Yadi Mulyadi
Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL WALENNAE

PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR BUDAYA SULAA DI KOTA BAU-BAU, SULAWESI TENGGARA Yadi Mulyadi
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4072.139 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i1.225

Abstract

Cultural resource management is not only focused on archaeological remains, but also in­cludes other cultural remains in an area. Therefore, the management of cultural resources located in one area, it's conducted in the frame of management of the heritage area. The main subject of cultural resource management of heritage area is a space where cultural resources are. This study focuses on the management of Sulaa Heritage Area which is located in the coastal area of Bau-Bau, Sulawesi Tenggara Province. It is located in the coastal beach, making the management of Sulaa Heritage Area can not be released with local management and integrated coastal area. Therefore, the proposed management model is management based on spatial. Objects of research are cultural resources found in the area, including Sulaa heritage sites and other cultural resources such as customs, religious rituals and traditional handicrafts. Heritage site consists of Moko Cave, Ancient Tomb Betoambari and Kasulana Tombi Sipanjonga. Customs include traditional dances and ceremonies which reflect the cycle of human life. Religious rituals consist of Pakandeana Anana Maelu, Sumpuana Uwena Syafara, Gorana Oputa, Mauluduna Hukumu, Haroa Rajabu, and Nisifu Syabani. Tradi­tional handicrafts such as handmade weaving crafts typical Buton. The management of Sidaa Heritage Area integrate cultural resources management and landscape of Sulaa area. Thus, this region is integrating cultural and natural heritage as heritage objects that has significant value to maintain the perspective of preservation concept. The expected impact is not only preserving the cultural and natural resources, but also carrying out sustainable benefit for the local community.Pengelolaan sumber daya budaya tidak hanya berfokus pada peninggalan arkeologis, tetapi juga termasuk peninggalan budaya lainnya di suatu daerah. Karena itu, pengelolaan sumber daya budaya yang berada di satu kawasan, itu dilakukan dalam kerangka pengelolaan kawasan cagar budaya. Subjek utama dari pengelolaan sumber daya budaya kawasan cagar budaya adalah ruang di mana sumber daya budaya berada. Penelitian ini berfokus pada pengelolaan Kawasan Warisan Sulaa yang terletak di kawasan pesisir Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Letaknya di pantai, membuat pengelolaan Kawasan Warisan Sulaa tidak bisa dilepaskan dengan pengelolaan lokal dan kawasan pesisir terpadu. Oleh karena itu, model manajemen yang diusulkan adalah manajemen berdasarkan spasial. Objek penelitian adalah sumber daya budaya yang ditemukan di daerah tersebut, termasuk situs warisan Sulaa dan sumber daya budaya lainnya seperti adat, ritual keagamaan, dan kerajinan tangan tradisional. Situs warisan terdiri dari Gua Moko, Makam Kuno Betoambari dan Kasulana Tombi Sipanjonga. Adat istiadat termasuk tarian dan upacara tradisional yang mencerminkan siklus kehidupan manusia. Ritual keagamaan terdiri dari Pakandeana Anana Maelu, Sumpuana Uwena Syafara, Gorana Oputa, Mauluduna Hukumu, Haroa Rajabu, dan Nisifu Syabani. Kerajinan tradisional opsional seperti kerajinan tenun khas Buton. Manajemen Area Warisan Sidaa mengintegrasikan pengelolaan sumber daya budaya dan lansekap wilayah Sulaa. Dengan demikian, kawasan ini mengintegrasikan warisan budaya dan alam sebagai benda cagar budaya yang memiliki nilai signifikan untuk mempertahankan perspektif konsep pelestarian. Dampak yang diharapkan tidak hanya melestarikan sumber daya budaya dan alam, tetapi juga membawa manfaat berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
PERENCANAAN TATA RUANG KAWASAN CAGAR BUDAYA BAWAH AIR GUA MOKO, DI KOTA BAUBAU SULAWESI TENGGARA Yadi Mulyadi
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4948.413 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.253

