Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Efektivitas Pendidikan Seksual Dalam Meminimalisir Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Lokasi Sekolah Prita Yulia Maharani; Suroso Suroso; Tatik Meiyuntariningsih
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 15, No 1 (2019): Insight : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ins.v15i1.1978

Abstract

Lack of knowledge about education and information about sex makes young people vulnerable to accessing information about pornography, easily affected by the environment and premarital sexual intercourse which is higher for teenage boys compared to girls. The purpose of this study is to see whether sexual education is effective in minimizing premarital sexual behavior in adolescents in terms of gender and school location. The subjects of this study were high school students in Surabaya. Test analysis in this study using Test T. The results of the calculation of hypothesis 1 indicate that sexual education training has effectiveness in minimizing sexual behavior. Hypothesis 2 shows that premarital sexual behavior in male students is higher than female students after being given sexual education. Hypothesis 3 shows that the distant location of schools with localization of premarital sexual behavior is higher than the location of schools that are close to localization after being given sexual education. the implications of this research can be used as a reference for the school in order to minimize sexual behavior.
EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN STRES PADA MAHASISWA YANG MENGALAMI QUARTER-LIFE CRISIS Akta Ririn Aristawati; Tatik Meiyuntariningsih; Firmansyah Dwi Cahya; Ananda Putri
PSIKOLOGI KONSELING Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/konseling.v19i2.31121

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara tingkat emotional intelligence dengan tingkat stres pada mahasiswa yang mengalami quarter life crisis. Adapun hipotesa yang diajukan adalah adanya hubungan negatif antara tingkat emotional intelligence dengan tingkat stres pada mahasiswa yang mengalami quarter life crisis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang melibatkan 100 mahasiswa yang masih berada pada masa dewasa awal dengan rentang usia 20 hingga 30 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 2 skala yaitu skala emotional intelligence dan stress. Data tersebut dianalisis menggunakan program Statistic Package for Social Science 25 for windows version dengan teknik korelasi product moment. Hasil analisa data menunjukkan nilai korelasi sebesar -0,643 dengan taraf signifikansi 0,000 (p<0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa emotional intelligence berhubungan negatif dan signifikan terhadap stres pada mahasiswa yang mengalami quarter-life crisis. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa tingginya tingkat emotional intelligence pada mahasiswa yang mengalami quarter-life crisis, maka semakin rendah tingkat stresnya. Sedangkan, rendahnya tingkat emotional intelligence pada mahasiswa yang mengalami quarter-life crisis, maka semakin tinggi tingkat stresnya.
Terapi Musik untuk Menurunkan Stres dan Meningkatkan Subjective Well-Being pada Dewasa Awal yang Memiliki Riwayat Perceraian Orang Tua Akta Ririn Aristawati; Tatik Meiyuntariningsih; Ananda Putri
Philanthropy: Journal of Psychology Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/philanthropy.v6i1.4904

