Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Fisik dan Kompensasi terhadap Kinerja Karyawan di PT. Pertamina (Persero) Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat, Cirebon Eka Idham Iip K Lewa; Subowo Subowo
Sinergi: Kajian Bisnis dan Manajemen 2005: Edisi Khusus (Sumber Daya Manusia)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/js.v0i0.934

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris pengaruh faktor kepe¬mimpinan, lingkungan kerja fisik dan kompensasi terhadap kinerja karyawan baik secara ber¬sama sama maupun secara parsial di PT. Pertamina (Persero) Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat, Cirebon. Populasi penelitian ini adalah karyawan perusahaan tersebut seba¬nyak 60 orang tanpa menggunakan sampel. Alat analisis data yang digunakan dalam pengu¬jian hipotesis adalah. analisis regresi berganda, analisis korelasi berganda dan analisis ko¬relasi parsial. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa secara bersama sama variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap kinerja karyawan. Dari ketiga variabel independen tersebut variabel kompensasi mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja karya¬wan.Kata Kunci: Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Fisik, Kompensasi, dan Kinerja
Peranan pimpinan dalam meningkatkan prestasi kerja karyawan melalui motivasi psikologis Subowo Subowo
Economic Journal of Emerging Markets Volume 1, 1993
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ejem.v1i1.6552

Abstract

Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi kerja (job performance) karyawan. Faktor tersebut dapat datang dari lingkungan luar perusahaan antara lain suasana tertib atau konflik dalam masyarakat dan keluarganya, tuntutan masyarakat terhadap karyawan sebagai anggota masyarakat, baik dari segi politik maupun dari segi sosial.
Permintaan tenaga kerja dalam suatu industri: Analisa teori ekonomi Subowo Subowo
Economic Journal of Emerging Markets Volume 3, 1994
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ejem.v3i0.6599

Abstract

Jumlah penduduk yang besar dikaitkan dengan pembangunan mempunyai dua implikasi. Pertama sebagai modal dalam proses pembangunan karena penduduk sebagai sumber daya manusia (human resources)  mencerminkan potensi yang dapat diarahkan untuk mengolah sumber-sumber alam yang tersedia untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.
PRODUKSI DAN KANDUNGAN SELENIUM BEBERAPA GALUR TANAMAN TEMU-TEMUAN DI LAHAN PASANG SURUT, SUMATERA SELATAN Muchamad Yusron; M. Januwati; Subowo Subowo
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v20n1.2009.%p

Abstract

Lahan pasang surut merupakan lahan potensial untuk pertanian. Saat ini sebagian lahan pasang surut di Sumatera Selatan telah direklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian, terutama untuk budidaya padi. Salah satu kelebihan lahan pasang surut adalah kandungan mineral Fe, Cu, dan Se yang cukup tinggi. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian dengan kandungan Se (selenium) tinggi bermanfaat sebagai antioxidan. Salah satu komoditas potensial untuk lahan pasang surut adalah tanaman temu-temuan. Penelitian penanaman temu-temuan di lahan pasang surut bertujuan untuk mengetahui produksi dan kandungan unsur mikro Se pada rimpang tanaman temu-temuan di lahan pasang surut. Penelitian lapang dilakukan di Desa Karang Agung, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tiga jenis tanaman temu-temuan, yakni jahe emprit, kunyit, dan temulawak di-tanam dengan menerapkan standar prosedur operasional budidaya tanaman temu-temuan yang disesuaikan dengan kondisi lahan pasang surut, termasuk pengapuran dan pengaturan sistem drainase. Parameter yang diamati adalah produksi rimpang segar, mutu simplisia, dan kandungan Se pada rimpang temu-temuan. Sebagai pembanding ketiga jenis tanaman temu-temuan juga ditanam di tanah mineral di Sukamulia, Sukabumi dan dilakukan analisis Se pada rimpang temu-temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi rim-pang segar untuk jahe emprit, kunyit, dan temulawak masing-masing adalah 4,52; 12,90; dan 20,40 ton/ha. Mutu simplisia memenuhi standar MMI, dimana kadar sari larut alkohol adalah 13,13-14,77%; 12,79-16,54%, dan 5,98-7,12%. Kandungan Se pada rimpang jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut 1,78; 1,98; dan 2,08 ppm, sedangkan kandungan Se pada rimpang temu-temuan yang ditanam di Sukamulia, Sukabumi tidak terukur.
KARAKTERISASI POPULASI DAN POTENSI CACING TANAH UNTUK PAKAN TERNAK DARI TEPI SUNGAI KAHAYAN DAN BARITO M. A. Firmansyah; Suparman Suparman; Harmini Harmini; I.G.P. Wigena; Subowo Subowo
BERITA BIOLOGI Vol 13, No 3 (2014)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v13i3.677

