Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Mobile Technology in Indonesian Nursing Education: Potential and Challenge David Sulistiawan Aditya; Edy Suprayitno
Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2021): January
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.034 KB) | DOI: 10.22219/jk.v12i1.14456

Abstract

Introduction: Mobile technology such as smartphones and laptops have been a potential learning tool in both academic and clinical facets of nursing education. However, potentials and challenges of m-technology vary depending on individual, social, technological, and pedagogical conditions. And, studies of this issue in developing countries are lacking. Objective: This study aims to explore the potentials and challenges of m-technology integration in Indonesian nursing education. Method: 25 nursing faculties from three different nursing schools in Yogyakarta participated through an online questionnaire. 8 of them were purposely taken for semi -structured interviews. The data were presented cross-sectionally through descriptive statistics and ascertained with participants voices.  Results: The findings delineated how mobile technology leveraged in both academic and clinical of nursing instructions. Three main potentials identified were to promote ubiquitous learning, build autonomous learning, and enhance technological knowledge. Technology affordances, psychological aspects, and nursing students attitude emerged as challenges in the current nursing education context. Social, individual, technological, and pedagogical aspects were discussed. Conclusion: Mobile technology is potential to mediate and provide better learning for nursing students in academic and clinical settings. However, faculties’ pedagogical knowledge and learning regulation of online learning are required to be analysed further.
Kecemasan Dan Stress Pasien Diabetes Milietus Tipe II Doddy Yumam Prasetyo; Edy Suprayitno
Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah Vol 17, No 1 (2021): Juni
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.627 KB) | DOI: 10.31101/jkk.1775

Abstract

Menurut International Diabetes Federation (IDF) saat ini sudah ada sekitar 230 juta penderita diabetes dengan angka kejadian naik 3 % setiap tahun.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan dan stress pada penderita DM tipe II di wilayah yogyakarta bagian tengah. Metode penelitian ini adalah deskripsi analitik dengan purposive sampling, instrumen menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scales dan  analisa data menggunakan  chi square  Hasil penelitian terhadap 30 orang responden dalam kondisi cemas berat 11 orang  dipengaruhi usia, jenis kelamin, pendidikan dan lama DM tipe II dengan p0,05 sedang stress dalam kondisi sedang dan berat 10 orang  dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan pendidikan dengan p 0,05.
Pengaruh edukasi swamedikasi terhadap pengetahuan swamedikasi rasional pada mahasiswa keperawatan Dewi Hastuti; Edy Suprayitno; Lutfi Nurdian Asnindari
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2805

Abstract

Background: Self-medication is a common practice in the community, but a lack of knowledge about rational self-medication can lead to irrational drug use and health risks. Purpose: To determine the effect of self-medication education on the level of rational self-medication knowledge of nursing students. Method: This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. Thirty-one seventh-semester nursing students were selected using a proportional random sampling technique. Respondents' knowledge levels were measured using a 12-question self-medication knowledge questionnaire. The self-medication education intervention was delivered through a lecture method, accompanied by the distribution of booklets after the completion of the study as a long-term learning tool. Results: The pre-test showed that respondents' knowledge levels regarding rational self-medication were below the maximum level in the domains of drug classification, drug use, and drug storage. After the education, respondents' knowledge scores improved. The Wilcoxon test results showed that 93.55% of respondents experienced an increase in knowledge scores, with a statistically significant difference between pretest and posttest scores (Z = -4.706; p < 0.0001). Conclusion: Self-medication education significantly improved knowledge of rational self-medication among nursing students.   Keywords: Education; Nursing Students; Rational Drug Use; Self-Medication.   Pendahuluan: Swamedikasi merupakan praktik yang banyak dilakukan di masyarakat, namun kurangnya  pengetahuan swamedikasi rasional dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidak rasional dan berisiko terhadap kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi swamedikasi terhadap tingkat pengetahuan swamedikasi rasional mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Jumlah responden sebanyak 31 mahasiswa keperawatan semester VII yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuisioner tingkat pengetahuan terhadap swamedikasi berisi 12 pertanyaan. Intervensi Edukasi swamedikasi diberikan melalui metode ceramah disertai dengan pembagian booklet setelah rangkain penelitian selesai sebagai media pembelajaran jangka panjang. Hasil: Pretest menunjukkan tingkat pengetahuan swamedikasi rasional responden menunjukkan tingkat pengetahuan awal yang belum mencapai skor maksimal pada domain penggolongan obat, penggunaan obat, dan penyimpanan obat. Setelah dilakukan edukasi terjadi peningkatan skor pengetahuan pada responden. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa 93.55% responden mengalami peningkatan skor pengetahuan dengan perbedaan yang bermakna secara statistic antara nilai pretest dan posttest (Z = -4.706; p < 0.0001). Simpulan: Edukasi swamedikasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan swamedikasi rasional pada mahasiswa keperawatan.   Kata Kunci : Edukasi; Mahasiswa Keperawatan; Penggunaan Obat Rasional; Swamedikasi.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Kanker Yang Menjalani Kemoterapi Di RS PKU Muhammadiyah Gamping Alice Alvina Salsabila; Sriyati Sriyati; Edy Suprayitno
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.664

