Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FORMULASI LEMAK TENGKAWANG SEBAGAI BAHAN DASAR LIPSTIK R. Esa Pangersa Gusti; Totok Kartono Waluyo
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.173 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.4.297-307

Abstract

Lemak kakao sudah lama digunakan sebagai bahan dasar lipstik. Lemak tengkawang dikenal memiliki karakteristik yang serupa dengan lemak kakao. Atas dasar tersebut lemak tengkawang dapat digunakan sebagai alternatif  pengganti lemak kakao (Coccoa Butter Substitue) dalam industri makanan dan kosmetika. Penelitian ini mempelajari formulasi kadar lemak tengkawang yang sesuai dalam pembuatan lipstik. Formulasi lipstik yang digunakan terdiri dari dua, yaitu berbasis air (WB1, WB2, WB3, WB4) dan berbasis minyak (M1, M2, M3, M4, M5). Lemak tengkawang yang digunakan berasal dari jenis Shorea pinanga yang berasal dari Jawa Barat. Kadar lemak tengkawang yang digunakan yaitu 2-, 3-, 4-, dan 5%. Analisis mutu penampakan lipstik berbahan dasar lemak tengkawang dilakukan dengan dua parameter, yaitu kekerasan dan titik leleh. Hasil analisis dibandingkan dengan lipstik komersial sebagai kontrol. Selain itu, dilakukan pula uji organoleptik meliputi tekstur, kilap, daya oles, bau dan warna dengan melibatkan beberapa koresponden. Hasil uji organoleptik dianalisis secara statistik dengan menggunakan metode Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan formulasi lemak tengkawang pada lipstik berbasis minyak (M3) memiliki mutu yang mendekati lipstik komersial. Hasil uji organoleptik menunjukkan formula lipstik M5 merupakan lipstik yang paling disukai oleh koresponden. Analisis statistik menunjukkan kadar lemak  tengkawang yang diberikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter uji organoleptik, kecuali pada bau.
PEMBUATAN BIOETANOL DARI EMPULUR DAN LIMBAH SERAT SAGU DENGAN METODE KIMIAWI DAN ENZIMATIS Ina Winarni; Totok Kartono Waluyo; Sri Komarayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2768.552 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2019.37.1.43-50

Abstract

Sagu (Metroxylon spp.) adalah salah satu tanaman asli Indonesia yang dapat dikonversi menjadi bioetanol sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Semua bagian sagu dapat dikonversi, baik pati sagu, batang dan pelepahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembuatan etanol dari empulur dan limbah serat sagu dengan menggunakan metode kimia dan enzimatis. Metode pembuatan bioetanol secara kimiawi menggunakan larutan asam klorida (HCl) dengan rasio 3,1; 6,2; 9,3 dan 12,4% konsentrasi substrat 15% (dw) kemudian dipanaskan dengan autoklaf pada suhu 121–127o C selama 5, 10, dan 15 menit; tekanan 1–1,5 bar. Enzim alpha amilase 0,15 mL dan selulase 2%, 3% dan 4% digunakan untuk metode secara enzimatis. Selanjutnya fermentasi dilakukan dengan penambahan urea 0,21 g, NPK 0,12 g dan ragi 0,48 g, dan didiamkan selama 4 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian empulur menghasilkan kadar gula pereduksi dan kadar etanol lebih tinggi dari limbah serat sagu baik dengan metode kimiawi (446,34 g/L; 51,65%) ataupun enzimatis (15,39 g/L; 16,82%). Penambahan konsentrasi selulase dari 2% hingga 4% tidak dapat meningkatkan rendemen etanol baik yang berbahan baku empulur maupun limbah serat sagu pada proses hidrolisa
FORMULASI LEMAK TENGKAWANG SEBAGAI BAHAN DASAR LIPSTIK R. Esa Pangersa Gusti; Totok Kartono Waluyo
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.4.297-307

Abstract

Lemak kakao sudah lama digunakan sebagai bahan dasar lipstik. Lemak tengkawang dikenal memiliki karakteristik yang serupa dengan lemak kakao. Atas dasar tersebut lemak tengkawang dapat digunakan sebagai alternatif  pengganti lemak kakao (Coccoa Butter Substitue) dalam industri makanan dan kosmetika. Penelitian ini mempelajari formulasi kadar lemak tengkawang yang sesuai dalam pembuatan lipstik. Formulasi lipstik yang digunakan terdiri dari dua, yaitu berbasis air (WB1, WB2, WB3, WB4) dan berbasis minyak (M1, M2, M3, M4, M5). Lemak tengkawang yang digunakan berasal dari jenis Shorea pinanga yang berasal dari Jawa Barat. Kadar lemak tengkawang yang digunakan yaitu 2-, 3-, 4-, dan 5%. Analisis mutu penampakan lipstik berbahan dasar lemak tengkawang dilakukan dengan dua parameter, yaitu kekerasan dan titik leleh. Hasil analisis dibandingkan dengan lipstik komersial sebagai kontrol. Selain itu, dilakukan pula uji organoleptik meliputi tekstur, kilap, daya oles, bau dan warna dengan melibatkan beberapa koresponden. Hasil uji organoleptik dianalisis secara statistik dengan menggunakan metode Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan formulasi lemak tengkawang pada lipstik berbasis minyak (M3) memiliki mutu yang mendekati lipstik komersial. Hasil uji organoleptik menunjukkan formula lipstik M5 merupakan lipstik yang paling disukai oleh koresponden. Analisis statistik menunjukkan kadar lemak  tengkawang yang diberikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter uji organoleptik, kecuali pada bau.
PEMBUATAN BIOETANOL DARI EMPULUR DAN LIMBAH SERAT SAGU DENGAN METODE KIMIAWI DAN ENZIMATIS Ina Winarni; Totok Kartono Waluyo; Sri Komarayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2019.37.1.43-50

Abstract

Sagu (Metroxylon spp.) adalah salah satu tanaman asli Indonesia yang dapat dikonversi menjadi bioetanol sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Semua bagian sagu dapat dikonversi, baik pati sagu, batang dan pelepahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembuatan etanol dari empulur dan limbah serat sagu dengan menggunakan metode kimia dan enzimatis. Metode pembuatan bioetanol secara kimiawi menggunakan larutan asam klorida (HCl) dengan rasio 3,1; 6,2; 9,3 dan 12,4% konsentrasi substrat 15% (dw) kemudian dipanaskan dengan autoklaf pada suhu 121–127o C selama 5, 10, dan 15 menit; tekanan 1–1,5 bar. Enzim alpha amilase 0,15 mL dan selulase 2%, 3% dan 4% digunakan untuk metode secara enzimatis. Selanjutnya fermentasi dilakukan dengan penambahan urea 0,21 g, NPK 0,12 g dan ragi 0,48 g, dan didiamkan selama 4 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian empulur menghasilkan kadar gula pereduksi dan kadar etanol lebih tinggi dari limbah serat sagu baik dengan metode kimiawi (446,34 g/L; 51,65%) ataupun enzimatis (15,39 g/L; 16,82%). Penambahan konsentrasi selulase dari 2% hingga 4% tidak dapat meningkatkan rendemen etanol baik yang berbahan baku empulur maupun limbah serat sagu pada proses hidrolisa