Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hubungan Persepsi Komunikasi Interpersonal Dengan Stres Kerja Pada Karyawan PT. Wesen Jayatama Cabang Medan Duma Yunita; Anna Wati Dewi Purba
JURNAL ISLAMIKA GRANADA Vol 1, No 1 (2020): ISLAMIKA GRANADA SEPTEMBER
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/ig.v1i1.9

Abstract

Stres kerja adalah staf turun untuk sampai ke staf, baik secara fisik maupun psikologis karena ketidakcocokan antara data yang digunakan atau bekerja dengan kemampuan karyawan. Ketika seseorang mengalami stres, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah stres yang timbul dari lingkungan sosial dalam hubungan interpersonal (interpersonal mismatch, personal freedom, isolation), sehingga penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi komunikasi interpersonal dengan tekanan kerja pada karyawan PT. Wesen Jayatama Cabang Medan. Sampel dalam penelitian ini adalah 75 karyawan, sehingga hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara persepsi komunikasi interpersonal dengan stres kerja, dengan asumsi peningkatan komunikasi interpersonal dengan pemimpinnya, stres kerja akan lebih rendah dan jika persepsi komunikasi interpersonal tidak baik maka stres tersebut akan membantu karyawan akan semakin tinggi. Data dikumpulkan menggunakan skala Likert dan teknik purposive sampling. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis produk dari pihak Karl. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, ditemukan adanya hubungan antara persepsi komunikasi interpersonal dengan tekanan kerja pada karyawan.
Pentingnya Teknik Empati Dalam Proses Konseling Individual Yunita Yunita
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 2, No 3 (2021): J-P3K DESEMBER
Publisher : Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v2i3.128

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang pentingnya teknik empati dalam proses konseling individual. Teknik empati adalah menyelaraskan diri (peka) terhadap apa, bagaimana, dan latar belakang perasaan dan pikiran orang lain sebagaimana orang tersebut merasakan dan memikirkannya. Teknik empati merupakan salah satu dari berbagai teknik dalam proses konseling. Sedangkan Proses Konseling adalah proses bantuan yang dilakukan melalui wawancara, yang dilakukan oleh seorang ahli disebut konselor kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah disebut konseli apabila di lingkungan formal dan disebut klien apabila diluar lingkungan formal. Tujuan dari dilakukan konseling adalah bermuara pada teratasinya masalah yang sedang dialami. Individual atau sendiri adalah mengenai atau berhubungan dengan manusia secara pribadi yang bersifat perseorangan. Dimana Proses konseling individual hanya dapat dilakukan secara face to face dengan kata lain tidak ada orang lain atau orang ketiga selain dari konselor dan klien. Proses konseling individual tidak hanya dapat dilakukan didalam ruangan melainkan dapat dilakukan diluar ruangan seperti halaman, taman, dan lain-lain. Diharapkan setelah membaca artikel ini dapat melakukan proses konseling individual dengan menggunakan teknik empati secara maksimal dan efektif baik di lingkungan formal, non formal dan informal.
Pentingnya Layanan Konseling Kelompok Terhadap Harga Diri Remaja Yunita Yunita
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 1, No 3 (2020): J-P3K DESEMBER
Publisher : Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v1i3.51

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang pentingnya layanan konseling kelompok terhadap harga diri remaja. Layanan konseling kelompok ialah suatu proses konseling antara konselor professional dengan beberapa konseli sekaligus dalam sebuah kelompok kecil di waktu yang bersamaan. Layanan konseling kelompok pada dasarnya merupakan layanan konseling individual yang dilakukan dalam suasana kelompok. Disana ada konselor dan klien, yaitu “para anggota kelompok” (yang jumlahnya lebih dari dua orang). Pada layanan konseling kelompok diusahakan tercipta suasana yang sama seperti dalam konseling individual yaitu hangat, permisif, penuh keterbukaan dan juga intimasi. Dimana konseli dapat mengungkapkan dan saling memahami masalah anggota kelompok, menelusuri sebab-sebab terjadinya permasalahan serta upaya pemecahan masalah. Sedangkan harga diri remaja merupakan penilaian pribadi individu yang dilakukan pada diri sendiri baik secara positif maupun negatif yang dilandaskan hubungan dan interaksi dengan orang-orang penting di sekitarnya dan juga dipengaruhi sikap, penerimaan, penghargaan dan perlakuan orang lain terhadap diri individu. Harga diri sering dinilai sebagai peringkat dengan dimensi yang berkisar mulai dari negatif sampai positif maupun rendah sampai tinggi. Diharapkan setelah membaca artikel ini dapat melakukan layanan konseling kelompok dengan maksimal dalam meningkatkan harga diri remaja baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Pengaruh Penyesuaian Sosial, Dukungan Sosial dan Keterampilan Sosial Sebagai Moderator Pembentukan Perilaku Sosial Siswa di Sekolah Yunita Yunita
Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE) Vol 5, No 1 (2023): JANUARI
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ijsse.v5i1.9499

