Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Memahami Makna Jihad Dalam Serial Film Kartun Cisform: Jihad Fi Sabilillah (Analisis Wacana Teun A. Van Dijk) Ali Ridho
Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jdk.v4i1.873

Abstract

Analisis wacana yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk ini digunakan untuk mengetahui makna Jihad fi Sabilillah dalam serial film kartun yang diluncurkan oleh Center For The Study Of Islam And Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bekerjasama dengan Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamian Global (PSTPG) UIN Starif Hidayatullah Jakarta. Ada tiga struktur teks yang ada dalam analisis wacana Van Dijk diantaranya adalah struktur makro, superstruktur dan struktur mikro. Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan data-data yang peneliti peroleh dari film kartun CISForm: Jihad fi Sabilillah yang di-upload pada youtube, berbagai referensi pendukung lainnya seperti, buku-buku, jurnal dan artikel di media massa atau internet. Hasil penelitian ini adalah Jihad fi Sabilillah mampu dilakukan dengan beragam cara, tidak dengan demostrasi dan perang saja. Sebab, jihad bentuk demostrasi untuk penegakan khilafah dan perang dalam konteks tatanan dunia sekarang sudah tidak mungkin untuk dilaksanakan. Dan menyalahi pemaknaan dan penerapan ayat-ayat tentang jihad di al-Qur?an maupun Sunnah Nabi Saw. Jihad di masa kini harus mempunyai arah untuk memajukan Islam demi kemaslahatan manusia dan alam semesta. Kedudukan Jihad dengan mempelajari ilmu agama atau ilmu pengetahuan yang lainnya, lebih utama kedudukannya ketimbang dengan jihad mengangkat senjata.
Arah Politik Muhammadiyah dalam Pemilihan Presiden 2019: Sebuah Analisis Framing Media Online Ali Ridho
Kalijaga Journal of Communication Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/kjc.11.01.2019

Abstract

This paper aims to discover how to frame Muhammadiyah’s political direction news in the 2019 Presidential Election on Republika.co.id, Kumparan.com, and Tribunnews.com. From this phenomenon arises a question of precisely the political direction of Muhammadiyah in the 2019 Presidential Election? The method used in this research is the framing analysis of Robert N. Entman’s model, which states that each media constructing news must go through two stages, namely the selection of issues and the highlighting of aspects. Analyzing data obtained through 4 steps, (1) Define problems, (2) Diagnose causes, (3) Make moral judgment, and (4) Treatment Recommendation. This research shows that Muhammadiyah is a social organization in an association engaged in da'wah Amar Ma'ruf Nahi Munkar and Tajdid. Muhammadiyah as a religious movement has always been a lyric for the participants of the presidential election because it has an excellent political power second after Nahdlatul Ulama (NU), which is said to be a representation of the voice of Muslims. In early September, the number one vice-presidential candidate, Ma'ruf Amin, visited the central office. Muhammadiyah, and the previous month, the number two pair, Prabowo-Sandiaga, also asked for a blessing to participate in the 5th Annual event. After that, I reveal that this study showed three online mass media: Republika.co.id, Kumparan.com, and Tribunnews.com in their coverage of Muhammadiyah's political direction in the 2019 presidential election were neutral. Muhammadiyah, as a religious organization, chose consistency to maintain neutrality in the presidential election and give all Muhammadiyah citizens freedom to vote at the five-yearly event.Paper ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembingkaian berita arah politik Muhammadiyah pada Pemilihan Presiden tahun 2019 di portal berita Republika.co.id, Kumparan.com dan Tribunnews.com. Dari fenomena ini muncul sebuah pertanyaan kemana sebenarnya arah politik Muhammadiyah pada Pemilihan Presiden Tahun 2019? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis framing model Robert N. Entman, yang menyatakan bahwa setiap media mengkontruksi berita harus melalui dua tahap, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek. Data yang diperoleh dianalisis melalui 4 tahap, (1) Define problems, (2) Diagnose causes, (3) Make moral judgement, dan (4) Treatment Recommendation. Penelitian ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi sosial kemasyarakatan dalam bentuk persyarikatan yang bergerak pada wilayah dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan selalu menjadi lirikan bagi peserta pemilihan presiden di setiap waktunya, sebab digadang-gadang memiliki kekuatan politik yang menjanjikan kedua setelah Nahdlatul Ulama (NU) yang konon merupakan representasi dari suara umat Islam. Pada awal bulan September yang lalu, calon wakil presiden nomor urut 1 Ma’ruf Amin berkunjung ke kantor PP. Muhammadiyah, dan bulan sebelumnya, pasangan nomor urut 2 yaitu Prabowo-Sandiaga juga meminta restu untuk mengikuti ajang 5 Tahunan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan ketiga media massa online yakni: Republika.co.id, Kumparan.com dan Tribunnews.com dalam pemberitaannya terhadap arah politik Muhammadiyah dalam Pilpres 2019 bersikap netral. Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan memilih istiqomah menjaga netralitas dalam Pilpres tersebut dan memberikan kekebasan bagi seluruh warga Muhammadiyah untuk memberikan hak suaranya pada perhelatan lima tahunan tersebut.
SYARI’AT ISLAM DAN DILEMA DAULAH ISLAMIYAH (INDONESIA CERMINAN NEGARA MADINAH) ALI RIDHO
Mudabbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 2 No. 2 (2021): MANAJEMEN DAKWAH MULTIPERSPEKTIF
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/mudabbir.v2i2.4138

Abstract

Pergolakan bangsa yang bernuansa sosial-politik dengan menggunakan semboyan agama (baca: Islam) semenjak pasca-Orde Baru hingga sekarang tidak kunjung menemui penyelesaian. Khususnya klaim yang dilakukan oleh sebagian kelompok Islam mainstream yang mengenai bentuk negara Indonesia dan penggunaan hukum syariat hukum Islam dalam tatanan sosial-politik. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) menggunakan pendekatan analisis historis, yakni suatu metode penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis. Hasil penelitian menyimpulkan Islam tidak memberikan kepastian aturan terkait pergantian pemimpin secara eksplisit dan detail. Apalagi menyangkut konsepsi negara yang utuh: struktur dan sistem pemerintahan, cakupan wilayah serta hal-hal teknis semacamnya. Indonesia merupakan Darul Islam, bukan Daulah Islamiyyah. Darul Islam mengacu pada wilayah yang dihuni kaum muslimin dengan segenap haknya untuk menjalankan syari’at Islam secara aman sebagaimana di masa Nabi Muhammad SAW mendirikan negara Madinah, sedangkan Daulah Islamiyyah merujuk kepada konsep negara Islam integralistik.