Mariana Takandjandji
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Eclectusroratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN R. Garsetiasih; Mariana Takandjandji
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.1.75-82

Abstract

Burung   bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik  Pulau Sumba dengan status  dilindungi  karena populasinya  yang terus   menurun.  Dalam  mengantisipasi kepunahan populasi  perlu dilakukan penangkaran  jenis  burung bayan tersebut   Tujuan  penelitian  ini  adalah untuk rnendapatkan  informasi tingkat konsumsi   dan palatabilitas  pakan burung bayan.  Penelitian ini dilakukan   di   penangkaran Oilsonbai, Kupang, Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai  Januari   2000.   Penelitian menggunakan   8 individu   burung terdiri   dari   4 individu  betina dan 4 individu  jantan  umur produktif (lebih dari 1  tahun) yang masing-rnasing dipelihara  dalam  kandang individu  berukuran 160 cm  x 120  cm x  100 cm.  Penelitian menggunakan  percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu  jenis kelamin dan jenis pakan  yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan  Acak Lengkap dengan empat ulangan.  Hasil  penelitian  menunjukkan   bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung  bayan jantan sebcsar 205.43  gr/hari (255, I 1 kalori) dan burung  bayan betina 185,93  gr/hari (231,29   kalori). Jenis pakan yang paling   banyak dikonsumsi,  yang menunjukkan  jenis pakan yang paling  disukai, adalah  pepaya dengan  rata-rata  konsumsi 54,53 gr/hari (26,54 %)  untuk  burung  jantan dan 48. 74 gr/hari   (26.21%) untuk burung henna  berdasarkan hasil   analisis terhadap  konsumsi pakan berupa buah-buahan  dan sayur-sayuran  serta pakan berupa kacang-kacangan  dan biji-bijian diketahui  bahwa tingkat  konsumsi terhadap  tiap jenis pakan tidak  berbeda nyata  antara burung bayan jantan dan betina.
UJI COBA BEBERAPA KOMBINASI KOMPOSISI PAKAN TRENGGILING (Manis javanica Desmarest, 1822) DI PENANGKARAN Anita Rianti; Novriyanti Novriyanti; Mariana Takandjandji
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2017.14.2.111-122

Abstract

ABSTRACTCaptive breeding is one of the alternative solution to reduce the extinction of pangolin (Manis javanica Desmarest, 1822). This research was aimed to determine the feeding intake and the growth of the pangolin body through the provision of alternative feeding from agricultural wastes and rotten woods. The research was conducted at Multi Jaya Abadi Captive Breeding, located in Medan North Sumatra. Four pangolins were used as material for this study and the observation was done for 14 days. The pangolins were treated with four types of feeding treatments, i.e. A (mixture of rice bran, corn flour and kroto), B (mixture of rice bran, corn flour, and worm), C (mixture of rice bran, corn flour, and cricket), and D (mixture of rice bran, corn flour, and termites). Of the four treatments, feeding alternative of D was the most preferred by pangolin, followed by alternatives A, B and C. This result showed that pangolin in the captive breeding in Medan prefer feeding termites (24.24%), then followed by kroto (20.97%), worms (10.56%), and crickets (9.17%).Key words: Agricultural waste, captive breeding, feeding alternative, pangolin.ABSTRAKSalah satu alternatif yang diharapkan untuk mengatasi punahnya trenggiling, yakni melalui penangkaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi pakan dan pertumbuhan badan trenggiling melalui penyediaan pakan alternatif dari limbah pertanian dan kayu lapuk. Penelitian dilakukan di Multi Jaya Abadi, yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara. Empat individu trenggiling merupakan materi penelitian yang digunakan selama 14 hari pengamatan dan diberi empat perlakuan pakan, yakni A = dedak padi+tepung jagung+kroto; B = dedak padi +  tepung jagung + cacing; C = dedak padi + tepung jagung + jangkrik; dan D = dedak padi + tepung jagung + rayap. Empat perlakuan kombinasi pakan tersebut, kombinasi pakan D paling disukai oleh trenggiling, diikuti dengan kombinasi pakan A, B dan C. Hasil penelitian membuktikan bahwa trenggiling di penangkaran Medan lebih menyukai pakan rayap (24,24%), diikuti oleh kroto (20,97%), cacing (10,56%), dan jangkrik (9,17%).Kata kunci: Limbah pertanian, penangkaran, jenis pakan alternatif, trenggiling.
POTENSI VEGETASI DAN DAYA DUKUNG UNTUK HABITAT GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI AREAL PERKEBUNAN SAWIT DAN HUTAN PRODUKSI KECAMATAN SUNGAI MENANG, KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Garsetiasih Setiasih; Anita Rianti; Mariana Takandjandji
BERITA BIOLOGI Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v17i1.2997

Abstract

Forest land converted into palm oil plantations have caused habitat fragmentation of elephant and land degradation. These lead to land use conflict between human and elephant. The conflict often caused the elephant killed and destructed agricultural land. The study was aimed to estimate potential use and carrying capacity of elephant habitat. Data collection of undergrowth vegetation were analyzed using twelve square plots of 1 x 1m, the distance between the plot of 50 m, tree vegetation of seedlings size 1 x 1 m, saplings 5 x 5 m, and trees 20 x 20 m, the distance between the plot of 200 m and of 1000 m lenght. Vegetation used as elephants feed were observed using purposive sampling and systematically procedure. The analysis showed that biomass of plants producing elephant fodder in Tambang Besi were of Cyperus rotundus (3600.26 kg/ha), Cynodon dactylon (346.74 kg/ha), Melaleuca leucadendron (255.21 kg/ha), and Melastoma malabatricum (156.40 kg/ha). While, the highest biomass in Tebing Penigasan plot is Cyperus rotundus (3575 kg/ha), and in Barak Gajah Plot is Isachne globusa (4013.33 kg/ha). The carrying capacity of elephants habitat of Tambang Besi, Tebing Penigasan, and Barak Gajah plots are 0.78, 0.29, and 0.41 individual/ha/day, respectively.