti menunjukkan bahwa erat hubungan antara budaya erong atau duni di Enrekang dan Toraja. Secara geografis, kedua daerah tersebut masih merupakan kesatuan wilayah budaya yang sama, sehingga Toraja dijadikan sebagai areal studi etnoarkeologi. Budaya itu diperkirakan berkembang sebelum Islam diterima secara universal di Sulawesi Selatan.Research using survey method produces some data related to the distribution of burial case (erong) and culture in culture area of Enrekang Toraja. Erong as a case has function to put the human corpse buried inside it. Implicitly it also gives strong influence in order to obtain its main purpose which is to have a happy life in afterlife world and welfare for the living family. Tana Toraja has cultural area which can be seen on various form of heritage materials, habits, and traditions. Those heritage materials still present row on. Some researched cave burial sites show close relationship or erong culture or duni in Enrekang and Toraja. Geographically, these two area are still in the same cultural area, show that Toraja becomes the area for etnoarchaeological study. The development of this culture was estimated before Islam come in universally in South Sulawesi.
SITUS-SITUS MEGALITIK DI KABUPATEN BONE: KAJIAN SEBARAN DAN KRONOLOGI Bernadeta AKW
WalennaE Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.468 KB) | DOI: 10.24832/wln.v16i2.347

Abstract

Megalithic culture research at Labuaja Site, Kahu sub-district and other sites in Bone Regency aims to determine the distribution and chronology. This research doing by survey and excavation techniques. Archaeological data found from megalithic sites in Bone Regency are presented in descriptive analysis. In addition, C14 analysis was also carried out with charcoal in Beta Analytic Inc. Miami, Florida, USA to find out its absolute date. The results showed that megalithic sites in Bone had a fairly even distribution and occupy the slope to hilltops with a height of 28 - 218 meters above sea level. The results of radiocarbon dating indicate that the age of the site and megalithic culture in Labuaja, Bone ranges from 400 - 190 BP (around the 15th-17th century AD). Based on that date, the megalithic culture in Labuaja began in the golden age of the kingdom of Bone. Megalithic culture in Bone has associations with natural resources such as rivers and rice fields which are very supportive in the activities of human life that depend on agricultural resources. With the exploitation of agricultural resources, thus produce the social system and ideology adopted by the people who reach the Islamic period.  Penelitian kebudayaan megalitik pada situs Labuaja, Kecamatan Kahu dan situs-situs yang lainnya di Kabupaten Bone bertujuan untuk mengetahui sebaran dan menentukan kronologinya. Penelitian ini dilakukan dengan teknik survei dan ekskavasi. Data arkeologis yang ditemukan dari situs situs megalitik di Kabupaten Bone disajikan dalam bentuk deskriptif analisis. Selain itu, dilakukan pula analisis C14 dengan bahan arang di Beta Analytic Inc Miami Florida, USA untuk mengetahui pertanggalan absolutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs megalitik di Bone memiliki sebaran yang cukup merata dan menempati wilayah lereng hingga puncak bukit dengan ketinggian antara 28 – 218 meter di atas permukaan laut. Hasil pertanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa umur situs dan kebudayaan megalitik di Labuaja, Bone berkisar antara 400 – 190 BP (sekitar abad ke-15–17 Masehi). Berdasarkan pertanggalan tersebut, kebudayaan megalitik di Labuaja berawal pada zaman keemasan kerajaan Bone. Kebudayaan megalitik di Bone memiliki asosiasi dengan sumber-sumber alam seperti sungai dan persawahan yang sangat menunjang dalam aktivitas kehidupan manusia yang bergantung pada sumber sumber pertanian. Dengan kegiatan eksploitasi sumber pertanian, sehingga melahirkan sistem sosial dan ideologi yang dianut oleh masyarakat yang menjangkau periode Islam.