Bahri Bahri
Pendidikan Sejarah

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Andi Mannappiang: Raja, Pejuang dan Penegak Hukum, 1905-1962 Narti Narti; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang  Andi Mannappiang: Raja, Pejuang dan penegak hukum (1905-1962) dengan mengungkapkan latar belakang kehidupan, Pendidikan, kiprah dan pemikiran Andi Mannappiang sebagai raja, serta kiprah dan pemikiran Andi Mannappiang sebagai pejuang dan penegak hukum. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum kemerdekaan Indonesia Bantaeng di bawah tekanan Belanda dan Jepang namun setelah kemerdekaan kondisi sosial-politik di Bantaengsangat kacau karena kedatangan NICA oleh karena itu dibentuklah laskar perjuangan untuk  mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Bantaeng. Andi Mannappiang merupakan pejuang yang  menggerakkan perlawanan di Bantaeng.Dalam penelitian ini menjelaskan Andi Mannappiang merupakan raja yang memimpin Bantaeng selama 2 kali masa jabatan yakni pada tahun 1939-1945 tetapi karena perjuangan melawan NICA maka Andi Mannappiang ditahan. Periode kedua tahun 1950-1952, setelah mengundurkan diri dari jabatannya beliau bekerja di Kantor Kejaksaan Tinggi Makassar sebagai hakim. Kata Kunci : Raja, Pejuang, Penegak Hukum AbstractThis study aims to describe Andi Mannappiang: King, Warrior and Law Enforcement (1905-1962) by revealing the background of Andi Mannappiang's life, education, and thought as a king, and Andi Mannappiang's gait and thought as a warrior and law enforcer. In this study shows that before Indonesian independence Bantaeng was under pressure from the Netherlands and Japan but after independence socio-political conditions in Bantaeng were very chaotic because of the arrival of the NICA and therefore formed an army of struggle to maintain the independence of the Republic of Indonesia in Bantaeng. Andi Mannappiang is a warrior who stirred up resistance in Bantaeng. In this study explains Andi Mannappiang is the king who led Bantaeng for 2 times a term of office in 1939-1945 but because of the struggle against NICA, Andi Mannappiang was arrested. The second period 1950-1952, after resigning from his position he worked in the Makassar High Prosecutors Office as a judge.Keywords : King, Warrior, Law Enforcement
Modernisasi Masyarakat Nelayan Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai, 1960 – 2018 Haerul Akmal; Patahuddin Patahuddin; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 1, April 2020
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.835 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v7i1.12511