Abstract

Abstract: The increase in divorce cases that occur in Indonesia from year to year has caused many victims, one of them is children. The majority of children who have a history of parental divorce can have high stress and low subjective well-being. One form of effective treatment is music therapy. This study uses an experimental quantitative approach with a pretest-posttest control group design. The subjects in this study were divided into two groups consisting of 5 subjects in the experimental group and 5 subjects in the control group. Data were obtained through two scales, namely the stress scale and the subjective well-being scale. This study used an independent sample t-test with p value = 0.028 (p < 0.05) for stress and p = 0.008 (p < 0.05) for subjective well-being. These results indicate that there are significant differences in the control and experimental groups. Thus, it can be concluded that music therapy is effective for reducing stress and increasing subjective well-being significantly in early adults who have a history of parental divorce.Keywords: Adults, Broken Home, Music Therapy, Stress, Subjective Well-BeingAbstrak: Peningkatan kasus perceraian yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun menimbulkan banyak korban salah satunya anak. Mayoritas anak yang memiliki riwayat perceraian orang tua dapat memiliki stres tinggi dan subjective well-being yang rendah. Salah satu bentuk penanganan yang efektif ialah terapi musik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Subjek dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kelompok yang terdiri dari 5 subjek kelompok eksperimen dan 5 subjek kelompok kontrol. Data diperoleh melalui dua skala yaitu skala stres dan skala subjective well-being. Penelitian ini menggunakan uji independent sample t-test dengan nilai p=0,028 (p<0,05) untuk stres dan nilai p=0,008 (p<0,05) untuk subjective well-being. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol dan eksperimen. Sehingga, dapat disimpulkan, terapi musik efektif untuk menurunkan stres dan meningkatkan subjective well-being   secara signifikan pada dewasa awal yang memiliki riwayat perceraian orang tua.Kata Kunci: Dewasa Awal, Perceraian, Stres, Subjective Well-Being, Terapi Musik
Kematangan Emosi, Kontrol Diri, dan Perilaku Agresif Pada Anggota Korps Brigade Mobil Dalam Menangani Huru Hara Agung Rian Asmoro; Andik Matulessy; Tatik Meiyuntariningsih
Jurnal Psikologi Teori dan Terapan Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.434 KB) | DOI: 10.26740/jptt.v9n1.p39-48

Abstract

This study aims to investigate the relationship between emotional maturity, self-control, and aggressive behavior among members of the Mobile Brigade Corps 2 Battalion A Pioneer of Mobile Brigade Corps Unit of the Regional Police in East Java. The total number of participants involved in this study was 110. Data collected using emotional maturity, self control, and aggressive behavior scales. Multiple reggression was used to analyze the data. The result shows that correlation value R = is 0.195 and F-value = 9,341 with significance value (p) of 0.000 (p <0.05).  The result indicates that there is a significant relationship between emotional maturity, self control, and aggressive behavior of members of Mobile Brigade (Brimob) in handling riots. Thus, the main hypothesis of this study is accepted.Key words: Emotional maturity, self control, aggressive behaviorAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi, kontrol diri dan perilaku agresif. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota Satuan Polisi Khusus Brigade Mobil (Brimob) 2 Batalyon A Perintis Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Satbrimob Polda) Jawa Timur. Terdapat 110 subjek terlibat dalam penelitian ini. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala yaitu skala kematangan emosi, skala kontrol diri dan skala perilaku agresif. Data dianalisis menggunakan regresi berganda (multiple regression). Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi R = 0,195 dan F-value = 9,341 dengan nilai signifikansi (p) 0,000 (p <0,05). Dapat disimpulkan dari hasil analisis data ini bahwa ada hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dan kontrol diri dengan perilaku agresif anggota Brimob dalam menangani kerusuhan. Dengan demikian, hipotesis utama penelitian ini dapat diterima.
RESTRUKTURISASI KOGNITIF UNTUK MENANGANI POLA PIKIR NEGATIF PADA REMAJA Intan Ratnasari; Tatik Meiyuntariningsih
JIVA : Journal of Behavior and Mental Health Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jiva.v3i1.2032

