Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN UJI BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL DAUN SELEDRI (Apium graveolens L.) TERHADAP Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus epidermidis Manira Zahratunisa; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i1.297

Abstract

Daun seledri adalah tanaman yang dipercaya masyarakat mempunyai banyak manfaat, salah satunya sebagai antibakteri untuk infeksi kulit. Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri penyebab infeksi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri daun seledri (Apium graveolens L.) terhadap Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus epidermidis serta mengetahui senyawa yang bertanggungjawab sebagai antibakteri. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi cair. Nilai KHM pada penelitian ini belum diketahui, sementara nilai KBM keduanya ada pada konsentrasi 500 mg/mL. Uji KLT (Kromatografi Lapis Tipis) untuk menentukan senyawa yang terdapat pada ekstrak. Daun seledri positif mengandung fenol, flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Hasil uji bioautografi menunjukkan bahwa senyawa yang bertanggungjawab terhadap aktivitas antibakteri pada Staphylococuss epidermidis adalah flavonoid, sedangkan senyawa yang bertanggungjawab terhadap aktivitas antibakteri pada Acinetobacter baumannii belum diketahui.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis DAN Escherichia coli SERTA UJI BIOAUTOGRAFINYA Ahsana Nadia Zahra; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 3 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i3.412

Abstract

Daun sirih hijau (Piper betle L.) dimanfaatkan dan dipercaya sebagai bahan obat alternatif dalam mengobati berbagai jenis penyakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hijau terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli serta mengidentifikasi golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri dalam ekstrak etanol daun sirih hijau. Ekstraksi daun sirih hijau (Piper betle L.) menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi disk, identifikasi golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri dilakukan dengan uji bioautografi. Kadar ekstrak etanol yang digunakan adalah 2, 4, 6, dan 8 mg/disk. Kontrol positif menggunakan Erythromycin dan Ciprofloxacin serta pelarut DMSO 50% digunakan sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hijau terhadap Staphylococcus epidermidis dengan seri konsentrasi 2 mg/disk, 4 mg/disk, 6 mg/disk, dan 8 mg/disk menghasilkan rata-rata zona hambat 9,5; 12; 15,12; dan 15,62 mm. Sedangkan hasil terhadap Escherichia coli dengan seri konsentrasi 2, 4, 6, dan 8 mg/disk menghasilkan rata-rata zona hambat 10,25; 15,12; 15,87; dan 16,25 mm. Uji KLT memberikan hasil  bahwa daun sirih hijau mengandung golongan senyawa fenol, saponin dan alkaloid. Hasil uji bioautografi menunjukkan bahwa senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis adalah golongan senyawa fenol pada Rf 0,8 dan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli adalah golongan senyawa alkaloid pada Rf 0,7.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera L) DAN MADU HUTAN (Apis dorsata) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus Vania Wardatu Rahmah; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v5i1.972

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera L.) dan madu hutan telah terbukti memiliki sifat antibakteri. Daun kelor mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, yang berperan dalam aktivitas antibakterinya. Sementara itu, madu hutan bersifat antibakteri karena keasaman yang tinggi, konsentrasi gula yang besar, serta adanya senyawa hidrogen peroksida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antibakteri dari ekstrak daun kelor dan madu hutan, baik secara tunggal maupun kombinasi, terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode difusi agar dengan teknik sumuran dipilih untuk menguji aktivitas antibakteri. Pada pengujian sediaan tunggal digunakan konsentrasi 80%, 60%, 40%, dan 20% sedangkan pada pengujian kombinasi digunakan konsentrasi   80%:20%, 60%:40%, 40%:60%, dan 20%:80%. Hasil pengukuran aktivitas antibakteri dari sediaan tunggal daun kelor dan madu hutan menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor menghasilkan zona hambat terbesar pada konsentrasi 80% dengan rata-rata 19,3 mm, dan madu hutan menghasilkan zona hambat terbesar pada konsentrasi yang sama dengan rata-rata 15 mm. Sementara itu, pada pengujian sediaan kombinasi, zona hambat terbesar ditemukan pada perbandingan 80% ekstrak daun kelor dengan 20% madu hutan, dengan rata-rata 13,3 mm. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak daun kelor dan madu hutan menghasilkan zona hambat yang lebih kecil jika dibandingkan dengan zona hambat sediaan tunggalnya. 
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Pseudomonas aeruginosa Vita Fadilah Khairani; Maryati Maryati; Juwita Rahmawati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v5i2.1010

Abstract

Daun pepaya (Carica papaya L.) diketahui mengandung senyawa dengan efek antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun pepaya terhadap bakteri S. aureus  dan P. aeruginosa, serta untuk menentukan jenis senyawa metabolit yang terkandung dalam ekstrak tersebut. Metode maserasi digunakan untuk mengekstraksi daun pepaya dengan pelarut etanol 96%. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan konsentrasi ekstrak 10, 8, 6, 4, dan 2 mg/disk dengan metode difusi cakram. Kontrol positif pada uji adalah antibiotik Ampicillin 10 µg dan Ciprofloxacin 5 µg, masing-masing untuk bakteri S. aureus  dan P. aeruginosa. Hasil uji dalam konsentrasi 10,8,6,4, dan 2 mg/disk tidak menunjukkan zona hambat pada bakteri P. aeruginosa, sedangkan pada bakteri S. aureus  terbentuk zona hambat irradikal pada konsentrasi ekstrak 6, 4, dan 2 mg/disk dengan ukuran berturut-turut sebesar 8,33 mm; 7,17 mm; dan 8 mm. Analisis senyawa dilakukan dengan uji KLT menunjukkan senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin pada ekstrak etanol daun pepaya.