Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Sjahrir Pemimpin Merdeka, Rakyat Merdeka, Dalam Negara Merdeka Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 02 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i02.420

Abstract

Abstraksi: Merdeka tidak hanya diartikan secara negatif sebagai tidak terjajah, melainkan juga secara positif sebagai aktif melakukan tindakan-tindakan sebagai manusiamerdeka. Negara, pemimpin, rakyat, harus merdeka dari penindasan, kemiskinan,kebodohan, keterbelakangan, feodalisme, demagogi, dan memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Di sini, rakyat dan pemimpin berkontribusi aktif dalam membangun bangsa dan pribadi yang mandiri, mampu mengambil keputusan sendiri,dengan pertimbangan-pertimbangan yang berwawasan. Dan rakyat sendiri, tidak boleh menjadi obyek manipulasi bangsa lain, atau malah menjadi obyek manipulasi pemimpin bangsanya sendiri. Di negeri yang merdeka ini, pemimpin dan rakyatnya harus sama-sama merdeka. Pemimpin yang dirasuk oleh nafsu kekuasaan, sebenarnya masih terbelenggu dan tidak pantas untuk memimpin dan memerdekakan rakyat. Sosialisme,nasionalisme, dan demokrasi akan menjamin negeri ini meraih kemerdekaan bagi pemimpin dan rakyatnya.Kata Kunci: Sjahrir, kemerdekaan, sosialisme, nasionalisme, demokrasi, rakyat, pemimpin.Abstract: Freedom is not only negatively defined as not colonized, but also positively defined as independently acting in freedom. Country, the leader, the people, should be free from oppression, poverty, ignorance, backwardness, feudalism,demagogy, and have the right to self-determination. Here, the people and leaders ought to contribute actively in building the nation and creating an independent person, capable of taking their own decisions, with insightful considerations.And the people themselves, should not be the object of manipulation of other nations, or even become the object of his own nation’s leaders. In this independent country, leaders and citizens must be equally free. Leaders who are possessed by the lust of power, still fettered and do not deserve to lead and liberatethe people. Socialism, nationalism, and democracy would ensure the country won independence for the leader and his people.Key Words : Sjahrir, independence, nationalism, democracy, people, leader.
Sosialisme Ekonomi: Karl Marx dan Karl Polanyi dalam Perbandingan Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.575

Abstract

Berbagai krisis yang melanda ekonomi pasar membuat cita-cita ekonomiyang sejati, yakni membangun kesejahteraan bersama, semakin jauh panggang dariapi. Kegagalan ekonomi dalam melahirkan kesejahteraan dan kebaikan bersama telahmendorong kita untuk mencari jalan keluar yang lain. Pemikiran Karl Polanyi danpara tokoh gerakan sosialisme ekonomi terkemuka lainnya menjadi bagian dari pilihan.Tulisan ini secara khusus mau mendalami konsep Karl Marx sebagai salah satutokoh sosialis terkemuka, dalam rangka memahami lebih jelas konsep dan pemikiranKarl Polanyi. Pendekatan Marx yang ideologis dan teknis serta kontekstual terhadapmasalah ini, sebenarnya masih berkecimpung dalam koridor ekonomi pasar yang justrumenjadi sumber masalah. Sebaliknya Polanyi ingin melakukan satu gerakan yangmenyeluruh dengan menyoroti akar ketercerabutan ekonomi dari realitas sosial Many crises hit the market-economy. They have made the original economicideals in promoting common good, more and more unreachable. The failure of marketeconomyin promoting the common good has encouraged us to find another way out accordingly.Karl Polanyi and the other figures who lead economic socialism movement shouldbe part of our focus. This paper specifically explores the concept of Karl Marx as one of theleading socialist figure, in order to understand more clearly the concept and the thought ofKarl Polanyi. Marx’s ideological, technical, and contextual approach to this problem, wasactually locked in the corridor of the market-economy itself. In his way, Polanyi wanted tosuggest a more comprehensive movement. Viewing the economy was uprooted from socialrelation (dissembedded–economy) he then suggested the embedded economy for solvingthe market-economy’s problems.
Amartya Sen: Keadilan Multikulturalistik Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 02 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i02.734

