Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN UJI BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL DAUN SELEDRI (Apium graveolens L.) TERHADAP Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus epidermidis Manira Zahratunisa; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i1.297

Abstract

Daun seledri adalah tanaman yang dipercaya masyarakat mempunyai banyak manfaat, salah satunya sebagai antibakteri untuk infeksi kulit. Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri penyebab infeksi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri daun seledri (Apium graveolens L.) terhadap Acinetobacter baumannii dan Staphylococcus epidermidis serta mengetahui senyawa yang bertanggungjawab sebagai antibakteri. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi cair. Nilai KHM pada penelitian ini belum diketahui, sementara nilai KBM keduanya ada pada konsentrasi 500 mg/mL. Uji KLT (Kromatografi Lapis Tipis) untuk menentukan senyawa yang terdapat pada ekstrak. Daun seledri positif mengandung fenol, flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Hasil uji bioautografi menunjukkan bahwa senyawa yang bertanggungjawab terhadap aktivitas antibakteri pada Staphylococuss epidermidis adalah flavonoid, sedangkan senyawa yang bertanggungjawab terhadap aktivitas antibakteri pada Acinetobacter baumannii belum diketahui.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis DAN Escherichia coli SERTA UJI BIOAUTOGRAFINYA Ahsana Nadia Zahra; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 3 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i3.412

Abstract

Daun sirih hijau (Piper betle L.) dimanfaatkan dan dipercaya sebagai bahan obat alternatif dalam mengobati berbagai jenis penyakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hijau terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli serta mengidentifikasi golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri dalam ekstrak etanol daun sirih hijau. Ekstraksi daun sirih hijau (Piper betle L.) menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi disk, identifikasi golongan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri dilakukan dengan uji bioautografi. Kadar ekstrak etanol yang digunakan adalah 2, 4, 6, dan 8 mg/disk. Kontrol positif menggunakan Erythromycin dan Ciprofloxacin serta pelarut DMSO 50% digunakan sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hijau terhadap Staphylococcus epidermidis dengan seri konsentrasi 2 mg/disk, 4 mg/disk, 6 mg/disk, dan 8 mg/disk menghasilkan rata-rata zona hambat 9,5; 12; 15,12; dan 15,62 mm. Sedangkan hasil terhadap Escherichia coli dengan seri konsentrasi 2, 4, 6, dan 8 mg/disk menghasilkan rata-rata zona hambat 10,25; 15,12; 15,87; dan 16,25 mm. Uji KLT memberikan hasil  bahwa daun sirih hijau mengandung golongan senyawa fenol, saponin dan alkaloid. Hasil uji bioautografi menunjukkan bahwa senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis adalah golongan senyawa fenol pada Rf 0,8 dan senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli adalah golongan senyawa alkaloid pada Rf 0,7.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera L) DAN MADU HUTAN (Apis dorsata) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus Vania Wardatu Rahmah; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v5i1.972

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera L.) dan madu hutan telah terbukti memiliki sifat antibakteri. Daun kelor mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, yang berperan dalam aktivitas antibakterinya. Sementara itu, madu hutan bersifat antibakteri karena keasaman yang tinggi, konsentrasi gula yang besar, serta adanya senyawa hidrogen peroksida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antibakteri dari ekstrak daun kelor dan madu hutan, baik secara tunggal maupun kombinasi, terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode difusi agar dengan teknik sumuran dipilih untuk menguji aktivitas antibakteri. Pada pengujian sediaan tunggal digunakan konsentrasi 80%, 60%, 40%, dan 20% sedangkan pada pengujian kombinasi digunakan konsentrasi   80%:20%, 60%:40%, 40%:60%, dan 20%:80%. Hasil pengukuran aktivitas antibakteri dari sediaan tunggal daun kelor dan madu hutan menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor menghasilkan zona hambat terbesar pada konsentrasi 80% dengan rata-rata 19,3 mm, dan madu hutan menghasilkan zona hambat terbesar pada konsentrasi yang sama dengan rata-rata 15 mm. Sementara itu, pada pengujian sediaan kombinasi, zona hambat terbesar ditemukan pada perbandingan 80% ekstrak daun kelor dengan 20% madu hutan, dengan rata-rata 13,3 mm. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak daun kelor dan madu hutan menghasilkan zona hambat yang lebih kecil jika dibandingkan dengan zona hambat sediaan tunggalnya. 
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Pseudomonas aeruginosa Vita Fadilah Khairani; Maryati Maryati; Juwita Rahmawati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v5i2.1010