Abstract

ABSTRACTTeenagers feel they do not get good treatment from their fathers. Teenagers tend to get authoritarian parenting from their fathers. His father's authoritarian behavior makes teenagers feel uncomfortable with the situation at home. Their irrational thinking causes clients to seek comfort outside the home by smoking. This study aims to help clients to get positive problem focused coping strategies. This study uses a single case experiment research method with A-B design which aims to examine in depth the provision of an intervention. The method used in this research is purposive sampling method, therefore based on a single case experimental design, the subject of this study is a 15 year old teenager. The assessments carried out were observation, interviews, graphics, WISC and Forer. The intervention process was carried out for 8 sessions. The intervention technique used cognitive reconstructive techniques. After the intervention process of 8 sessions in 17 days showed that there was an increase, the client still thought that meeting his father would be scolded and beaten so that the client tried to change negative thoughts into positive by doing positive activities. Clients can find coping strategies by cooking, watching tv (life stories and playing football when having negative thoughts towards his father. Clients are quite able to cope and get used to new activities.Keywords: Negative thought patterns, cognitive restructuring, adolescents. ABSTRAKRemaja merasa tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari ayahnya. Remaja cenderung mendapatkan pola asuh otoriter dari ayahnya. Perilaku ayahnya yang otoriter membuat remaja merasa tidak nyaman dengan situasi dirumahnya. Pemikiran irasional yang dimiliki menyebabkan remaja mencari kenyamanan diluar rumah dengan cara merokok. Penelitian ini bertujuan untuk membantu remaja untuk mendapatkan problem focused strategi coping yang positif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian single case experiment dengan A-B design yang bertujuan mengkaji secara mendalam pemberian sebuah intervensi. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode purposive sampling oleh sebab itu berdasarkan rancangan eksperiman kasus tunggal subjek dari penelitian ini adalah remaja yang berusia 15 tahun. Asesmen yang dilakukan adalah observasi, wawancara, grafis, WISC dan Forer. Proses intervensi yang dilaksanakan selama 8 sesi. Teknik intervensi menggunakan teknik rekonstrukturing kognitif. Setelah proses intervensi sebanyak 8 sesi dalam 17 hari menunjukan bahwa adanya peningkatan, remaja  masih berpikir bertemu ayah akan dimarahi dan dipukul sehingga remaja mencoba untuk mengubah pemikiran negatif menjadi positif dengan cara melakukan kegiatan yang positif. Remaja dapat menemukan strategi coping dengan cara memasak, menonton tv (kisah kehidupan dan bermain sepak bola ketika memiliki pemikiran negatif terhadap ayahnya. Remaja cukup mampu untuk mengatasi dan mulai terbiasa dengan aktivitas baru. Kata Kunci: Pola pikir negatif, restrukturisasi kognitif, remaja
Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Kasus Bagi Balai Perempuan Pusat Informasi Pengaduan dan Advokasi dalam Mewujudkan Desa Layak Anak Hikmah Husniyah Farhanindya; IGAA Noviekayati; Tatik Meiyuntariningsih; Dohan Firdiansyah; Auranisa Kania Aulia Situsmara
Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Asosiasi Pengelola Publikasi Ilmiah Perguruan Tinggi PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55506/arch.v2i2.56

