Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : KURVATEK

DAYA TAMPUNG TANAH TERHADAP INFILTRASI AIR PERMUKAAN PADA KASUS GENANGAN AREA PERSAWAHAN DESA KATEKAN, GANTIWARNO, KLATEN. Wisnu Aji Dwi Kristanto; Hurien Helmi
KURVATEK Vol 4 No 1 (2019): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v4i1.1117

Abstract

Lahan pertanian yang tersedia di Indoesia semakin terbatas. Keterbatasan yang ada dibarengi dengan pemanfaatan yang kurang maksimal. Faktor material penyusun tanah lahan pertanian menjadi salah satu penyebab utama kurang maksimalnya pemanfaatan lahan pertanian. Perbedaan material penyusun tanah, menyebabkan karakter tanah satu dengan yang lain berbeda, diantaranya adalah kemampuan tanah untuk menampung dan meloloskan air. Kemampuan ini sangat mempengaruhi tingkat produktifitas tanah lahan pertanian. Sebagai contoh, tanah pasiran memiliki kemampuan menampung air lebih kecil dibanding dengan tanah lempungan. Tanah dengan ukuran butir pasir halus-pasir kasar memiliki kecepatan meloloskan air sebesar 10-2-10 mm/dtk, sedangkan tanah dengan ukuran butir lanau-lempung  memiliki kecepatan meloloskan air sebesar 10-5-10-8mm/dtk. Desa katekan merupakan daerah yang area persawahannya sering digenangi oleh air permukaan dalam waktu yang tidak wajar pada saat musim penghujan.Dengan pengamatan kondisi geologi dilapangan, Desa Katekan tersusun oleh endapan alluvial lempung di seluruh area persawahan. Sedangkan area yang lain terdiri dari endapan alluvial lempung pasiran. Desa katekan dengan luas lahan pertanian 70,6 ha, dibagi menjadi area persawahan bagian selatan dan bagian utara.Berdasarkan analisa batas cair dan batas plastis, diperoleh daya tampung tanah lapisan atas area persawahan Desa Katekan terhadap infiltrasi air permukaan sebesar 131.219.550 liter untuk area persawahan bagian selatan dan 288.307.415 liter untuk area persawahan bagian utara, permasalahan genangan air permukaan disebabkan oleh kecepatan infiltrasi atau kemampuan meloloskan air kebawah permukaan yang sangat kecil yaitu 0,864 mm/hari  untuk area persawahan bagian selatan dan 0,0864 mm/ hari untuk area persawahan bagian utara sehingga air lebih banyak tertahan dipermukaan menjadi genangan. Kata kunci: Genangan, Daya Tampung Tanah, Batas Cair, Lempung
KONTROL GEOLOGI TERHADAP PEMUNCULAN MANIFESTASI PANASBUMI DI KAWASAN GUNUNG LAWU Hurien Helmi; Hengky Kurniawan; Widi Adam
KURVATEK Vol 5 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v5i1.1790

Abstract

Gunung Lawu exhibit a prominent geothermal manifestation indicate promising geothermal potentials. The occurence of geothermal manifestations around the volcano indicates the occurrence of geothermal system in the area. Further detail investigations are required to confirm the occurrence of a well established geothermal system. Information about the geological factors controlling the geothermal manifestation is crucial to understand the geothermal system in an area. We analyze the previously available geological maps, lineament density, and geochemical analysis of the hotsprings in the area of Mt. Lawu to understand the correlation between the geological condition, especially the structural geology and the geothermal manifestation. Our results indicates that the occurence of the geothermal manifestations in the area is not directly correlated with the mapped major normal faults, but instead with the minor fracture regions. The lineament fractal density analysis also indicate that the high fractal density value does not coincide with the faults. The faults are located in the regions of medium fractal density. It is likely that the high lineament fractal density is mostly controlled by surface processes insetad of representing tectonic significance. The occurrence of the geothermal manifestations are located in the medium lineament density value, which may represented areas with minor fractures. Geochemical analysis supports this interpretation, analysis of the geochemistry of the samples taken from Cumpleng and Ngunut hotsprings shown bicarbonate-type. We also observe the presence of limonite and travertin deposits. This type of geothermal fluids and mineral deposits are commonly associated with the presence of fractures and cracks below or near the surface.
DETERMINATION OF COAL RANKING BASED ON MACERAL ANALYSIS IN TANJUNG BELIT REGION, DHARMASRAYA REGENCY, WEST SUMATERA PROVINCE Obrin Trianda; Paramitha Tedja Trisnaning; Rizqi Prastowo; Hurien Helmi
KURVATEK Vol 7 No 2 (2022): Energy Management and Sustainable Environment
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v7i2.3169

Abstract

Daerah penelitian berada pada Desa Tanjung Belit, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat yang termasuk dalam Cekungan Sumatera Selatan, Sub-Cekungan Jambi. Metode penelitian berupa pemetaan dan pengambilan conto sampel batubara yang dilakukan sebagai dasar analisa maseral dan piroksimat. Berdasarkan dari hasil analisis maseral, pada daerah penelitian dapat dibedakan menjadi dua seam batubara, yaitu Seam A dan Seam B. Hasil analisis RV (Refletan Vitrinite), Seam A batubara mempunyai nilai 0,47% yang menunjukkan hasil kalori batubara seam A berupa High Volatile Bituminous C. Seam B memiliki nilai RV sebesar 0,39% – 0,46% yang menunjukkan nilai kalori berupa Sub Bituminous. Hasil analisis maseral Seam A dan Seam B memiliki perbedaan yang cukup besar dalam kelompok inertinite, yaitu: Seam A memiliki nilai inertinte 3,0% – 4,4% dan Seam B memiliki nilai inertinte 12% – 18.8%. Nilai vitrinite tinggi mencirikan pembentukan batubara pada kelompok ini berasal dari tumbuhan yang telah terbakar dan sebagian besar berasal dari proses oksidasi maseral lainya (dexarboxylaction). Proses oksidasi maseral terjadi disebabkan oleh bakteri dan jamur, sehingga akan meningkatkan abu dan sulfur pada suatu batubara.