Jerina Novita Elpasari
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UNILATERAL CLAIM OVER CHAGOS ARCHIPELAGO AS BRITISH INDIAN OCEAN TERRITORY (BIOT) BY UNITED KINGDOM BASED ON INTERNATIONAL LAW Jerina Novita Elpasari
Padjadjaran Journal of International Law Vol. 3 No. 1 (2019): Padjadjaran Journal of International Law, Volume 3, Number 1, January 2019
Publisher : International Law Department, Faculty of Law Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23920/pjil.v3i1.311

Abstract

AbstractIn 1965, United Kingdom (UK) made a unilateral claim over the Chagos Archipelago as British Indian Ocean Territory (BIOT) based on the BIOT Order of 1965 and Statutory Instrument of 1965 No. 1020. Due to this unilateral act, the Chagos Archipelago no longer parts of Mauritius. Problem arising from Britain's unilateral claim to the territory was further aggravated by the United Kingdom’s act in enforcing population transfer towards all Chagos islanders (Chagossians) out of the territory without adequate compensations and resettlement. This research aims to analyze the legality of unilateral claims over the Chagos archipelago as a BIOT and the enforced transfer of Chagossians from their original residential place by the United Kingdom. It argues that under international law, Chagos Archipelago is recognized as an area that should remain integrated within the territory of Mauritius. It further argues that the UK has violated international law by committing enforced population transfer.Keywords: BIOT, Enforced Population Transfer, Territory, The Chagos Archipelago, Unilateral Act. AbstrakPada tahun 1965, Inggris melakukan klaim sepihak atas wilayah Kepulauan Chagos sebagai British Indian Ocean Territory (BIOT) berdasarkan British Indian Ocean Territory Order of 1965 dan Statutory Instrument of 1965 No. 1020. Kepulauan Chagos merupakan bagian dari Mauritius pada saat Mauritius berada dibawah penjajahan Inggris. Tindakan yang dilakukan oleh Inggris terhadap wilayah tersebut berdampak pada terpisahnya kepulauan Chagos dari Mauritius. Permasalahan yang timbul dari Klaim sepihak Inggris atas wilayah tersebut kemudian turut diperparah dengan tindakan Inggris yang melakukan pemindahan paksa seluruh penduduk kepulauan Chagos (Chagossians) dari wilayah tersebut tanpa kompensasi dan tempat tinggal pengganti yang layak serta memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis legalitas klaim sepihak terhadap kepulauan Chagos sebagai BIOT dan pemindahan Chagossians dari tempat tinggal asalnya secara paksa yang dilakukan oleh Inggris sebagai enforced population transfer. Penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah kepulauan Chagos diakui sebagai wilayah yang seharusnya tetap terintegrasi dalam wilayah Mauritius dan penetapan wilayah tersebut sebagai BIOT telah bertentangan dengan prinsip dan ketentuan hukum internasional. Kata Kunci: BIOT, Enforced Population Transfer, Kepulauan Chagos, Tindakan Sepihak, Wilayah
Perluasan Keikutsertaan Pengadilan Nasional terhadap Proses Arbitrase di Indonesia: Harmonisasi Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa Alternatif dengan UNCITRAL Model Law 1985/2006 Jerina Novita Elpasari
Padjadjaran Law Review Vol. 5 (2017): PADJADJARAN LAW REVIEW VOLUME 5 NOMOR 1 DESEMBER 2017
Publisher : PADJADJARAN LAW RESEARCH AND DEBATE SOCIETY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Arbitrase merupakan salah suatu mekanisme alternatif penyelesaian sengketa yang cukup sering digunakan umumnya dalam sengketa bisnis. Arbitrase dipandang sebagai suatu mekanisme efektif yang dapat mengakomodasi kepentingan para pihak yang terlibat di dalamnya karena tata cara pelaksanaannya dapat ditentukan dengan kesepakatan dan sifatnya yang bersifat rahasia. Walaupun Arbitrase dipandang cukup efektif, namun dalam pelaksanaannya mekanisme ini memiliki beberapa kelemahan yang cukup fatal dalam hal sifat sementaranya (ad Hoc), tidak adanya daya paksa terhadap para pihak di dalamnya, serta kondisi bahwa mekanisme ini tidak dapat serta merta mengikat pihak ketiga. Arbitrase membutuhkan bantuan dari pengadilan untuk menutupi kekurangan tersebut. Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa Alternatif telah mengatur mengenai hubungan dan bentuk bantuan yang dapat diberikan oleh pengadilan nasional terhadap arbitrase di Indonesia, namun hal tersebut belum cukup untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul karena kelemahan yang dimiliki Arbitrase. Dalam hal ini dibutuhkan suatu perluasan bentuk peran dan bantuan yang dapat diberikan pengadilan terhadap arbitrase yang lebih menyeluruh dengan mengacu pada ketentuan dalam UNCITRAL Model Law 1985/2006 sebagai salah satu instrumen hukum arbitrase yang cukup komprehensif. Kata Kunci: Arbitrase, pengadilan, perluasan peran pengadilan, Uncitral Model Law, UU Arbitrase. Abstract Arbitration is one of the most common alternative dispute resolution mechanisms in business disputes. Arbitration is as an effective mechanism that can accommodate the interests of the parties involved because it can be determined by agreement and its confidential nature. Although the arbitration is deemed to be quite effective, in practice it has some fatal flaws in terms of its temporary nature (ad hoc), the absence of imperium against the parties in it, and the condition that this mechanism can not necessarily bind a third party. Arbitration requires court assistance to cover the shortfall. Law No. 30 of 1999 on Alternative Dispute resolution settlement and Arbitration has set out the relations and forms of assistance that the national courts can provide to arbitration in Indonesia, but that is not sufficient to overcome problems that may arise from the weaknesses of the Arbitration. In this case, there is a need to accommodate the expansion of roles and assistance that can be given by the court to Arbitration based on the provisions of UNCITRAL Model Law 1985/2006 as one of the most comprehensive instruments of arbitration law. Key words: Arbitration, National Court, Expansion of national court roles, UNCITRAL Model Law, Arbitration Law.