Abstract

Desa Bedahlawak Kabupaten Jombang sebagai Desa Layak Anak membentuk BP PIPA (Balai Perempuan Pusat Informasi Pengaduan dan Advokasi). BP PIPA dalam menjalankan fungsinya memerlukan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang bertujuan untuk menciptakan sebuah komitemen mengenai satuan unit kerja dan memberikan panduan serta pelayanan yang tersistematis. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pemberian pelatihan tentang SOP Penanganan kasus dan pemberian Pre-test dan Post-test untuk mengukur efektivitas keberhasilan pelatihan SOP yang disampaikan. Pengujian menggunakan Paired Samples T-Test dan diperoleh nilai t = 5.071 dengan signifikansi=0.001 (p<0.05). Artinya ada peningkatan skor yang signifikan antara pengetahuan tentang SOP penanganan kasus sebelum dan setelah diberikan pelatihan.
Peran Penerimaan Diri dalam Meningkatkan Kebahagiaan Remaja Jalanan Eurika Agustina Maharani; Tatik Meiyuntariningsih; Akta Ririn Aristawati
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the relationship between self-acceptance and happiness in street adolescents. The approach used in this study is a quantitative approach. The study sample consisted of adolescents between the ages of 12 and 18 years. Data collection was carried out using the Likert scale which includes a scale of self-acceptance and happiness. To analyze the data, the Product Moment correlation method is used. The results of the analysis showed a correlation coefficient (r) of 0.995 with a significance value of p = 0.001 which was smaller than 0.005. These findings indicate a significant positive relationship between self-acceptance and happiness in street adolescents. Thus, the hypothesis proposed in this study is acceptable.Keywords: Happiness, self-acceptance, street youthAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerimaan diri dan kebahagiaan pada remaja jalanan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari remaja berusia antara 12 hingga 18 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang meliputi skala penerimaan diri dan kebahagiaan. Untuk menganalisis data, digunakan metode korelasi Product Moment. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,995 dengan nilai signifikansi p = 0,001 yang lebih kecil dari 0,005. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan antara penerimaan diri dan kebahagiaan pada remaja jalanan. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima.Kata kunci: Kebahagiaan,penerimaan diri, remaja jalanan
Psychological Well-Being pada Masa Quarter Life Crisis, Bagaimana Peran Resiliensi? Anastasia Puji Pratiwi; Tatik Meiyuntariningsih; Hetti Sari Ramadhani
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Everyone undergoes the cycle of life and passes through various stages of development throughout their journey, including the early adulthood period (20-30 years), which is vulnerable to feelings of confusion, uncertainty, and pressure in determining life direction, referred as quarter life crisis. This study aims to identify the positive correlation between resilience and psychological well-being in individuals experiencing a quarter-life crisis. The population consists of 147 individuals, analyzed using Pearson Product Moment (r = 0.842), indicating a positive correlation between resilience and psychological well-being. Resilience accounts for 70.9% of psychological well-being. Keywords: Resilience, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis Abstrak Setiap orang akan menjalani siklus kehidupan dan melintasi berbagai tahap perkembangan sepanjang perjalanan hidupnya, termasuk menghadapi periode dewasa awal (20-30 tahun) yang rentan merasa kebingungan, ketidakpastian, dan tekanan dalam menentukan arah hidup, dikenal sebagai quarter life crisis. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi positif antara resiliensi dengan psychological well-being pada individu yang mengalami quarter life crisis. Populasinya ialah 147, dan dianalis melalui Pearson Product Moment (r= 0,842), sehingga resiliensi dengan psychological well-being berkorelasi secara positif, Sumbangan efektif resiliensi sebesar 70,9% kepada psychological well-being.Kata kunci: Resiliensi, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis
Membangun Benteng Cinta: Dukungan Sosial dan Kecemasan Menghadapi Perselingkuhan pada Ibu Persit Yosy Putri Utari; Devi Puspitasari; Tatik Meiyuntariningsih
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Persit wives who experience long-distance marriages (LDM) due to their husbands' military assignments often face anxiety, particularly concerning the possibility of infidelity. This condition is exacerbated by limited communication and uncertainty in the deployment environment. This study aims to examine the relationship between social support and anxiety about infidelity among Persit wives at Military Dormitory X, Sidoarjo. A quantitative correlational method was employed, with purposive sampling involving 152 participants. Data were collected using a four-point Likert scale questionnaire distributed online. The product-moment correlation test revealed a significant negative relationship between social support and anxiety, with r = -0.338 and significance = 0.000 (< 0.05). This indicates that higher social support is associated with lower anxiety levels. Keywords: social support, anxiety, infidelity, Persit wives, long-distance marriage Abstrak Ibu Persit yang menjalani long distance marriage (LDM) akibat penugasan militer suami sering mengalami kecemasan, khususnya terkait kemungkinan perselingkuhan. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan komunikasi serta juga ketidakpastian lingkungan penugasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi perselingkuhan pada ibu Persit di Asrama Militer X, Sidoarjo. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling sebanyak 152 partisipan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert empat poin yang disebarkan secara daring. Hasil uji korelasi product moment menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial serta juga kecemasan, dengan nilai r = -0,338 serta juga signifikansi 0,000 (< 0,05). Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin rendah kecemasan yang dirasakan. Kata kunci: dukungan sosial, kecemasan, perselingkuhan, ibu Persit, long distance marriage