Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perlindungan Hukum Pekerja yang Terkena Pemutusan Hubungan Kerja di Masa Pandemi Covid-19 Nazifah Nazifah; Syarifa Mahila
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 21, No 3 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v21i3.1713

Abstract

The Covid-19 pandemic that has hit all countries in the world,including Indonesia, has had a negative impact on Indonesia’s economic growth. The negative impact of this pandemic is that many companies cannot operate properly so that many company suffer losses and not a few are forced to close their companies which  in the end has an impacts on umilateral termination of employment in many companies. The purpose of this study is to analyze the legal protection for workers who experience termination of employment unilaterally during this pandemic, in terms of the perspective of the Manpower Act. The research method used in this research is normative legal method by prioritizing a statutory approach, conceptual approach, and the legal materials used are all laws and regulations related to this research, especially the Manpower Act.Terminations of employment by many companies has a negative impact on workers. Moreover, Article 151Paragraph 1 of Law Number 13 Year 2013 concerning Manpower has emphasized that employers, workers. The Goverment must make every effort to prevent termination of employment, but in Law Number 11 Year 2020 about Job Creation Article 154 Paragraph (1) letter d states that the termination of employment can be carried out in a condition where the company is closed due to force majeure, and this covid-19 pandemic used as a reason for the company’s force majeure to unilaterally lay off workers.  The results of the research are expected to provide legal protection for workers affected by the covid-19 pandemic in the form of unilateral termination of employment.
Pilkada Langsung dan Paradoks Desentralisasi: Ketidakseimbangan Antara Legitimasi Politik dan Kewenangan Pemerintahan Daerah di Indonesia Ahmad Jumadil; Supeno Supeno; Nazifah Nazifah
Legalitas: Jurnal Hukum Vol 18, No 1 (2026): Juni
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/legalitas.v18i1.1389

Abstract

This study aims to examine how the method of selecting regional heads is inextricably linked to the design of decentralization within Indonesia's constitutional system. Debates regarding direct versus indirect regional head elections are often viewed merely through the lenses of democratic procedure, political efficiency, or local government stability. Yet, a deeper perspective—specifically, how authority is regulated and distributed between central and regional governments within the framework of autonomy—is frequently overlooked. This study explores the extent to which regional head election mechanisms truly align with decentralization principles, particularly from the perspective of asymmetric decentralization. Employing a normative legal approach, the study draws upon statutory regulations and conceptual frameworks. Primary legal sources consist of regulations concerning regional government and regional head elections, while secondary sources include relevant literature and prior research findings. The study reveals an imbalance: while directly elected regional heads possess strong political legitimacy, the actual authority exercised by regional governments remains limited due to a system that is still relatively centralized. This situation creates a paradox in the decentralization design: strong local political legitimacy exists alongside insufficient authority to manage regional governance. Consequently, the debate over regional head election mechanisms cannot be divorced from broader issues regarding decentralization design and the division of authority between the central and regional governments within Indonesia's constitutional system.
Analisis Fungsi Pengawasan DPRD Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kota Jambi Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Elvy Marlina; Nazifah Nazifah; M Muslih
Legalitas: Jurnal Hukum Vol 17, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/legalitas.v17i2.1229