Abstract

Pembicaraan tentang keadilan harus menghasilkan tujuan kongret, paling tidak mengurangi ketidakadilan. Dalam kaitan ini Amartya Sen menawarkan satu pendekatan baru yang lebih praktis. Dia menulis dalam bukunya The Idea of Justice bahwa keadilan akhirnya terkait dengan cara orang menjalani kehidupan, bukan hanya dengan dunia institusi yang melingkupinya. Persoalannya adalah bahwa keadilan lalu menjadi bersifat pluralistik, karena setiap komunitas budaya, agama, gender dan lain-lain yang punya identitas sendiri-sendiri, juga punya konsep sendiri tentang keadilan. Apakah itu berarti tidak ada konsep keadilan yang bisa diterima semua pihak? Apakah, dengan demikian, tidak akan terjadi konflik di antara masing-masing konsep keadilan? Masalah-masalah itu sebenarnya tidak akan terjadi kalau pendekatan yang ditempuh adalah pendekatan multikultural. Karena identitas setiap individu atau kelompok juga bersifat multi. Pendekatan multikultural akan memperhatikan semua aspek identitas pada setiap orang dan mampu membuat manusia melihat masalah dari berbagai identitas. Maka kebebasan, penalaran, dialog, diskusi tidak bisa dilepaskan dari upaya untuk mengurangi ketidak-adilan dalam masyarakat dan mengupayakan yang lebih adil.
Sjahrir Pemimpin Merdeka, Rakyat Merdeka, Dalam Negara Merdeka Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17, No 02 (2012)
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstraksi: Merdeka tidak hanya diartikan secara negatif sebagai tidak terjajah, melainkan juga secara positif sebagai aktif melakukan tindakan-tindakan sebagai manusiamerdeka. Negara, pemimpin, rakyat, harus merdeka dari penindasan, kemiskinan,kebodohan, keterbelakangan, feodalisme, demagogi, dan memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Di sini, rakyat dan pemimpin berkontribusi aktif dalam membangun bangsa dan pribadi yang mandiri, mampu mengambil keputusan sendiri,dengan pertimbangan-pertimbangan yang berwawasan. Dan rakyat sendiri, tidak boleh menjadi obyek manipulasi bangsa lain, atau malah menjadi obyek manipulasi pemimpin bangsanya sendiri. Di negeri yang merdeka ini, pemimpin dan rakyatnya harus sama-sama merdeka. Pemimpin yang dirasuk oleh nafsu kekuasaan, sebenarnya masih terbelenggu dan tidak pantas untuk memimpin dan memerdekakan rakyat. Sosialisme,nasionalisme, dan demokrasi akan menjamin negeri ini meraih kemerdekaan bagi pemimpin dan rakyatnya.Kata Kunci: Sjahrir, kemerdekaan, sosialisme, nasionalisme, demokrasi, rakyat, pemimpin.Abstract: Freedom is not only negatively defined as not colonized, but also positively defined as independently acting in freedom. Country, the leader, the people, should be free from oppression, poverty, ignorance, backwardness, feudalism,demagogy, and have the right to self-determination. Here, the people and leaders ought to contribute actively in building the nation and creating an independent person, capable of taking their own decisions, with insightful considerations.And the people themselves, should not be the object of manipulation of other nations, or even become the object of his own nation’s leaders. In this independent country, leaders and citizens must be equally free. Leaders who are possessed by the lust of power, still fettered and do not deserve to lead and liberatethe people. Socialism, nationalism, and democracy would ensure the country won independence for the leader and his people.Key Words : Sjahrir, independence, nationalism, democracy, people, leader.