Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

NATRIUM SILIKAT SEBAGAI BAHAN PENGHAMBAT API AMAN LINGKUNGAN Effendi, Achmad Hidajat
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.594 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v8i3.432

Abstract

This research aims at investigating the effectiveness of fire retardant siliceous based materials which is made of natrium silicate (Na2SiO3.2H2O). Factors related to selection of mixed composition with respect to fire such as the easiness in processing or coating as well as the optimum weight of coating per m2 are investigated. Experimental method is used in this research with equipment used in this experiment include Fire Propagation Test Apparatus (based on JIS A 1321, 1994, # 605). Experiment is done on Borneo and Red Meranti Wood and comparison is done on the result of test undertaken on these types of wood which are treated with siliceous based fire retardant materials. Investigation also reveals that the more natrium silicate absorbed by the wood will increase the temperature rise (td è) and smoke developed index. Experiment on mixture composition of 1 : 1 on both woods has proven it. The best mixture of siliceous based fire retardant against fire while ensuring ease workmanship is under the ratio 7 : 1 up to 10 : 1, with the layer optimum weight per m2 is approximately 0.7 kg. Using this type of fire retardant has proven the increase in the quality ofBorneo wood and Red Meranti wood from quality class 4 (Semi fire retardant) to become quality class 2 (Semi non combustible).
NATRIUM SILIKAT SEBAGAI BAHAN PENGHAMBAT API AMAN LINGKUNGAN Achmad Hidajat Effendi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 8 No. 3 (2007): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.594 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v8i3.432

Abstract

This research aims at investigating the effectiveness of fire retardant siliceous based materials which is made of natrium silicate (Na2SiO3.2H2O). Factors related to selection of mixed composition with respect to fire such as the easiness in processing or coating as well as the optimum weight of coating per m2 are investigated. Experimental method is used in this research with equipment used in this experiment include Fire Propagation Test Apparatus (based on JIS A 1321, 1994, # 605). Experiment is done on Borneo and Red Meranti Wood and comparison is done on the result of test undertaken on these types of wood which are treated with siliceous based fire retardant materials. Investigation also reveals that the more natrium silicate absorbed by the wood will increase the temperature rise (td è) and smoke developed index. Experiment on mixture composition of 1 : 1 on both woods has proven it. The best mixture of siliceous based fire retardant against fire while ensuring ease workmanship is under the ratio 7 : 1 up to 10 : 1, with the layer optimum weight per m2 is approximately 0.7 kg. Using this type of fire retardant has proven the increase in the quality ofBorneo wood and Red Meranti wood from quality class 4 (Semi fire retardant) to become quality class 2 (Semi non combustible).
PENERAPAN NSPM BIDANG KESELAMATAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Achmad Hidajat Effendi; Suprapto .
JURNAL STANDARDISASI Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v9i2.31

Abstract

Basically Ministry of Public Works has issued a number of norms, standard, guidelines and manuals (hereinafter named as NSPM). The questions arises on how far such issued NSPMs particularly related to buildings and housings have fulfilled the need of the users. This is the intention of this research. The methods used comprises survey and interview, gathering field data and proceeded through statistical analysis. The results of research which are focused on SNI 03-1746-2000 concerning means of escape, SNI 03-3989-2000 on sprinkler systems and SNI 03-1745-2000 pertaining standpipe and hose showed a significant data. About 76.5 % of the respondent know these standards, however 42.2 % of the respondent suggested to increase dissemination. 41.9 % of the respondent do not clearly understand the substances. 44.1 % of the respondent suggested to revise the standards, while a more detailed technical guidelines were suggested to be made by 71.4 % of the respondent.
Kajian Kinerja Kompor Aman Kebakaran dan Hemat Energi (Kompor Ahe) Effendi, Achmad Hidajat
Jurnal Permukiman Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.15-29

