Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

PENGGUNAAN VOKATIF NAMA DIRI DALAM CARITA NYI HALIMAH KARYA SAMSOEDI Wahya Wahya; R. Yudi Permadi; Taufik Ampera
Metahumaniora Vol 11, No 2 (2021): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i2.35429

Abstract

PENGGUNAAN VOKATIF NAMA DIRI DALAM CARITA NYI HALIMAH  KARYA SAMSOEDI   AbstrakSetiap bahasa di dunia secara universal memiliki unsur bahasa yang disebut vokatif. Vokatif merupakan nomina yang digunakan sebagai panggilan atau sapaan yang bukan merupakan salah satu fungsi sintaksis kalimat, kehadirannya  dalam kalimat bersifat opsional, menunjuk kepada orang yang diajak bicara, dan sering menjadi anteseden subjek kalimat.  Wujud vokatif  bermacam-macam, di antaranya,  nama diri. Demikian pula halnya dalam bahasa Sunda.  Tulisan ini membahas vokatif nama diri bahasa Sunda  yang terdapat dalam  Cerita Nyi Halimah cerita rekaan karya Samsoedi (2018). Berdasarkan penelitian, ditemukan 24 data kalimat yang memuat  lima vokatif nama diri tokoh di dalamnya. yaitu (1)  Halimah vokatif nama diri utuh disertai variasinya  Limah dan Lim vokatif nama diri kependekan yang ketiganya terdapat dalam sembilan belas  data, (2) Yam vokatif nama diri kependekan dari Maryam yang terdapat pada satu data, (3) Mi vokatif nama diri kependekan dari Emi yang terdapat pada satu data, (4) Yo vokatif nama diri kependekan dari  Yopie yang terdapat pada satu data, dan Sarja vokatif nama diri utuh yang terdapat pada dua data. Vokatif nama diri kependekan  lebih sering muncul, yakni lima belas data,  dibandingkan  dengan  vokatif nama diri utuh, yakni sembilan data. Vokatif  nama diri terdapat dalam tujuh kalimat deklaratif,  sebelas kalimat interogatif, lima kalimat imperatif, dan satu kalimat eksklamatif.  Selanjutnya, vokatif nama diri berdistribusi di awal kalimat pada empat belas data, di tengah kalimat pada tiga data, dan di akhir kalimat pada tujuh data. Di samping itu, ditemukan sebelas data yang di dalamnya terdapat pronomina persona kedua tunggal sebagai subjek yang memiliki anteseden vokatif  nama diri. Dari sebelas data ini, delapan data memiliki perujukan anaforis dan tiga nada memiliki perujukan kataforis terhadap antesen vokatif nama diri. Kata kunci: vokatif nama diri, distribusi, anteseden, anaforis, kataforis  AbstractEvery language in the world universally has a language element called vocative. Vocative is a noun that is used as a call or greeting which is not one of the syntactic functions of the sentence, its presence in the sentence is optional, refers to the person being spoken to, and is often the antecedent of the subject of the sentence. There are various forms of vocatives, including self names. The same is true in Sundanese. This paper discusses the vocative Sundanese self-name contained in the Nyi Halimah story, a fictional story by Samsoedi (2018). Based on the research, found 24 sentence data containing five vocative names of thecharacters in them. namely (1) Halimah vocative full self-name with its variations Limah and Lim vocative short self-name, all three of which are contained in nineteen data, (2) Yam vocative short self-name from Maryam contained in one data, (3) Mi vocative short self-name from Emi which is contained in one data, (4) Yo vocative self-name is short for Yopie which is contained in one data, and Sarja vocative full name of self contained in two data. Short self-name vocatives appear more often, which is fifteen data, compared to full-name vocatives, which are nine data. There are seven declarative sentences, eleven interrogative sentences, five imperative sentences, and one exclamative sentence. Furthermore, the self-name vocative was distributed at the beginning of the sentence on fourteen data, in the middle of the sentence on three data, and at the end of the sentence on seven data. In addition, eleven data were found in which there is a singular second person pronoun as a subject that has a vocative antecedent of self-name. Of these eleven data, eight data have anaphoric references and three data have cataphoric references to the vocative antecedent of self-name. Keywords: self-name vocatives, distribution, antecedent, anaphoric, cataphoric    
Mengenal Penggunaan Partikel His ‘His’ sebagai Pengungkap Emosi dalam Cerita Rekaan Berbahasa Sunda Wahya Wahya; Hera Meganova Lyra; Raden (R.) Yudi Permadi
Metahumaniora Vol 9, No 2 (2019): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i2.23292