Abstract

Pemerintahan daerah merupakan garda terdepan dalam penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan di Indonesia. Desentralisasi kekuasaan yang diamanatkan oleh konstitusi bertujuan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mempercepat pembangunan, dan meningkatkan partisipasi lokal. Dalam konteks ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) memegang peranan krusial sebagai representasi rakyat di tingkat lokal, dengan salah satu fungsi utamanya adalah pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah. Fungsi pengawasan ini menjadi fundamental untuk memastikan akuntabilitas, transparansi, efektivitas, dan efisiensi jalannya roda pemerintahan. Kinerja pemerintah daerah seharusnya mendapat perhatian lebih, bukan hanya pemerintah pusat saja yang menyorotinya, namun hal tersebut juga dilakukan oleh masyarakat setempat karena berkaitan dengan manfaat yang akan diterima masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan. Kinerja pemerintah daerah harus bisa dipertanggungjawabkan, mengingat bahwa pemerintah daerah berhak, berkewajiban dan memiliki wewenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Tujuan Penelitian ini yaitu : untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan efektivitas fungsi pengawasan DPRD Kota Jambi terhadap kinerja pemerintah daerah berdasarkan Pasal 153 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, untuk mengetahui kendala apa saja yang dihadapi DPRD Kota Jambi dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan dan program pemerintah daerah, serta bagaimana solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Metodologi penelitian menggunakan teknik yuridis sosiologis (empiris). Hasil penelitian yang didapat bahwa secara normatif DPRD telah memiliki landasan hukum yang kuat sebagaimana diatur dalam Pasal 153 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam ketentuan tersebut, DPRD memiliki fungsi utama, salah satunya adalah fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan kebijakan pemerintah daerah. Dalam praktiknya, fungsi pengawasan yang dilakukan DPRD Kota Jambi telah berjalan, namun efektivitasnya masih menghadapi beberapa kendala, antara lain : keterbatasan sumber daya manusia, akses data dan informasi yang belum sepenuhnya terbuka, koordinasi yang belum optimal antara DPRD dan pemerintah daerah, serta pengaruh dinamika politik lokal yang kadang mengaburkan objektivitas pengawasan. Dengan demikian, agar fungsi pengawasan DPRD terhadap kinerja pemerintah daerah dapat berjalan secara lebih efektif dan sesuai dengan semangat desentralisasi serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) perlu adanya komitmen bersama antara legislatif dan eksekutif untuk membangun sistem pengwasan yang terbuka, partisipatif dan berorientasi pada pelayanan publik. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka saran yang disampaikan adalah perlu adanya penguatan fungsi pengawasan DPRD terhadap kinerja Pemerintah Daerah dalam mewujudkan pemerintahan yang baik di DPRD Kota Jambi, agar apa yang menjadi cita-cita daerah dapat terlaksana dengan baik berkaitan dengan penerapan good governance. Upaya penguatan fungsi pengawasan DPRD dapat diwujudkan dengan melakukan penataan regulasi terkait dengan pelaksanaan fungsi DPRD sebagai bagian dari pemerintahan di daerah yang memiliki fungsi dan peran yang strategis dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah, penggunaan anggaran dan kebijakan pemerintah daerah dan upaya penguatan fungsi pengawasan DPRD juga dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia anggota DPRD, hasil dari peningkatan kualitas dapat diukur dari seberapa besar peran DPRD dalam melakukan pengawasan terhadap Kepala Daerah dalam pelaksanaan peraturan daerah, pelaksanaan anggaran dan kebijakan publik yang telah ditetapkan.
Penanggulangan Anak Didik Pemasyarakatan yang Melarikan Diri dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Jambi Nazifah Nazifah; Herma Yanti; Adithiya Nugroho
Wajah Hukum Vol 10, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/wjh.v10i1.2124

Abstract

One of the main functions regulated in Law Number 22 of 2022 concerning Corrections is the security function, which aims to prevent correctional students from escaping from correctional institutions. Escapes by correctional students and detainees, both from correctional institutions and state detention centers, are a frequent and recurring problem. Jambi Class IIA Prison is one of the technical implementation units of correctional institutions whose implementation practices also face various challenges. Prisoner escapes are influenced by various factors, including limited security personnel, the physical condition of buildings and security facilities, overcrowding, and psychological factors related to the uncertainty of the legal process. Although the correctional system in Indonesia has been regulated normatively and has undergone regulatory updates, in practice, the strategic role of correctional institutions has not been fully optimal, particularly in terms of prisoner security. This study uses an empirical juridical research type with a socio-legal research approach. Efforts to address the escape of correctional students from the Class II A Jambi Penitentiary are, in practice, predominantly carried out through administrative and preventive approaches, such as increased supervision, enforcement of rules, guidance for correctional students, and recapture of escaped correctional students. Obstacles in addressing escape of correctional students are influenced by structural and institutional factors, including limited number of correctional officers, suboptimal security facilities and infrastructure, and overcrowding.