Abstract

Daun pepaya (Carica papaya L.) diketahui mengandung senyawa dengan efek antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun pepaya terhadap bakteri S. aureus  dan P. aeruginosa, serta untuk menentukan jenis senyawa metabolit yang terkandung dalam ekstrak tersebut. Metode maserasi digunakan untuk mengekstraksi daun pepaya dengan pelarut etanol 96%. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan konsentrasi ekstrak 10, 8, 6, 4, dan 2 mg/disk dengan metode difusi cakram. Kontrol positif pada uji adalah antibiotik Ampicillin 10 µg dan Ciprofloxacin 5 µg, masing-masing untuk bakteri S. aureus  dan P. aeruginosa. Hasil uji dalam konsentrasi 10,8,6,4, dan 2 mg/disk tidak menunjukkan zona hambat pada bakteri P. aeruginosa, sedangkan pada bakteri S. aureus  terbentuk zona hambat irradikal pada konsentrasi ekstrak 6, 4, dan 2 mg/disk dengan ukuran berturut-turut sebesar 8,33 mm; 7,17 mm; dan 8 mm. Analisis senyawa dilakukan dengan uji KLT menunjukkan senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin pada ekstrak etanol daun pepaya.
Phytochemical Insights into Rhizophora stylosa: pH-Dependent Extraction, Antioxidant Activity, and Enzyme Inhibition Potential Dwi Bagus Pambudi; Muhtadi Muhtadi; Maryati Maryati
Borneo Journal of Pharmacy Vol. 9 No. 1 (2026): Borneo Journal of Pharmacy
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjop.v9i1.11158

Abstract

The solvent properties, including pH, highly influence the extraction efficiency of these bioactive compounds. This study investigated the effect of pH modulation in the ethanol solvent on the recovery of antioxidants from Rhizophora stylosa. Ethanolic extraction was performed on R. stylosa samples using solvents adjusted to varying pH levels (4, 8, 9, 10, and 12). The total phenolic content (TPC) and total flavonoid content (TFC) of the extracts were quantified using standard colorimetric assays. The antioxidant activity was evaluated using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) radical scavenging assay. The inhibitory activity against carbohydrate-digesting enzymes was assessed through α-amylase and α-glucosidase inhibition assays. Additionally, data mining of established natural product databases (KNApSAcK and IMPPAT) and literature was conducted to identify and catalog the known bioactive constituents of R. stylosa. The results demonstrated a significant correlation between the pH of the extraction solvent and the yields of phenolic compounds, flavonoids, and the resulting antioxidant activity. Extract obtained at pH 10 yielded the highest TPC and exhibited the strongest antioxidant activity, whereas the highest TFC was observed at pH 4. Furthermore, enzymatic inhibition assays revealed that the pH 10 extract displayed moderate α-amylase inhibitory activity (IC₅₀ = 76.7 µg/mL) but substantially weaker α-glucosidase inhibition (IC₅₀ = 190 µg/mL), demonstrating a selective inhibition profile though less potent than that of acarbose. These findings establish pH-modulated extraction as a targeted strategy to produce potent, phenolic-rich antioxidant extracts from R. stylosa, highlighting its potential for nutraceutical and pharmaceutical applications.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott) TERHADAP Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococcus aureus Destria Devayana; Maryati Maryati
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v5i1.782

Abstract

Infeksi merupakan masalah kesehatan yang menjadi penyebab tingginya angka kematian. Infeksi umumnya disebabkan oleh mikroorganisme salah satunya adalah bakteri. Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada manusia. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun talas terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus serta mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung didalamnya. Ekstraksi dilakukan dengan pelarut etanol 96% menggunakan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode  difusi disk. Seri konsentrasi sampel yang digunakan meliputi 10 mg/disk, 8 mg/disk, 5 mg/disk, dan 2 mg/disk. Ampisilin digunakan sebagai kontrol positif pada uji terhadap bakteri Staphylococcus aureus sedangkan pada Pseudomonas aeruginosa menggunakan ciprofloxacin dan DMSO sebagai kontrol negatif. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun talas pada Staphylococcus aureus membentuk zona hambat maksimum pada konsentrasi 10 mg/disk sebesar 8,25 ± 0,50 mm, sedangkan terhadap Pseudomonas aeruginosa hanya sebesar 6,75 ± 0,29  mm pada konsentrasi yang sama. Hasil uji KLT ekstrak etanol daun talas menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, fenol, dan steroid yang dinilai memiliki potensi menghambat pertumbuhan bakteri.