Abstract

ABSTRAK               Bahasa di mana pun di dunia ini secara universal memiliki kelas kata yang disebut partikel. Secara praktis keberadaan partikel ini penting karena memiliki fungsi tertentu dalam bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi bagi para penuturnya. Namun demikian, sebagai ciri keunikan setiap bahasa, tentu bentuk, jumlah, dan fungsi partikel ini berbeda-beda. Bahasa Sunda sebagai bahasa alamiah yang merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia kaya dengan pertikel ini. Salah satu partikel yang terdapat dalam bahasa Sunda adalah his ’his’. Artikel ini akan mencoba membahas partikel his ini dari ssi sebagai pengungkap emosi dalam percakapan para tokoh cerita rekaan berbahasa Sunda. Untuk membahas partikel his ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan partikel his oleh para tokoh dalam cerita rekaan berbahasa Sunda dengan teknik pengumpulan data berupa teknik catat. Adapun metode analisis menggunkan metode padan pragmatik dan referensial dengan pendekatan semantik gramatikal. Sumber data yang digunakan berupa enam buah cerita rekaan berbahasa Sunda dengan pertimbangan pada keenam buku tersebut terdapat data yang diperlukan dan sebagai sampel sumber data. Dari hasil pengamatan terhadap enam belas data ditemukan enam emosi yang diungkapkan partikel his, meyakinkan, kesal, melarang, kecewa, tidak setuju, danangkuh.Kata kunci: partikel, fatis, emosi, semantik gramatikal ABSTRACT               Languages everywhere in the world universally have a class of words called particles. Practically the existence of this particle is important because it has a certain function in language as a means to communicate for its speakers. However, as a feature of the uniqueness of each language, the shape, number, and function of these particles differ. Sundanese as a natural language which is one of the regional languages in Indonesia is rich in this particles. One of the particles contained in Sundanese is his. This article will try to discuss his particle from an expression of emotion in the conversation of the fictional characters in Sundanese. To discuss this particle, a qualitative descriptive method is used. Data were collected using the method of listening, which is listening to the use of his particle by the characters in a fictional story in Sundanese language with data collection techniques in the form of note taking techniques. The analytical method uses the pragmatic and referential equivalent method with a grammatical semantic approach. The data source used in the form of six Sundanese fiction stories with consideration in the six books contained the necessary data and as a sample data source. From the observation of the sixteen data found six emotions expressed his particle, convincing, annoyed, forbidding, disappointed, disagreeing, and arrogant.Keywords: particle, phatic, emotion, grammatical semantics
TIPE KEBERDERETAN FATIS BAHASA SUNDA DALAM CARITA BUDAK MINGGAT KARYA SAMSOEDI Wahya Wahya; Hera Meganova Lyra; R. Yudi Permadi
Metahumaniora Vol 11, No 1 (2021): METAHUMANIORA, APRIL 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i1.32301

Abstract

Setiap bahasa di dunia sebagai sarana ekspresi secara universal memiliki unsur bahasa sebagai penegas bagian tertentu dalam kalimat dan juga unsur pengungkap emosi. Unsur bahasa ini dikenal dengan istilah fatis, yang dapat berbentuk partikel, kata, atau frasa. Dalam kalimat secara linier dapat muncul satu atau beberapa fatis dengan distribusi pada awal, tengah, atau akhir kalimat. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, dalam bahasa Sunda, fatis ini ada dua kelompok, yakni kelompok fatis yang berfungsi sebagai penegas dan kelompok fatis sebagai pengungkap emosi dalam kalimat. Fatis pada setiap kelompok ini dapat hadir tersendiri, dapat pula hadir bersamaan secara berderet. Penelitian ini membahas bagaimana keberderetan fatis berdasarkan kelompok tersebut yang terletak pada awal kalimat dan bagaimana pola kalimat yang mengikuti fatis berderet tersebut dalam bahasa Sunda. Penyediaan data penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode agih dengan pendekatan sintaksis. Sumber data berupa cerita rekaan yang berjudul Carita Budak Minggat karya Samsoedi (2018). Dari hasil penelitian diperoleh 21 data kalimat yang memuat fatis berderet pada awal kalimat. Dari 21 data, ditemukan empat tipe keberderetan fatis berikut: tipe 1, yaitu fatis emosi + fatis penegas (14 data), tipe 2, yaitu fatis penegas+fatis emosi (1 data), tipe 3, yaitu fatis penegas + fatis penegas (5 data), dan tipe 4, yaitu fatis penegas + fatis penegas + fatis penegas (1 data).
KORESPONDENSI FONEMIS ENAM KATA KERABAT BAHASA INDONESIA, BAHASA MELAYU KELANTAN, BAHASA MELAYU PATANI, DAN BAHASA SUNDA Wahya Wahya; Suhaila Arong
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.27523

