Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Self-Disclosure Pasangan Suami Istri Jawa Batak yang Menikah Melalui Proses Ta’aruf Hilyatul Aulia
Konvergensi Vol 2 No 1 (2020): Konvergensi : Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pernikahan melalui proses ta’aruf saat ini semakin marak terjadi. Pasangan yang menikah melalui proses ta’aruf adalah yang memiliki prinsip tidak berpacaran sebelum menikah dan juga memiliki keinginan untuk menikah berdasarkan syariat Islam. Self-disclosure atau pembukaan diri sangat erat kaitannya dengan hubungan antar manusia khususnya pada pernikahan. Pasangan suami istri yang menikah melalui proses ta’aruf memiliki tahapan yang berbeda dengan pasangan yang melalui proses pacaran. Komunikasi yang dilakukan selama ta’aruf sangat terbatas karena berlandaskan pada prinsip. Pernikahan yang terjadi pada pasangan suami istri melalui proses ta’aruf memiliki tantangan tersendiri daripada pasangan yang menjalin masa pacaran terlebih dahulu. Hal tersebut terjadi karena banyak dari pasangan yang menjalani proses ta’aruf belum pernah mengenal satu sama lain sebelumnya bahkan sangat memungkinkan berasal dari suku yang berbeda. Menurut DeVito, ada lima tahapan pengembangan hubungan; Contact, Involvement, Intimacy, Deterioration, Repair, atau Dissolution. Penelitian ini membahas self-disclosure pada pasangan suami istri yang menikah melalui proses ta’aruf pada tahap Contact, Involvement, dan Intimacy dengan latar belakang budaya Jawa dengan Batak. Dimensi-dimensi yang dianalisis dalam penelitian ini adalah depth (kedalaman), dan breadth (keluasan). Tahap pengembangan hubungan pasangan ta'aruf berbeda dari DeVito. Tahap contact pada pasangan sangat terbatas dan dalam kasus ini, pasangan informan melakukan ta’aruf dengan metode yang tidak umum. Tahap involvement yang menurut DeVito terjadi sebelum menikah, pada pasangan ta’aruf hal ini tetap terjadi di awal pernikahan. Tahap deterioration muncul di antara tahap involvement dan intimacy.  Self-disclosure yang terjadi pada tahap contact, dan involvement rata-rata hanya sebatas pada dimensi breadth. Tahap intimacy sudah mulai ditemukan topik-topik yang termasuk dalam dimensi depth. Perbedaan budaya kedua pasangan bukanlah hal yang sulit untuk diatasi.Kata Kunci: self-disclosure, ta’aruf, tahap pengembangan hubungan, budaya Jawa dan Batak
Analisis Biaya Pertanian dengan Metode Matteseng berdasarkan PSAK 406 tentang Musyarakah (Studi desa Unra Kec. Awangpone Kab. Bone) Hilyatul Aulia; Muhammad Yamin; Muhammad Abdi Buhasyim
Journal of Mandalika Literature Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v6i3.4922

Abstract

This study aims to analyze the determination of agricultural costs using the matteseng method and its relevance to PSAK 406. This research employs a qualitative method with a field approach, involving interviews, observation, and documentation with the community in Unra Village. The results show that in the Matteseng method, all production costs are generally borne by the cultivators, in line with the mukhabarah contract. Cost components vary depending on the season, with a significant spike in irrigation costs during the dry season due to the additional water needs. The relevance of the matteseng method to PSAK 106 concerning musyarakah lies in the initial agreement, profit-sharing, and the rights and obligations of each landowner party as passive partners and cultivators as active partners. This practice upholds the principles of fairness, agreement, and risk-sharing, except in the aspects of reporting and recording