Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

POST-COAL MINING LAND SUITABILITY BASED ON FOOD PROVIDER ECOSYSTEM SERVICES DATA IN TANAH LAUT REGENCY Riena Arrizqi Muhardini; Dienny Redha Rahmani; Kiky Permana Setiawan
SINTA Journal (Science, Technology, and Agricultural) Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muda (PDM) Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/sinta.1.2.65-70

Abstract

Activities before and after coal mining have both positive and negative impacts. So this requires a change in post-mining function, where post-mining land can become a useful or productive area. This study uses qualitative research methods. Data collection techniques are by observing the existing conditions of post-coal mining land. Other data collection comes from data on ecosystem services for food providers in Tanah Laut Regency. The analytical method used is descriptive qualitative. It can be concluded that post-coal mining land in Tanah Laut Regency has the potential to become agricultural and plantation areas. The review is based on data on ecosystem services that provide food, namely the form of land is classified as medium, which means that the land can be used for food needs, taking into account land-use methods.
Evaluation of Road Network Connectivity in the Aerocity Area of Banjarbaru City: Evaluasi Konektivitas Jaringan Jalan Wilayah Aerocity Kota Banjarbaru Miftahul Ridhoni; Andi Achmad Priyadharma; Muhammad Yusuf Ridhani; Kiky Permana Setiawan
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 9 No. 3 (2025): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Road layout is a fundamental framework that shapes the long-term development of a city. A road network with high connectivity provides residents with more efficient travel options and better access to public facilities, while low connectivity tends to increase dependence on private vehicles and extend travel distances. This study aims to measure the connectivity of physical road infrastructure in the Aerocity Area of Banjarbaru City, which is designated as a transportation activity center based on Regional Regulation No. 4 of 2024. The method used is quantitative analysis using three indicators: Road Density Index, Beta Connectivity Index, and Gamma Connectivity Index. Road network data in 2025, including road length, number of segments, and number of intersections, was analyzed using ArcMap software. The analysis results show that the connectivity of the Aerocity Area based on travel route choices is classified as good, with an overall Beta Index value of 1.47 (>1). However, the connectivity cannot be said to be perfect, as indicated by the Gamma Index value of 0.49 (<1). The low Gamma Index value is caused by many road segments that form cul-de-sacs (dead ends) so that they have not been optimally developed. It is lead to the recommendation that although the Aerocity Area has a good choice of routes from the Road Density Index, its structural connectivity still needs to be improved by optimizing intersections and avoiding the development of single-access areas.
Case Study Evaluation of Road Network Connectivity in Center Banjarmasin: Studi Kasus Evaluasi Konektivitas Jaringan Jalan di Banjarmasin Tengah Miftahul Ridhoni; Andi Achmad Priyadharma; Muhammad Yusuf Ridhani; Kiky Permana Setiawan
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 10 No. 1 (2026): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36339/je.v10i1.471

Abstract

Road network configuration is a permanent element of urban morphology that influences spatial utilization patterns, mobility, and public accessibility. Good network connectivity encourages the use of active and public transportation, while low connectivity increases reliance on private vehicles. This study aims to evaluate the performance of road network connectivity in Banjarmasin City, focusing on Banjarmasin Tengah District as the City Service Center (PPK), and comparing it with other districts. The study uses a quantitative approach with spatial data analysis for the 2021–2025 period using ArcMap software. Three indicators are used: the Road Density Index, the Beta Connectivity Index, and the Gamma Connectivity Index, with road segments as the unit of analysis according to the Indonesian Road Capacity Guidelines. The results show that Banjarmasin Tengah District has the highest road density, reflecting the availability of relatively good physical infrastructure. The highest beta connectivity values ​​are also found in Banjarmasin Tengah and Banjarmasin Timur, although generally still in the low–moderate category. Meanwhile, gamma connectivity values ​​across all districts are relatively low, with an average of around 13% of optimal conditions. These findings indicate the need to improve connectivity between segments, particularly in local and neighborhood road networks, to support a more efficient and sustainable urban transportation system.
KAJIAN ARAHAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN KABUPATEN KOTABARU Kiky Permana Setiawan
Density (Development Engineering of University) Journal Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35747/deuj.v5i1.560