Abstract

Masalah-masalah sosial siswa di sekolah seringkali muncul dan memberikan dampak pada perilaku sosial siswa, hal ini perlu menjadi perhatian penting untuk diketahui guru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penyesuaian sosial, dukungan sosial dan keterampilan sosial sebagai moderator pembentukan perilaku sosial siswa di sekolah. Metode penelitian menggunakan ex post facto designs. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Kartika I-2 Medan, polulasi penelitian ini yaitu siswa kelas XI, sampel penelitian berjumlah 75 siswa. Pengumpulan data menggunakan skala penyesuaian sosial, dukungan sosial, dan keterampilan sosial. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil temuan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh (sig.<0,05) antara variabel penyesuaian sosial, dukungan sosial, dan keterampilan sosial terhadap variabel perilaku sosial (nilai R=0,860, R2=0887, F=179,853, Sig.=0,000). Hasil penellitian diperoleh kesimpulan terdapat pengaruh penyesuaian sosial, dukungan sosial, dan keterampilan sosial sebagai moderator pembentukan perilaku sosial siswa. Hasil penelitian ini berkontribusi sebagai kebaharuan (novelty) bagi guru, akademisi dan pemerhati di bidang pendidikan, psikologi maupun sosial.
Problematics of Religious Character Building and Discipline in Students of SMA Kartika 1-2 Medan Yunita Yunita
At-Ta'lim : Media Informasi Pendidikan Islam Vol 21, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/attalim.v21i2.9669

Abstract

Abstract: Problematics of Religious Character Building and Discipline in Students of SMA Kartika 1-2 Medan. This research is motivated by the many behaviors of students in class XI of SMA Kartika 1-2 Medan that do not reflect a religious and disciplined character. This research aims to find out what the problems in the formation of religious and disciplinary character and what are the inhibiting factors in the formation of the religious and disciplinary character of class XI students of SMA Kartika 1-2 Medan, This type of research uses qualitative methods with a descriptive approach, using interview techniques, observation, and documentation. The results showed that: Problematics of Religious Character Building and Discipline of class XI SMA Kartika 1-2 Medan, namely: students do not obey the rules, lack of cooperation between teachers and parents, the methods used by teachers are not optimal, and the factors that become obstacles in the formation of religious character and discipline of class XI students are: internal factors that come from within the students themselves, namely: lack of willingness from within students, and students who are difficult to manage and external factors, namely: Lack of attention from parents, environment and association of students who are less supportive and the negative impact of the internet and online games.Problematika Pembentukan Karakter Religius dan Disiplin pada Siswa SMA Kartika 1-2 Medan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya perilaku siswa kelas XI SMA Kartika 1-2 Medan yang tidak mencerminkan karakter religius dan disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja yang menjadi permasalahan dalam pembentukan karakter religius dan disiplin dan apa saja yang menjadi faktor penghambat dalam pembentukan karakter religius dan disiplin siswa kelas XI SMA Kartika 1-2 Medan, Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Problematika Pembentukan Karakter Religius dan Disiplin siswa kelas XI SMA Kartika 1-2 Medan, yaitu: siswa tidak mentaati peraturan, kurangnya kerja sama antara guru dengan orang tua, metode yang digunakan guru kurang maksimal, dan faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pembentukan karakter religius dan disiplin siswa kelas XI yaitu: faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yaitu: kurangnya kemauan dari dalam diri siswa, dan siswa yang sulit diatur dan faktor eksternal yaitu: Kurangnya perhatian dari orang tua, lingkungan dan pergaulan siswa yang kurang mendukung serta dampak negatif dari internet dan game online..
Studi Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja Karyawan Koperasi Unit Desa Beringin Jaya I Afrizal Rangkuti; Yunita Yunita
Jouska: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 2, No 2 (2023): Jouska: Jurnal Ilmiah Psikologi Agustus
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jsa.v2i2.2703

Abstract

This study aims to describe the Study of the Factors Influencing Employee Motivation in Beringin Jaya I Village Cooperative Unit. The research method used is a method with a descriptive quantitative approach. The samples in this study were KUD Makmur Jaya employees in Beringin Jaya Village with a total sample of 51 people. Sampling using total sampling technique. The work motivation scale is compiled based on factors that influence work motivation according to Maslow (in Kristanti, 2019) factors that influence work motivation, namely: Physiological Needs, Need for a sense of security (Safety and Security Needs), Social needs or affiliation ( affiliation or acceptance Needs), Needs that reflect self-esteem (Esteem or Status Needs), Self-actualization needs (Self-Actualization), The highest factor that influences work motivation is the factor of the need for a sense of security giving the largest contribution, namely 81.70%., The smallest factor that is influencing work motivation is the need for self-actualization which is equal to 42.50%.
The Relationship Between Self Efficacy and Student Engagement in Students Yunita Yunita
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 1 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is a quantitative study with a cross sectional survey approach. The purpose of this study is to see the relationship between the concept of self-efficacy and student engagement. The hypothesis in this study is that there is a positive and significant relationship between self-efficacy and student engagement. The population is 84 students and the sample is 84 students with total sampling technique. Based on the results of the product moment correlation test, it can be seen that the significance value of the variable self-efficacy and student engagement is <0.001 <0.05. This explains that there is a significant relationship between self-efficacy and student engagement in students. The Pearson correlation value obtained between self-efficacy and student engagement is 0.947. This explains that the self-efficacy variable with student engagement has a positive correlation with a very strong correlation coefficient. The value of the determinant coefficient obtained is equal to 89.7%. Based on the value of the determinant coefficient, it can be seen that the effect of self-efficacy on student engagement is 89.7% and the remaining 10.3% is influenced by other factors.