Hot Marangkup Tumpal Sianipar
Universitas Gadjah Mada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENERAPAN MANASARA-SILPASASTRA SEBAGAI FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMILIHAN LETAK PETIRTAAN DEREKAN DALAM KOMPLEKS CANDI NGEMPON, SEMARANG, JAWA TENGAH Abednego Andhana Prakosajaya; Hot Marangkup Tumpal Sianipar; Rizal Hendra Pratama
WalennaE Vol 19 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i1.424

Abstract

Terdapat beberapa petirtaan di Jawa Tengah yang merupakan bagian integral dari sebuah candi. Fenomena ini dapat dilihat pada tata ruang Candi Ngempon yang terletak tidak jauh dari Petirtaan Derekan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kitab Manasara-Silpasastra yang memengaruhi tata letak petirtaan dengan suatu candi sebagai satu bagian integral. Penelitian ini dilakukan dengan analisis data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka dan wawancara. Data sekunder tersebut kemudian menjadi dasar dilakukannya crosscheck dengan melakukan pengamatan lapangan. Dari metode tersebut diperoleh kesimpulan bahwa tata ruang Pechaka dalam Manasara[1]Silpasastra diduga menjadi dasar pemilihan letak Candi Ngempon yang berada di sisi timur laut Petirtaan Derekan sehingga menunjukan adanya penerapan kitab Manasara-Silpasastra dalam kasus ini   There are several petirtaans or bathing structures in Central Java that become an integral part of a temple complex. Such a phenomenon can be seen in the layout of Ngempon Temple and Petirtaan Derekan which are located close to each other. This research aims to analyze the implementation of the book of Manasara-Silpasastra in the layout of Petirtaan Derekan and Ngempon Temple as an integrated whole. The research was carried out by analyzing secondary data obtained from a literature review and interviews. The secondary data were corroborated with data obtained from field observations. Results of the analysis indicate that the layout of Pechaka in Manasara-Silpasastra might become the basis for the positioning of Ngempon Temple at the northeast of Petirtaan Derekan. This shows that the book of Manasara-Silpasastra might be implemented in the layout of the complex of Ngempon temple.
Arsitektur Masjid Agung Surakarta sebagai Wujud Akulturasi Budaya Hasna Dzaki Asasi; Hot Marangkup Tumpal Sianipar
Sosial Budaya Vol 18, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i2.13169

Abstract

Masjid Agung Surakarta dibangun bersamaan dengan pemindahan pusat Kerajaan Mataram Islam dari Kartasura ke Surakarta setelah peristiwa Geger Pecinan oleh Paku Buwono II. Masjid Agung Surakarta didirikan sebagai lambang kekuasaan sebuah kerajaan yang bernafaskan Islam. Peran yang dimiliki oleh Masjid Agung Surakarta begitu penting karena selain menjadi tempat ibadah anggota kerajaan dan masyarakat sekitar, masjid yang berstatus sebagai masjid kerajaan ini juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan sosial sekaligus berbagai macam acara yang menyangkut kepentingan keraton dalam menyiarkan dakwah Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan wujud akulturasi budaya yang tampak dari segi arsitektur bangunan Masjid Agung Surakarta. Penelitian yang termasuk ke dalam kajian arkeologi ini menggunakan penalaran induktif. Adapun metode penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya akulturasi berbagai macam budaya pada arsitektur Masjid Agung Surakarta. Akulturasi ini disebabkan oleh beberapa alasan.
PRAKTIK PERDUKUNAN MENURUT TIGA PRASASTI PENINGGALAN KEDATUAN SRIWIJAYA ABAD KE 6 – 7 MASEHI Hot Marangkup Tumpal Sianipar; Abednego Andhana Prakosajaya; Ayu Nur Widiyastuti
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.186

Abstract

Praktik perdukunan banyak digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Salah satunya ialah penggunaan santet (ilmu magis) dari seorang dukun. Ini dinilai sebagai tindakan yang merugikan dan membahayakan masyarakat. Praktik perdukunan memang sudah mengakar di Nusantara seperti terlihat pada prasasti-prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya. Penelitian ini mengambil objek penelitian tiga prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya, yakni prasasti Kota Kapur, Palas Pasemah, dan Telaga Batu. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk praktik dan sifat perdukunan dalam tiga prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya. Penelitian yang termasuk ke dalam ranah kajian ilmu epigrafi ini menggunakan penalaran induktif. Metode penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian terhadap tiga prasasti berangka tahun abad 6-7 M ini menunjukkan bahwa isi tiga prasasti ini mengandung kalimat-kalimat yang mengindikasikan adanya praktik perdukunan. Praktiknya adalah mencelakakan dan merugikan seseorang. Praktik ini beraliran hitam dan bersifat negatif sehingga dilarang oleh pemerintah Kedatuan Sriwijaya. Pelakunya akan mendapatkan kutukan dari raja sebagai hukuman.