Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ADVERSITY QUOTIENT DAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF MAHASISWA PENDIDIKAN MIPA FKIP UNIVERSITAS TADULAKO TAHUN AKADEMIK 2015/2016 Bakri M; Sudarman Bennu; Muh. Hasbi
Aksioma Vol. 5 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/aksioma.v5i3.763

Abstract

Ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa di perguruan tinggi yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar diri mahasiswa. Satu diantara faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa adalah adversity quotient yang disingkat AQ. Adversity quotient merupakan bentuk kecerdasan yang membuat seseorang dapat mengubah hambatan atau kesulitan menjadi sebuah peluang. Peneliti ingin mengetahui tingkat Adversity Quotient dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako tahun akademik 2015/2016. Penelitian menggunakan jenis penelitian korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako yang terdaftar pada tahun akademik 2015/2016 yang sudah memiliki IPK. Sampel pada penelitian sebanyak 478 orang menggunakan teknik pengambilan sampel purposive random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa angket yang disebut ARP dan Angket Indeks Prestasi Mahasiswa. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistika inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif mahasiswa berada pada rentang nilai 1,71 – 3,96 skala 0 - 4. IPK tertinggi dicapai oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Fisika, dan IPK terendah dicapai oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Matematika. IPK rata-rata mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako adalah 3,11. Adversity Quotient (AQ) mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako berada pada rentang skor 88 – 176. AQ tertinggi dicapai oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Biologi, dan AQ terendah dicapai oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika. Tetapi secara umum rata-rata AQ mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako adalah 124,37. Hasil analisis statistik inferensial menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara indeks prestasi mahasiswa dengan Adversity Quotient mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Tadulako.
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI LINGKARAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) Jusma; Gandung Sugita; Bakri M
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 7 No. 3 (2020)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Masalah utama pada penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa di kelas VIIIA SMP Negeri 20 Palu pada materi lingkaran. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIIA SMP Negeri 20 Palu pada materi lingkaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart, yaitu terdiri atas empat komponen: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi lingkaran di kelas VIIIA SMP Negeri 20 Palu, dengan mengikuti proses pembelajaran sebagai berikut: Pada fase menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pada fase menyajikan informasi peneliti menyajikan materi lingkaran. Pada fase mengorganisasikan kedalam kelompok, peneliti membentuk kelompok yang heterogen yang setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang. Pada fase membimbing kelompok, peneliti memberikan bimbingan kepada kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaiakan soal-soal LKPD. Setelah menyelesaikan LKPD siswa menyebar ke kelompok lain dengan 2-3 anggota tinggal di kelompok yang bertugas untuk membagikan hasil LKPD mereka ke kelompok yang datang bertamu dan 2 anggota kelompoknya bertamu ke kelompok lainnya yang bertugas untuk mencari dan memperoleh informasi, setelahnya informasi atau jawaban LKPD yang didapat dari kelompok lainnya akan di periksa kesesuaiannya dengan jawaban kelompok. Selanjutnya pada fase evaluasi peneliti meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaan mereka, dan fase memberikan penghargaan peneliti mengapresiasi semangat belajar siswa dengan tepuk tangan. Kata kunci: Two Stay Two Stray (TSTS), model kooperatif, hasil belajar, lingkaran ABSTRAC: The main problem in this study is the low students learning outcomes in class VIIIA SMP Negeri 20 Palu on circle subject. One way to overcome this problem is by using the Two Stay Two Stray (TSTS) type cooperative learning model. The purpose of this study was to obtain a description of the Two Stay Two Stray (TSTS) type cooperative learning model that can improve the learning outcomes of class VIIIA students of SMP Negeri 20 Palu on circle subject. The type of research is classroom action research (CAR) which was proposed in the research design of Kemmis and Mc. Taggart, consists of four components: planning, action, observation and reflection. This research was conducted in two cycles. The results showed that the Two Stay Two Stray (TSTS) type cooperative learning model could improve student learning outcomes in circle subject in class VIIIA SMP Negeri 20 Palu, by learning the learning process as follows: in the phase of conveying the goals and motivating students the researcher conveyed the learning objectives to be achieved. In the phase of presenting information the researcher presented circle subject. In the phase of organizing into groups, researcher form heterogeneous groups which each group has 4-5 member. In the phase of guiding the group, the researcher provides guided the groups that discuss the problem in completing the LKPD questions. After completing the LKPD students spread to other groups with 2-3 members living in the group who agreed to share the results of their LKPD with the group that came to visit and 2 members of the group visited other groups who wanted to find and obtain information, afterwards information or answers were obtained from the group others will be checked for compliance with the group's answers. Furthermore, in the evaluation phase the researchers asked representatives to present their work, and the phase of awarding the researcher appreciated the students' enthusiasm for learning by applause. Keywords: Two Stay Two Stray (TSTS), cooperative models, learning outcomes, circles
