This Author published in this journals
All Journal Metahumaniora
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pemertahanan Warisan Budaya Wayang Wong Gaya Yogyakarta dan Komodifikasinya untuk Atraksi Wisata di Kota Yogyakarta Prima Agustina
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18875

Abstract

AbstrakWayang wong gaya Yogyakarta merupakan seni pertunjukan yang dasargerakannya adalah tari klasik gaya Yogyakarta atau Joged Mataram. Masyarakatmemanfaatkan warisan budaya wayang wong gaya Yogyakarta untuk atraksi wisata.Dalam perspektif kajian budaya, pemanfaatan tersebut merupakan industri budayayang menuntut komodifikasi. Data penelitian dikumpulkan dari kepustakaan,wawancara dengan pakar wayang wong gaya Yogyakarta, dan pengamatan di lokasipementasan, di tempat pembelajaran tari klasik di kota Yogyakarta. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa untuk tujuan atraksi wisata pementasan wayang wong gayaYogyakarta mengalami perkembangan dan komodifikasi, tetapi masyarakat tetapmempertahankan aturan baku dari segi teknis tari dan penjiwaan dari para penarinya.Kata kunci: wayang wong, Yogyakarta, atraksi wisata, industri budaya, komodifikasiAbstractWayang wong is an outstanding dance performance in Java. Yogyakarta’s stylemeans that the dance movement has its basic on Yogyakarta’s classical court dance namedJoged Mataram. People in Yogyakarta present the show of this intangible heritage as touristattraction. Cultural studies acknowledge the practice as part of cultural industry whichrequire its commodification. Datas are obtained out of field research and litterature study:interviews with experts of wayang wong Yogyakarta style, observations in some classicaldance training societies in the city of Yogyakarta. The result indicate that transformation andcommodification in wayang wong performance occured due to tourist attraction. Nevertheless,communities continue their effort to preserve the court classical dance standard in term ofdance technicality and the highly controlled emotion of dancers expression.Keywords: wayang wong, Yogyakarta, tourist attraction, cultural industry,commodification.