Abstract

AbstrakBahasa Indonesia, bahasa Melayu Kelantan, bahasa Melayu Patani, dan bahasa Sunda merupakan bahasa kerabat. Keempat bahasa tersebut termasuk rumpun bahasa Austronesia. Ketiga bahasa pertama, yaitu bahasa Indonesia, Melayu Kelantan, dan  Melayu Patani termasuk kelompok bahasa Melayu, sedangkan bahasa Sunda tidak termasuk bahasa Melayu. Bahasa Indonesia dan Sunda terdapat di Indonesia. Bahasa Melayu Kelantan terdapat di Malaysia. Bahasa Melayu Patani terdapat di Thailand. Sebagai bahasa kerabat rumpun Austronesia, keempat bahasa memiliki  kosakata  yang diwariskan dari bahasa yang lebih tua. Ciri-ciri adanya pewarisan tersebut dapat diamati pada kosakata yang memiliki persamaan atau kemiripan bentuk dan makna.  Masalah yang dibahas adalah korespondensi fonemis apa yang menunjukkan perbedaan kata kerabat yang diperoleh dari hasil membandingkan  kata kerabat pada enam glos dari empat bahasa sampel yang diteliti. Dalam tulisan ini diambil enam kata sampel bahasa Indonesia sebagai glos dari 200 glos kosakata dasar Swadesh, yaitu hapus,  hati, hidup, hijau, hitam, dan hujan. Data bersumber dari kamus dan informan. Dari hasil penelitian  terhadap kata kerabat untuk enam glos tersebut diperoleh sembilan perangkat korespondensi fonemis, yaitu (a)  /h ~ ø/ , (b) /s ~ h/, (c) /i ~ ɛ/, (d) /d ~ r/, (e) /p ~ k/, (f) /aw ~ a ~ ɔ/ , (g) /am ~ őŋ ~ ɛ/, dan (h) /-an ~ --ɛ/. Selanjutnya, setiap korespondensi fonemis tersebut menghasilkan pengelompokan bahasa yang memperlihatkan pemilik unsur bahasa yang terdapat pada korespondensi fonemis tersebut dan jika dilakukan rekonstruksi, pengelompokan bahasa tersebutmenunjukkan pencabangan dari bahasa yang lebih tua yang telah menurunkannya.Kata kunci: rumpun bahasa, kata kerabat, korespondensi fonemis, pewarisan. AbstractIndonesian, Kelantan Malay, Patani Malay, and Sundanese are kin languages. The four languages include the Austronesian language family. The first three languages, namely Indonesian, Kelantan Malay, and Patani Malay belong to the Malay language group, while Sundanese does not include Malay. Indonesian and Sundanese are found in Indonesia. Kelantan Malay is found in Malaysia. Patani Malay is found in Thailand. As the languages of relatives of Austronesian families, all four languages have vocabulary inherited from older languages. The characteristics of inheritance can be observed in vocabulary that has similarities or similarities in form and meaning. The problem discussed is the phonemic correspondence of what shows the difference in relative words obtained from the results of comparing relative words in the six glossos of the four sample languages studied. In this paper six Indonesian sample words are taken as glossos from 200 basic Swadesh vocabulary words, namely erase, heart, life, green, black, and rain. Data sourced from dictionaries and informants. From the results of research on the word relatives for the six glossos obtained nine phonemic correspondence sets, namely (a) / h ~ ø /, (b) / s ~ h /, (c) / i ~ ɛ /, (d) / d ~ r /, (e) / p ~ k /, (f) / aw ~ a ~ ɔ /, (g) / am ~ őŋ ~ ɛ /, and (h) / -an ~ --ɛ /. Furthermore, each phonemic correspondence results in a grouping of languages that shows the owner of the language elements contained in the phonemic correspondence and if a reconstruction is made, the grouping of languages shows the branching of older languages which has derived it.Keywords: language family, word relatives, phonemic correspondence, inheritance
Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda Wahya Wahya
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23320

Abstract

Konsep ‘apa’ dalam bahasa Sunda diekspresikan dengan kata naᴐn. Secara geolinguistik kata naᴐn memiliki varian naön. Sebaran geografis kata naᴐn dan naön berbeda. Kata naᴐn  tersebar luas di wilayah Priangan, sedangkan naön  tersebar di daerah Banten dan Priangan Timur berbatasan dengan Jawa Tengah, juga di Brebes. Secara diakronis kata naᴐn berasal dari nahaon, sedangkan kata naön  berasal dari nahaön, yang masingmsing kehilangan suku kata ha  karena proses sinkop. Baik kata nahaon  maupun nahaön memiliki bentuk dasar naha  yang masing-masing ditambah suku kata on  dan ön. Dalam bahasa Sunda bentuk ön secara morfemis berstatus sufiks. Dengan demikian, kemungkinan besar kata nahaön merupakan kata polimorfemis yang berasal dari naha + - ön. Dari analisis di atas, kemungkinan besar kata nahaon  berasal dari nahaön. Sama halnya dengan kata naᴐn  berasal dari naön. Dengan demikian, kata naᴐn dan nahaᴐn masing-masing merupakan inovasi internal dari kata naön dan nahaön.