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI FUNGSI INVERS DI KELAS X IPA2 SMA NEGERI 1 SIGI Rahmawati; Muh. Hasbi; Bakri M
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 7 No. 4 (2020)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fungsi invers di kelas X IPA 2 SMA Negeri 1 Sigi. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitiaan ini mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IPA 2 SMA Negeri 1 Sigi berjumlah 20 orang yang terdaftar tahun ajaran 2018/2019. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fungsi invers di kelas X IPA 2 SMA Negeri 1 Sigi mengikuti fase-fase, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, (2) Menyajikan /menyampaikan informasi, (3) mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompk belajar, (4) membimbing kelompok bekerja dan belajar, (5) evaluasi dan (6) memberi penghargaan. Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Hasil Belajar, Fungsi invers. Abstract: This study aims to obtain a description of the application of the Student Team Achievement Division (STAD) cooperative learning model to improve student learning outcomes in the inverse function material in class X Science 2 of SMA Negeri 1 Sigi. This type of research is classroom action research (CAR). This research refers to the research design of Kemmis and Mc. Taggart namely (1) planning, (2) implementing actions, (3) observation and (4) reflection. The subjects of this study were 20 students of Class X IPA 2 of Sigi State High School who registered in the 2018/2019 school year. This research was conducted in two cycles. The results showed that the application of the Student Learning Achievement Division (STAD) cooperative learning model could improve student learning outcomes in the inverse function material in class X IPA 2 of SMA Negeri 1 Sigi following phases, namely (1) communicating goals and motivating students, ( 2) Presenting / conveying information, (3) organizing students in study groups, (4) guiding work and study groups, (5) evaluating and (6) giving awards. Keywords: STAD Type Cooperative Learning Model, Learning Outcomes, Inverse Function.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PAIR CHECK UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI FUNGSI KUADRAT DI KELAS X IPA 4 SMA NEGERI 7 PALU Suci Muqaddimatul Jannah; Ibnu hadjar; Bakri M
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 8 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi aktivitas pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe pair check dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi fungsi kuadrat di kelas X IPA 4 SMA Negeri 7 Palu. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc.Taggart yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini seluruh siswa kelas X IPA 4 SMA Negeri 7 Palu. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian (1) persentase ketuntasan belajar klasikal pada siklus I mencapai 61,76% dan mengalami peningakatan pada siklus II mencapai 79,41%, (2) hasil observasi aktivitas pendidik pada siklus I dan siklusi II berada pada ketegori baik, (3) hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I berada pada ketegori baik dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu berada pada ketegori sangat baik. Dari hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe pair check dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi fungsi kuadrat di kelas X IPA 4 SMA Negeri 7 Palu melalui fase-fase yaitu: (1) bekerja berpasangan, (2) pelatih mengecek, (3) pelatih memberi pujian, (4) pelatih dan penyaji saling bertukar peran, (5) pelatih mengecek, (6) pelatih memberi pujian, (7) pasangan mengecek, (8) perayaan kelompok. Abstract: The objective of this research is to describe the implementation of cooperative learning model of pair check type that can improve student achievement on the material of quadratic functions in X IPA 4 Classes SMA Negeri 7 Palu. This research is a classroom action research that refers to Kemmis and Mc. Taggart research design are (1) planning, (2) implementation of action, (3) observation and (4) reflection. The subjects of this study are all students of class X IPA 4 SMAN 7 Palu. This research was conducted in two cycles. The result of the research (1) the percentage of classical learning completeness in the first cycle was reached 61,76% and experienced an increase in the second cycle was reached 79,41%, (2) the result of observations of teacher activities in the cycle I and cycle II in the good category, (3) the result of observations of students activities in the first cycle in the good category and to have an increase in the second cycle which in the very good category. From the result of the research obtained can be concluded that the implementation of cooperative learning model of pair check type that can improve student achievement by following phases, namely: 1) pair work, 2) coach checks, 3) coach praise, 4) coach and presenters exchange roles, 5) coach checks, 6) coach praise, 7) pair check, 8) team celebrations.Keyword: Cooperative Learning Model, Pair Check, Learning Achievement, Quadratic Functions
Profil Pemecahan Masalah Perbandingan Senilai Ditinjau dari Kecerdasan Logis Matematis Siswa Kelas VIII SMPN 19 Palu Afif Ahmad; Fajriani; Muh. Rizal; Bakri M
PEDAGOGIC: Indonesian Journal of Science Education and Technology Vol. 6 No. 4 (2026): PEDAGOGIC: Indonesian Journal of Science Education and Technology (In-Press)
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/ijset.v6i4.6613