Abstract

Kemoterapi merupakan terapi sistemik untuk menghancurkan sel kanker, namun sering menimbulkan efek samping fisik dan psikologis yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Secara global, kanker masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua di dunia dengan angka kejadian yang terus meningkat. Di Indonesia, prevalensi kanker sebesar 1,2 per mil, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai wilayah dengan prevalensi tertinggi. Dalam kondisi tersebut, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang dapat membantu pasien beradaptasi dengan dampak penyakit dan terapi. Dukungan emosional, informasional, penghargaan, dan instrumental dari keluarga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis serta mempertahankan kualitas hidup pasien selama menjalani kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain deskriptif kolerasional dan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 66 pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi di RS PKU Muhammadiyah Gamping, dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui data primer melaluikuisioner yang diberikan kepada responden. Istrumen penelitian yaitu kuisioner dukungan keluarga dan kuisioner kualitas hidup pasien kanker dan telah teruji validitas dan reabilitasnya. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik responden (jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, skor dukungan keluarga, dan kualitas hidup pasien). Analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pasien kanker. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah lansia akhir (37,9%), perempuan (75,8%), berpendidikan SD (30,3%), ibu rumah tangga (54,5%), dan menikah (74,2%). Sebagian besar menjalani kemoterapi 1–3 bulan (50,0%) serta memperoleh dukungan utama dari suami (47,0%). Hal ini menunjukkan peran keluarga sebagai sistem pendukung utama pasien di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dukungan keluarga mayoritas berada pada kategori baik (92,4%), terutama dukungan instrumental (72,7%) dan informasi (71,2%), diikuti dukungan emosional dan penghargaan (62,1%). Kualitas hidup pasien sebagian besar berada pada kategori baik (87,9%). Uji Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup (p = 0,048; ρ = 0,249) dengan arah positif dan kekuatan lemah. Artinya, semakin baik dukungan keluarga, semakin baik kualitas hidup pasien. Disarankan agar tenaga kesehatan meningkatkan edukasi dan pelibatan keluarga dalam perawatan guna mendukung kualitas hidup pasien selama kemoterapi.
Hidroterapi Rendam Kaki Air Hangat Menurunkan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Tarisa Sukma Ayu; Edy Suprayitno; Diyah Candra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.670

Abstract

Latar belakang : Hipertensi menjadi gangguan kesehatan yang dominan pada kalangan usia lanjut dan berperan signifikan dalam memicu tingginya risiko jantung dan pembuluh darah. Selain terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis sederhana yang mudah diterapkan di komunitas diperlukan untuk membantu pengendalian tekanan darah. Salah satu pendekatan non-farmakologi yang dapat memberikan sensasi relaksasi dan memicu pelebaran pembuluh darah perifer adalah hidroterapi melalui perendaman kaki menggunakan air hangat. Tujuan : Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat terhadap perubahan nilai tekanan darah pada kelompok lansia yang mengalami hipertensi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen tipe one-group pretest-posttest. Partisipannya berjumlah 45 orang lansia penderita hipertensi yang direkrut melalui metode total sampling di Posyandu Uswatun Hasanah. Intervensi yang diberikan adalah perendaman kaki dalam air hangat (suhu 38ºC-40ºC) selama tiga hari berturut-turut. Data tekanan darah dikumpulkan pada dua titik waktu menggunakan tensimeter digital yang terkalibrasi. Selanjutnya dilakukan analisis statistik non-parametrik dengan uji Wilcoxon yang digunakan untuk memancarkan perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil : Terdapat penurunan signifikan pada kedua parameter tekanan darah setelah intervensi. Rata-rata tekanan sistolik turun hingga 21.1 mmHg (dari 168.7 menjadi 147.6 mmHg), sementara tekanan diastolik berkurang 14.3 mmHg (dari 96.7 menjadi 82.4 mmHg). Hasil uji Wilcoxon memperkuat temuan ini dengan nilai p < 0.001 dan effect size yang besar (r = 0.87), yang mengindikasikan besarnya dampak intervensi. Kesimpulan : Terapi rendam kaki menggunakan air hangat memberikan efek positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi. Pendekatan non-farmakologis ini berpotensi dikembangkan sebagai intervensi suportif yang mudah dilakukan, tidak membahayakan, serta sesuai untuk implementasi di tingkat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.