Abstract

Kondisi ekosistem di wilayah Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kabupaten Kotabaru yang meliputi Kecamatan Pulau Laut Barat, Pulau Laut Kepulauan dan Kecamatan Pulau Sembilan memiliki potensi pariwisata khususnya ekosistem terumbu karang, mangrove dan biota-biota yang dilindungi seperti penyu dan triton (sejenis moluska), sehingga diperlukan pengaturan atau arahan ruang khususnya untuk kegiatan pariwisata agar tidak merusak ekosistem pesisir yang harus dijaga dan dilindungi. Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah Melakukan analisis kesesuaian arahan pemanfaatan ruang pariwisata di KKP Kabupaten Kotabaru. Batasan wilayah penelitian adalah Kawasan Konsevasi Berdasarkan Keputusan Bupati Kabupaten Kotabaru sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) dan Wisata Pulau Laut Barat-Selatan dan P. Sembilan sebesar 22.099 ha. Kesesuaian pariwisata pesisir adalah wisata Pantai 190 (Ha), Wisata Mangrove 21 Ha, Wisata Snorkling 500 Ha, Wisata Selam 2.223 Ha dengan sebaran di Pulau Batuadang, Pulau Birah-birahan, Pulau Cinta, Pulau Danauwan, Pulau Kerayaan, Pulau Kerasian, Pulau Kerumputan, Pulau Kunyit, Pulau Marabatuan, Pulau Ondong, Pulau Payung-Payungan, Pulau Sarang dan Teluk Tamiang. Sedangkan untuk wisata pantai berupa wisata berjemur, wisata jogging, wisata hiking, wisata sand play, wisata camping dan foto hunting tersebar di Pulau Batuadang, Pulau Birahbirahan, Pulau Danauwan, Pulau Kerasian, Pulau Kerayaan, Pulau Kunyit, Pulau Payung-Payungan, Pulau sarang, Tanjung Tengah, Tanjung Ujung, Teluk Karu dan Teluk Tamiang
KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS RTRW KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Kiky Permana Setiawan; Andi Achmad Priyadharma; Muhammad Yusuf Ridhani; Miftahul Ridhoni
Density (Development Engineering of University) Journal Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35747/deuj.v6i1.872

Abstract

Perubahan pada aspek eksternal yang perlu diakomodir dalam RTRW karena pelaksanaan pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebagai bagian integral dari pembangunan regional dan nasional pada hakekatnya merupakan suatu proses yang bersifat integratif baik dalam tataran perencanaan, pelaksanaan maupun pengendalian yang dilakukan secara berkesinambungan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pada aspek internal ditandai dengan perkembangan wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang sedemikian pesat, dari sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan dan pertanian yang menuntut upaya perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pembangunan dari segala sektor yang ada secara sinergis, berkesinambungan dan pro lingkungan. Perencanaan tata ruang wilayah yang berlandaskan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan akan menjaga tekanan-tekanan eksternalitas maupun internal yang mempengaruhi terhadap perkembangan Kabupaten Hulu Sungai Tengah ke arah yang semakin terkendali. Selanjutnya dalam Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 11 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyusunan, Peninjauan Kembali, Revisi, dan Penerbitan Persetujuan Substansi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten, Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang dijelaskan bahwa dalam proses penyusunan alternatif konsep rencana tata ruang wilayah berdasarkan prinsip optimasi pemanfaatan ruang wilayah kabupaten (ruang darat, ruang laut, ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi) sesuai dengan analisis lingkungan hidup dan/atau mempertimbangkan rekomendasi perbaikan hasil pelaksanaan KLHS. Metode penelitian dilakukan dalam tiga tahap meliputi analisis bio-ekoregion, analisis pemanfaatan ruang, dan analisis pengaruh. rekomendasi hasil penelitian menyepakati perbaikan muatan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program berdasarkan hasil perumusan alternatif, serta memformulasikan tindak lanjut pendukung sebagai konsekuensi dilaksanakannya kebijakan, rencana, dan/atau program
ANALISIS KETIMPANGAN EKONOMI DAN FISIK KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Dian Anggraini; Muhammad Yusuf Ridhani; Kiky Permana Setiawan
Density (Development Engineering of University) Journal Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35747/deuj.v6i2.1008

Abstract

Ketimpangan merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam pembangunan ekonomi saat ini. Ketimpangan muncul karena tidak adanya perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Kondisi demografis ini dapat mencakup perbedaan tingkat pertumbuhan dan struktur penduduk, perbedaan tingkat kesehatan dan pendidikan. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana kegiatan perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada periode tertentu. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap kategori dari tahun ke tahun adalah laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis ketimpangan ekonomi dan fisik kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini ditetapkan bahwa tujuan penelitian dari rumusan masalah adalah untuk menganalisis tingkat ketimpangan ekonomi dan fisik di wilayah tersebut.