This Author published in this journals
All Journal Metahumaniora
Erlina Zulkifli Mahmud
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PENERJEMAHAN KATA NON-EQUIVALENT Erlina Zulkifli Mahmud
Metahumaniora Vol 10, No 3 (2020): METAHUMANIORA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i3.30293

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas satu jenis strategi penerjemahan yang berfokus pada penerjemahan pada level kata yang bersifat non-equivalent menurut Mona Baker. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan jenis strategi penerjemahan apa saja dalam taksonomi tersebut  yang diaplikasikan pada penerjemahan kata-kata non-equivalent yang ditemukan pada novel-novel Indonesia sebagai bahasa sumber ke dalam bahasa Inggris sebagai bahasa sasaran; dan juga untuk mengidentifikasi apakah pesan yang terdapat pada kata-kata bersifat non-equivalent pada bahasa sumber tersampaikan sama pada bahasa sasaran. Metode yang digunakan untuk membahas aplikasi strategi penerjemahan ini adalah metode kualitatif-komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata-kata yang bersifat non-equivalent diterjemahkan dengan menggunakan 7 dari 8 strategi penerjemahan yang ada dan secara keseluruhan strategi penerjemahan untuk kata non-equivalent mampu menyampaikan pesan yang terdapat pada kata-kata non-equivalent tersebut meskipun tidak semua secara detil.Kata kunci: strategi penerjemahan, kata non-equivalent, strategi penerjemahan Mona Baker AbstractSpeech act is the activity of uttering speech with a specific purpose. Research on speech acts has been done by many researchers before, but the number is still limited that reviewed the speech acts during the Covid-19 pandemic. This study discussed the types of speech acts on Instagram social media during the Covid-19 period. This study used a pragmatic approach with Searle's speech act theory (1979). The method used is descriptive qualitative. Based on the results of data analysis, researcher found that 3 types of speech acts, namely 1) Directive speech acts with the implicature of persuading and encouraging; 2) Representative speech acts with the implicature of commanding and challenging; 3) Expressive speech acts with the implicature of encouraging.Keywords: Covid-19, Pragmatic, Speech act         
SERUPA TAPI TAK SAMA ANTARA VERBA SURU DAN YARU Inu Isnaeni Sidiq; Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.26865

Abstract

Penelitian ini membahas perbedaan struktur dan makna pada penggunaan verba bersinonim suru dan yaru dalam bahasa Jepang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan juga mencoba mennyulih verba suru dan yaru dalam berbagai macam jenis kalimat untuk mengetahui perbedaan dan persamaannya baik secara struktur maupun semantis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terlepas dari kebersinoniman kedua verba ini dalam makna’ melakukan sebuah perbuatan’, penulis menemukan beberapa ciri khas  struktur dari masing – masing verba pada saat mengisi posisi predikat sebuah kalimat yang sama. Selain itu, penulis juga menemukan makna verba yaru yang tidak ditemukan pada kamus-kamus referensi yang ada yaitu ‘mengirimkan seseorang untuk melakukan sesuatu’ yang tidak ditemukan pada penggunaan verba suru. Terlepas dari kebersinoniman kedua verba, hasil peneltian ini menunjukkan bahwa baik verba suru maupun yaru memiliki kekhasan secara struktur dan makna sehingga meskipun bersinonim bukan berarti kedua verba tersebut selalu dapat saling menyulih.