Abstract

The spread of earthworm habitat much larger on the banks of the rivers in Central Kalimantan.The aim of this study was to characterize the habitat of earthworm located on banks of the rivers of Kahayan and Barito. Preparation of soil profile with dimension 1x1 m and a depth of 20 cm was conducted using transect procedure and positioned from dried riverbed up to river embankment. The results showed that earthworms with a larger size identified as Lumbriscus terrestris was mainly found in Kahayan river, while for relatively smaller species, it was found at Barito river identified as Lumbriscus rubellus. The number of L .rubellus populations is more 12 and 522 earthworms per layer than L. terrestris. The shallow of water level for ground water and rough texture was not suitable condition for earthworm habitat at both location. The level of protein and ash content are 30.30 % and 42.78 % respectively and higher compared to L. rubellus i.e 13.28 % and 6.27% respectively.
PRODUKSI DAN KANDUNGAN SELENIUM BEBERAPA GALUR TANAMAN TEMU-TEMUAN DI LAHAN PASANG SURUT, SUMATERA SELATAN Muchamad Yusron; M. Januwati; Subowo Subowo
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v20n1.2009.%p

Abstract

Lahan pasang surut merupakan lahan potensial untuk pertanian. Saat ini sebagian lahan pasang surut di Sumatera Selatan telah direklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian, terutama untuk budidaya padi. Salah satu kelebihan lahan pasang surut adalah kandungan mineral Fe, Cu, dan Se yang cukup tinggi. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian dengan kandungan Se (selenium) tinggi bermanfaat sebagai antioxidan. Salah satu komoditas potensial untuk lahan pasang surut adalah tanaman temu-temuan. Penelitian penanaman temu-temuan di lahan pasang surut bertujuan untuk mengetahui produksi dan kandungan unsur mikro Se pada rimpang tanaman temu-temuan di lahan pasang surut. Penelitian lapang dilakukan di Desa Karang Agung, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tiga jenis tanaman temu-temuan, yakni jahe emprit, kunyit, dan temulawak di-tanam dengan menerapkan standar prosedur operasional budidaya tanaman temu-temuan yang disesuaikan dengan kondisi lahan pasang surut, termasuk pengapuran dan pengaturan sistem drainase. Parameter yang diamati adalah produksi rimpang segar, mutu simplisia, dan kandungan Se pada rimpang temu-temuan. Sebagai pembanding ketiga jenis tanaman temu-temuan juga ditanam di tanah mineral di Sukamulia, Sukabumi dan dilakukan analisis Se pada rimpang temu-temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi rim-pang segar untuk jahe emprit, kunyit, dan temulawak masing-masing adalah 4,52; 12,90; dan 20,40 ton/ha. Mutu simplisia memenuhi standar MMI, dimana kadar sari larut alkohol adalah 13,13-14,77%; 12,79-16,54%, dan 5,98-7,12%. Kandungan Se pada rimpang jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut 1,78; 1,98; dan 2,08 ppm, sedangkan kandungan Se pada rimpang temu-temuan yang ditanam di Sukamulia, Sukabumi tidak terukur.
Pengaruh Ameliorasi Tanah Rawa Pasang Surut untuk Meningkatkan Produksi Padi Sawah dan Kandungan Besi dalam Beras Subowo Subowo; N. Putu Sri Ratimi; Purnamayani Purnamayani; Yustisia Yustisia
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 37, No 1 (2013)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v37n1.2013.19-24

Abstract

Analisis Profitabilitas, Struktur Aset, Dan Pertumbuhan Aset Terhadap Struktur Modal Yang Dimoderasi Likuiditas Ade Ningrum Mulyasari; Subowo Subowo
Gorontalo Accounting Journal Volume 3 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.954 KB) | DOI: 10.32662/gaj.v3i1.749

Abstract

This study aims to analyze the effect of profitability, asset structure, and asset growth on capital structure with liquidity as moderation. The study population is non-financial companies in the LQ45 index listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2015-2017. The sampling technique is purposive sampling. The study sample are 27 companies for 3 years resulting in 81 units of analysis. The data analysis method used is descriptive statistical analysis and inferential statistical analysis using moderation regression analysis (MRA). The results showed that profitability and asset growth were positive and significant for the capital structure, the asset structure had a significant negative effect on the capital structure. Liquidity also moderates the negative influence of profitability on the capital structure. Liquidity is not able to moderate the influence of asset structure and asset growth on capital structure.