Abstract

Penelitian dan penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan, menguraikan kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan di Kecamatan Pulau Sembilan sebelum dan sesudah modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu sejarah, sehingga tahap penelitian yang dilakukan adalah (1) Heuristik atau pengumpulan data, (2) Kritik (3) Interprtasi dan (4) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik, pola hubungan kerja dan interaksi masyarakat antar pulau adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan sosial ekonomi  masyarakat nelayan di kecamatan pulau sembilan. Sebelum masuknya pengaruh modernisasi, kehidupan nelayan tradisional di Kecamatan Pulau Sembilan memiliki banyak keterbatasan baik dari segi alat tangkap yang masih sangat sederhana begitupun dengan daerah jangkauan penangkapan yang masih terbatas. Alat tangkap yang digunakan berupa pancing, panah, bubuh,bagang tancap dan bagang rakit dengan orientasi penangkapan yang masih bersifat subsisten. Kondisi seperti ini mulai berubah ketika nelayan mulai mengenal modernisasi pada tahun 1970 yang di tandai dengan pengunaan mesin sebagai alat penggerak perahu yang pada akhirnya menyebabkan daerah jangkauan penangkapan menjadi lebih luas. Pengaruh modernisasi telah mengubah pola pikir masyarakat nelayan di Kecamatan Pulau Sembilan untuk beralih mejadi nelayan pembudidaya rumput laut. Peralihan ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan sosial ekonomi nelayan, yang ditandai dengan perubahan orientasi ekonomi dari subsiten menjadi komersil.Kata Kunci : Nelayan, Pulau Sembilan, Modernisasi  Abstract The research and writing of this thesis aims to describe the background of the socio-economic life of the fishing community, describing the socio-economic living conditions of the fishing communities in Pulau Sembilan District before and after modernization. . This study uses a historical science approach, so the stages of research carried out are (1) Heuristics or data collection, (2) Criticism (3) Interpretation and (4) Historiography. The results showed that the characteristics, patterns of work relationships and community interaction between islands are a very important part in the socio-economic life of fishing communities in Pulau Nine sub-district. Before the influx of modernization, the life of traditional fishermen in Pulau Sembilan Subdistrict had many limitations both in terms of fishing gear which was still very simple as well as the limited fishing range. Fishing gear that is used in the form of fishing rods, arrows, bubuh, stepang and stepang raft with a fishing orientation that is still subsistence. Conditions like this began to change when fishermen began to recognize modernization in 1970 which was marked by the use of engines as a means of driving a boat which ultimately led to a wider catchment area. The influence of modernization has changed the mindset of the fishing community in Pulau Sembilan Sub-district to turn into seaweed cultivating fishermen. This transition has a very big impact on the socio-economic life of fishermen, which is marked by a change in economic orientation from subsistence to commercial Keywords: Fisherman, Pulau Sembilan, Modernization 
Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru di Kabupaten Bone, 1970-2018 Nirwana Nirwana; Amirullah Amirullah; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan latar belakang berdirinya Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, perkembangan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, dan dampak keberadaan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru bagi Alumni dan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, dan sosial budaya. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode historis. Melalui tahapan-tahapan, Heuristik (pengumpulan data), kritik (verifikasi),  interpretasi (penafsiran) dan historiografi (tulisan sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang berdirinya Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru dilatarbelakangi oleh KH. Junaid Sulaiman sebagai pendiri pesantren awalnya membuka pengajian kitab kuning yang berlokasi di masjid raya Watampone. Daya tampung masjid raya yang kecil dan minat masyarakat untuk belajar semakin meningkat kemudian menjadi alasan bagi KH. Junaid Sulaiman untuk membangun pusat pendidikan Islam yang lebih besar dan bisa lebih fokus membina generasi muda. Berkat komunikasi yang baik dengan bapak Bupati Kabupaten Bone Andi Muhammad Amir dan Dewan Perwakilan Rakyat maka diperolehlah lokasi yang strategis di JL. Biru dan dengan bantuan berbagai pihak, berdirilah pesantren tersebut yang awalnya diramaikan oleh santri pindahan dari masjid raya mereka kurang lebih 20 orang. Pesantren modern Al-Junaidiyah Biru mengalami perkembangan yang dapat terlihat dengan jelas seperti perkembangan sarana dan prasarana, tenaga pengajar, dan para santrinya yang setiap tahun jumlahnya terus bertambah. Keberadaan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Bone membawa dampak positif baik dalam bidang agama, pendidikan, dan sosial budaya. Dampak yang dirasakan secara langsung bagi masyarakat tentunya menambah pengetahuan baru tentang agama Islam dan mengetahui lebih dalam lagi tentang agama Islam. Keberadaan Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak mereka yang menginginkan anaknya mendalami ilmu keagamaan, dimana Pesantren Modern Al-Junaidiyah Biru sebagai salah satu sarana pendidikan yang menjadi pusat pengembangan ilmu keagamaan dan pendidikan keagamaan melalui sekolah berbasis formal dan nonformal.Kata kunci : Pesantren, Modern dan Biru AbstractThis study aims to reveal the background of the establishment of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru the development of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru, and the impact of the existence of Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru for alumni and the community in the fields of religion, education, and social culture. This research is a descriptive analysis using the historical method. Through the stages of heuristics (data collection), criticism (verification), interpretation (interpretation) and historiography (historical writing).Tempe and several relevant government parties. then (2) criticism, (3) interpretation and (4) historiography. The results showed that the background of the establishment of the Modern Al-Junaidiyah Biru Pesantren was motivated by KH. Junaid Sulaiman as the founder of the pesantren initially opened the study of the yellow book located in the Watampone great mosque. Small mosque capacity and interest the community to learn to improve has become an excuse for KH. Junaid Sulaiman to build a bigger Islamic education center and can be more focused on fostering the younger generation. Thanks to good communication with the Bupati regent Bone Andi Muhammad Amir and the house of representatives, a strategic location was obtained on JL. Biru and with the help of various parties, the pesantren stood which was initially enlivened by the transfer students from their grand mosque of approximately 20 people. Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru has experienced developments that can be seen clearly such as the development of facilities and infrastructure, teaching staff, and students, which are increasing every year. The existence of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru in the middle of the Bone district community has a positive impact both in the fields of religion, education, and social culture. The impact that is felt directly for the community certainly adds new knowledge about the religion of islamic and knows more about the religion of islamic. The existence of the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru is also used by the surrounding community as a means of education for their children who want their children to study religious knowledge, where the Modern boarding school Al-Junaidiyah Biru as one of the educational facilities which is the center of the development of religious knowledge and religious education through schools formal and informal basis.Keywords: Boarding School, Modern, Biru