Abstract

Students still experience difficulties in solving story problems on the topic of equivalent comparisons, so a study is needed regarding problem-solving profiles based on logical-mathematical intelligence. This study aims to describe the problem-solving profiles of equivalent comparisons viewed from the logical-mathematical intelligence of eighth-grade students at SMPN 19 Palu. The study used a descriptive qualitative approach. The subjects of the study consisted of two students who were selected purposively based on the results of Olivia's (2009) logical-mathematical intelligence questionnaire, namely one student in the high category (AST) and one student in the low category (PTR). Data were collected through problem-solving tests and in-depth interviews, then analyzed using an interactive model that includes data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that AST was able to carry out all stages of problem-solving according to Polya completely and obtained correct answers (12 liters). In contrast, PTR was only able to fulfill the stage of understanding the problem, while at the stages of formulating plans, implementing solutions, and re-checking, they still experienced conceptual errors resulting in incorrect answers (5.333 liters). These findings indicate that students with high logical-mathematical intelligence have a more systematic and accurate problem-solving profile than students with low logical-mathematical intelligence.
Cerdas Tapi Cemas: Studi Faktor Penyebab Math Anxiety pada Siswa Perempuan Berkemampuan Tinggi Putri Dwi Yanti Oktavia; Mubarik Mubarik; Sukayasa Sukayasa; Bakri M
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 13 No. 3 (2026): Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako (JEPMT)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jepmt.v13i3.4789

Abstract

Kecemasan matematika sering didefinisikan sebagai perasaan cemas yang dialami seseorang saat berinteraksi dengan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kecemasan matematika pada siswi dengan mengacu pada empat indikator, yaitu somatik, kognitif, afektif, dan pengetahuan matematika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner kecemasan matematika dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada teknik analisis data dari Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan matematika pada siswi disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor eksternal meliputi pengalaman negatif dalam belajar matematika dan tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Sementara itu, faktor internal melibatkan persepsi terhadap matematika, kurangnya rasa percaya diri, rasa takut melakukan kesalahan, dan ketakutan akan penilaian orang lain. Oleh karena itu, perlu diterapkan strategi pembelajaran yang dapat mengurangi kecemasan matematika dan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam belajar matematika.
Analisis Penyelesaian Soal HOTS Bangun Datar Ditinjau Dari Adversity Quotient Annisa Aulia; Sukayasa Sukayasa; Bakri M; Mubarik Mubarik
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 13 No. 3 (2026): Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako (JEPMT)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jepmt.v13i3.4790

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap tiga subjek yang dipilih berdasarkan tipe Adversity Quotient (AQ) mereka, dengan teknik pengumpulan data melalui tes tertulis serta wawancara semiterstruktur yang dianalisis melalui tahap kondensasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek tipe climber memiliki pemahaman masalah yang baik, mampu berpikir logis, bekerja secara mandiri, serta teliti dalam perhitungan maupun pengecekan ulang, bahkan aktif mencari strategi alternatif saat menghadapi kendala. Sementara itu, subjek tipe camper memahami masalah namun kurang konsisten dalam mencatat dan merencanakan strategi, serta cenderung mencari bantuan pihak lain ketika kesulitan karena kurangnya rasa percaya diri dan kemandirian meskipun memiliki potensi berpikir tingkat tinggi. Di sisi lain, subjek tipe quitter tidak mencatat informasi penting, tidak memiliki strategi pemecahan masalah, dan sangat mudah menyerah sehingga memerlukan bimbingan lebih lanjut dalam memahami persoalan serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis.