Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Unisia

Hukuman Mati Perbandingan Islam, HAM dan KUHP (Membaca Konfrontasi HAM versus Hukuman Mati dan Larangan Marxisme dengan Maqâshid Syari'ah) Faiq Tobroni
Unisia Vol. 33 No. 73 (2010): Jurnal Unisia
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/unisia.vol33.iss73.art6

Abstract

Salah satu hal yang paling krusial dalam KUHP dan sampai sekarang justru memancing perdebatan sengit dalam perumusan RKUHP yang baru (rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana) adalah masalah perhatian kepada HAM. Para aktivis HAM menengarai bahwa KUHP dan RKUHP sampai sekarang masih menyimpan cacat dalam melindungi HAM. Beberapa pasal yang ditengarai sebagai instrumen pelemah penegakan HAM di antaranya adalah hukuman mati dan larangan penyebaran ideologi Komunisme dan Marxisme/Leninisme. Pasal-pasal demikian cenderung melanggar hak hidup dan kebebasan berpikir. Sementara itu, perumus RKUHP mempunyai pertimbangan sendiri. Pasal-pasal ini untuk memberi hukuman yang berat bagi kejahatan berat (pemberlakuan hukuman mati) dan melindungi ideologi Pancasila (larangan Marxisme). Mereka menganggap pencantumannya bukan sebagai pelemah penegakan HAM. Umat Islam sebagai bagian warga negara yang berhak memantau undang-undangnya sendiri juga harus melibatkan diri mengkritisinya. Saya di sini akan menganalisis pasal-pasal yang diperdebatkan melanggar HAM tersebut dengan perspektif teori Maqâshid Syarî’ah. Keywords: Maqâshid Syarî’ah; hukuman mati; Komunisme dan Marxisme-Leninisme; HAM dan KUHP.
Keberhasilan Hukum Islam Menerjang Belenggu Kolonial dan Menjaga Keutuhan Nasional Faiq Tobroni
Unisia Vol. 32 No. 72 (2009): Jurnal Unisia
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/unisia.vol32.iss72.art7

Abstract

The receptie exit theory of Hazairin has freed Islamic Law from legal colonization as aresult of the receptie theory. Since the independence day, the receptie theory has not beeneffective any longer, because since then Pancasila has been the main source of laws,including Islamic Law, without any subordination. However, the inclusion of the word “Islam”in the previous Pancasila, known as Piagam jakarta, had been controversial. Nevertheless,Hatta had been successful to cope with the problem by substituting the controversialword in the first principle to the symbolic word of “Oneness” which remains tocontain Islamic spirit. This choice has succeeded to defend Indonesian state integrity.Keywords: receptie exit, receptie, colonization, state integrity.