Abstract

Situs arkeologi bawah air Gua Moko terletak di Pantai Nirwana di Betoambari, Baubau, Provinsi Sulawesi Seiatan. Situs Gua Moko merupakan satu-satunya situs arkeologi bawah air berupa gua yang terdapat di Indonesia. Fakta ini, semakin memperlihatkan bukti bahwa kajian arkeologi bawah air tidak hanya difokuskan pada kapal karam di laut semata. Dalam konteks pengelolaan berbasis komunitas tinggalan arkeologi bawah air, berdasarkan pada sumberdaya lokal berupa sumberdaya budaya termasuk ruang, lansekap dan ekosistem di sekitarnya. Terkait dengan pernyataan tersebut, salah satu yang penting dalam mewujudkan pengelolaan berbasis komunitas adalah perencanaan tata ruang. Hasil kajian memperlihatkan bahwa perencanaan tata ruang yang melibatkan masyarakat dalam konteks kekinian tidak mudah dilakukan. Terdapat banyak nilai, kepentingan, dan aspek lain yang harus diakomodasi. Setidaknya kajian ini menjadi langkah awal dalam perencanaan tata ruang area situs arkeologi bawah air, semoga langkah kecil ini menjadi sesuatu yang besar di masa yang akan datang. The Underwater archaeology sites, named Moko cave located in Nirwana beach which is administratively belonged to Betoambari, Baubau Southeast Sulawesi province. Moko is the only underwater archaeology cave sites in Indonesia. This fact brings us to realize that underwater archaeology study not only focused on the shipwreck at sea. In the context of community-based management of the underwater archeological remains which intended, according to the local resource is in form of cultural resources, including space and landscape and the ecosystem around it. Related to previous statement, one thing that is important in creating community-based management is a spatial region plans. Study conducted shows that the spatial arrangement of a site involving society in the present context is not an easy thing to do. There are a lot of values, interests, sectors and other aspects must be considered and accommodated. However this study expected to at least be a first step in arranging the spatial underwater archaeology heritage area, hopefully, this small step, will be greater someday future.
MEREKONSTRUKSI SEJARAH UNHAS MELALUI PRASASTIPRASASTI DI KAMPUS TAMALANREA Yadi Mulyadi
WalennaE Vol 14 No 2 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3454.157 KB) | DOI: 10.24832/wln.v14i2.382

Abstract

Prasasti sebagai produk budaya material yang memuat informasi berupa teks tertulis yang ditorehkan padasebuah bidang tertentu telah menjadi salah satu objek kajian dalam penelitian arkeologi. Di Indonesiapenelitian mengenai prasasti lebih banyak dilakukan pada objek prasasti dari periode Hindu Budha.Tradisi penulisan teks pada prasasti terus berlanjut pada periode Islam dan bahkan sampai sekarang. Saatini prasasti masih tetap dibuat terutama prasasti pendirian atau peresmian suatu gedung atau bangunantertentu. Penelitian ini mengkhususkan kajian terhadap prasasti-prasasti pendirian dan peresmian yangterdapat di kampus Universitas Hasanuddin di Makassaar yang berasal dari kurun waktu 1977-2015.Objek prasasti dikaji melalui penerapan metode semiotik. Selain itu jenis bahan prasasti yangdipergunakan dan letak prasasti menjadivariabel yang dianalisis. Variabel penelitian itu kemudiandianalisis secara kontekstual untuk menghasilkan interpretasi berupa rekonstruksi sejarah UniversitasHasanuddin dari perspektif arkeologi.Inscription as a product of material culture that contains information in the form of a written text isinscribed on a particular field has become one of the object of study in archaeological research. InIndonesia, more research on the inscriptions made on objects of the period of Hindu Buddhistinscriptions. The tradition of writing the text on the inscription continues on the Islamic period and evenup to now. Currently the inscription still made mainly inscription establishment or the inauguration of abuilding or a particular building. This study specialized study of inscriptions establishment andinauguration located on the campus of the University of Hasanuddin in Makassar originating from theperiod 1977-2015. Objects inscriptions studied through the application of semiotic methods. Besides thetype of materials used and the location of the inscription into the variables analyzed. Variables were thenanalyzed to generate a contextual interpretation of the history of the Hasanuddin University in the form ofreconstruction of archaeological perspective.