Abstract

Kajian ini dimaksud untuk melakukan pengembangan kompor minyak bersumbu yang umum digunakan masyarakat melalui modifikasi bejana minyak dengan pendingin air untuk meminimasi kemungkinan kompor meledak yang bisa menimbulkan kebakaran, serta menciptakan prototipe kompor minyak bersumbu yang hemat energi. Hemat energi disini dilakukan dengan cara menghitung efisiensi kompor untuk mengetahui seberapa besar energi panas pembakaran minyak dapat dialihkan secara berguna kepada beban masak. Dengan demikian diusahakan sebanyak mungkin panas dialihkan hingga mencapai efisiensi maksimum. Kondisi ini dicapai apabila tingkat efisiensi lebih dari 50 %, dan energi yang terbuang tidak tertumpuk pada kompor. Kompor aman kebakaran dan hemat energi ini memiliki keunggulan, yakni hemat pemakaian minyak tanah dengan nilai efisiensi 65,35 %, aman terhadap bahaya kebakaran dengan temperatur minyak 34,88ºC dan temperatur permukaan bejana minyak 39,94ºC dapat memanfaatkan bahan limbah kaleng bekas, atau 100 % menggunakan bahan lokal. Disamping itu jenis kompor ini ternyata memenuhi persyaratan SNI 12-3745-1999 tentang kompor minyak tanah bersumbu.
Selimut Api sebagai Sarana Pemadam Kebakaran Pada Bangunan Rumah, Gedung dan Kendaraan Effendi, Achmad Hidajat
Jurnal Permukiman Vol 3 No 3 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.165-175

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh keandalan kinerja selimut api melalui eksperimen laboratorium. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan alat pemadam api sederhana, yang terbuat dari bahan kain katun jenis terpal, yang dikombinasikan dengan bahan tahan api berbasis air, yaitu dapas 15, suatu bahan kimia yang aman terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selimut api memiliki keunggulan, yaitu mampu menahan temperatur minyak panas sekitar 320ºC dengan temperatur rata-rata permukaan selimut api sekitar 179,5ºC, dengan panjang perambatan api pada permukaan selimut api rata-rata 23,6 mm. Keunggulan lainnya adalah selimut api tidak memerlukan air dalam pemadaman kebakaran, bahkan selimut api tidak boleh dicuci atau kena air. Selimut api dapat digunakan berulang-ulang selama selimut api tersebut tidak sobek dan selimut api yang diteliti ini, memenuhi persyaratan standar AS/NZS 3504 : 1995 dan ASTM D3806-1979. Adanya selimut api akan melengkapi sarana proteksi kebakaran, khususnya untuk bangunan perumahan yang bisa digunakan baik untuk pemadaman maupun penyelamatan.  
Kajian Penerapan Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Pada Bangunan Gedung Bertingkat Effendi, Achmad Hidajat
Jurnal Permukiman Vol 3 No 4 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.346-354

Abstract

Kajian penerapan sistem pengendalian asap kebakaran pada bangunan gedung bertingkat atau gedung tinggi maupun pada gedung-gedung berukuran besar dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana penerapan sistem pengendalian asap tersebut. Sedangkan tujuannya adalah untuk memperoleh data mengenai sistem pengendalian asap yang telah diterapkan. Penelitian dilakukan dengan metode survey lapangan terhadap 33 bangunan gedung di Jakarta, Surabaya dan Bandung meliputi bangunan gedung perkantoran, perhotelan dan pusat perbelanjaan/mall/atrium. Selanjutnya metode lain yang digunakan eksperimen di laboratorium, untuk memperoleh data/informasi tentang teknik yang dipergunakan untuk mengevaluasi karakteristik fisik pergerakkan asap pada bangunan terbakar. Hasil penelitian sistem pengendalian asap kebakaran, menunjukkan bahwa pada bangunan gedung perkantoran, perhotelan dan pusat perbelanjaan/mall/atrium umumnya telah menerapkan sistem pengendalian asap kebakaran. Penerapan sistem pengendalian asap dengan cara penekanan udara pada sumur tangga 100 % telah digunakan pada bangunan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan/mall/atrium, sedangkan sekitar 90,91 % telah digunakan pada bangunan gedung perhotelan. Sistem pengendalian asap dengan sistem injeksi tekanan udara, masih menggunakan cara yang beragam yaitu 26,09 % menggunakan sistem injeksi tekanan udara tunggal dan 41,97 % menggunakan sistem injeksi tekanan udara ganda, kemudian 25,89 % menggunakan sistem injeksi tekanan udara gabungan. Sistem fan pada umumnya bekerja secara otomatis bila terjadi kebakaran, dengan digerakan oleh sinyal dari detektor kebakaran atau detektor asap dan bila terjadi kebakaran sistem tata udara berhenti secara otomatis. Dari 33 bangunan gedung yang disurvey menunjukkan belum ada satupun bangunan gedung yang menerapkan sistem tata udara sebagai sistem pengendalian asap kebakaran. Hasil pengujian laboratorium tercatat, laju pembangkitan asap berdasarkan estimasi kasar adalah 0,47 m3/detik, sementara udara masuk (ventilasi) sebesar o,46 m3/detik, hasil tersebut menunjukkan kemiripan dan memenuhi hukum kekekalan massa, sedangkan ketinggian asap yang dicapai dari lantai adalah 180 cm dengan temperatur 220ºC.