Broerie Pojoh
Baristand Industri Manado

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH FLY ASH LIMBAH PADAT PABRIK MINYAK NABATI DALAM KOMPOSIT PAVING BLOCK Broerie Pojoh
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol 13. No. 1 Juni 2021
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33749/jpti.v13i1.6978

Abstract

Fly ash solid waste was produced in considerable amount from vegetable oil industry. Those waste could not be buried in any unintended landfill. Without those area to bury in, fly ash solid waste could then create many problems such as less open space and aesthetic, and also dust pollution. A research to employ fly ash solid waste for making paving block and study its effect on its quality has been implemented. This research using different application of fly ash, coarse sand, with constant application of fine sand aggregate and portland cement. The result showed that fly ash solid waste could be employed to make paving block as a filler. Physical analysis was conducted from SNI. 03-0691-1996, resulted paving block A1B2 had highest pressure strength (22.34 MPa) while paving block A3B3 had lowest pressure strength (18.58 MPa). Water absorbing property for all treatments varied from 2.41-4.48%. From physical analysis, paving block of A1B1, A1B2, A1B3, A2B1, A2B2, and A2B3 were included in B quality requirement (for parking lot purpose). On the other hand, paving block of A3B2 and A3B3 were included in C quality requirement (for sidewalk purpose). The best composition to produce paving block was A1B2, which was 2 parts of fly ash, 8 part of sand and 2 parts of portland cement, resulted paving block with pressure strength of 22.34 MPa and water absorbtion of 2.60%. Research also showed that the use of fly ash increased the total production of paving block so it could improve the revenue for producer.Keywords: fly ash, solid waste, composite, paving block
Pembuatan Batako Sebagai Alternatif Penanganan Spent Bleaching Earth yang Dihasilkan Pabrik Minyak Kelapa Broerie Pojoh
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 8 No. 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.304 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v8i1.1018

Abstract

ABSTRAKTumpukan limbah SBE di kompleks pabrik minyak kelapa di Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara yang bertambah pada setiap proses  produksi sangat potensial mengancam kelangsungan usaha pabrik. Penumpukkan di halaman pabrik dilakukan karena belum adanya TPA khusus di wilayah tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan stabilitas dan kapasitas penimbunan in-situ. Penelitian bertujuan untuk meneliti pengaruh agregat, ekstraksi minyak, dan komposisi limbah SBE terhadap kualitas batako. Pengamatan dilakukan dengan merujuk pada persyaratan SNI 03-0348-1989 tentang Mutu dan Cara Uji Bata Beton Pejal meliputi kuat tekan dan kenampakan fisik dan sesuai Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI) meliputi kuat tekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan batako yang dibuat dari limbah SBE yang diekstraksi tanpa menggunakan agregat, baik “tanah domato,” pasir kali, dan kerikil split, tidak memenuhi persyaratan SNI maupun PUBI. Diketahui juga bahwa batako yang dibuat dari limbah SBE yang minyaknya diekstraksi dengan cara dibuat menjadi briket memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan cara disangrai. Selanjutnya diketahui bahwa penggunaan agregat pasir kali menghasilkan batako dengan kuat tekan yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan “tanah domato”. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa rata-rata kuat tekan batako yang dibuat dari limbah SBE yang diekstraksi minyaknya dengan komposisi SBE 25% lebih baik dibandingkan dengan komposisi SBE 50% dan 75%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar ekstraksi minyak SBE dalam skala besar dilakukan dengan menggunakan peralatan khusus agar supaya pencemaran oleh asap dapat ditekan seminimal mungkin. Untuk tujuan peningkatan stabilitas serta kuantitas tumpukan SBE maka direkomendasikan untuk membuat batako menggunakan SBE dengan komposisi sebanyak 50%. Kata kunci: batako, spent bleaching earth, stabilitas tumpukan
PENGARUH PERENDAMAN DALAM AIR SUNGAI DAN AIR LAUT TERHADAP DAYA TAHAN TULANGAN BAMBU PETUNG ASAL TOMOHON Broerie Pojoh
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 9 No. 1 Juni 2017
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.968 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v9i1.3302

Abstract

ABSTRAKSejalan dengan semakin mahalnya besi beton dan potensi kelangkaannya, telah dilakukan penelitian pemanfaatan bambu untuk substitusi besi beton. Kelemahan yang terdapat pada bambu sebagai bahan organik adalah kerentanannya terhadap serangan hama dan penyakit oleh karena itu perlu diawetkan sebelum digunakan. Bambu tumbuh dengan baik di Kabupaten Minahasa sehingga bahan baku tersedia dengan melimpah. Berdasarkan hal itu, telah dilakukan penelitian “Pengaruh perendaman dalam air sungai dan air laut terhadap daya tahan tulangan bambu petung asal Tomohon.” Tujuan penelitian adalah untuk menguji perbedaan ketahanan tulangan bambu dengan perlakuan tanpa perendaman (dikeringanginkan), direndam di dalam air sungai, dan air laut. Penelitian dilakukan dengan percobaan lapangan untuk melihat daya tahan tulangan bambu terhadap serangan jamur dengan cara memaparkan tulangan bambu terhadap jamur dan mengamatinya selama dua bulan, dan daya tahan tulangan bambu terhadap serangan rayap menggunakan metode graveyard test selama empat bulan. Data hasil penelitian dianalisis dengan metode Analisis of Varians menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman di dalam air sungai  dan di dalam air laut menurunkan tingkat serangan jamur pada tulangan bambu, dimana tulangan bambu dengan perlakuan tanpa perendaman “banyak ditumbuhi jamur”, sedangkan tulangan bambu yang direndam di dalam air laut dan direndam di dalam air sungai “cukup ditumbuhi jamur.” . Tulangan bambu yang dipendam di dalam tanah selama empat bulan menunjukkan ketahanan terhadap serangan rayap tanah yang berkisar antara “tahan” sampai “agak tahan.”Kata kunci:  bambu petung, rendam di sungai, rendam di laut  ABSTRACTIn line with the increasingly expensive iron bar and its potential scarcity, research in using bamboo as subtitution has been conducted. The disadvantage of bamboo as an organic material is its susceptibility to pests and diseases therefore need to be preserved before use. Bamboo grows well in Kabupaten Minahasa so that raw materials are available in abundance. Based on that, the research has been conducted "The effect of immersion in river water and sea water on the resistance of bamboo bar from Tomohon." The objective of the study was to examine the differences in bamboo bar resistance with non-immersion treatment, immersed in river water, and sea water. Research was done by field experiment to see bamboo bar resistance to fungal attack by exposing bamboo bar to fungy and observing it for two months, and bamboo bar resistance to termite attack using graveyard test method for four months. The data of the research were analyzed by Analysis of Variance method using SPSS. The results showed that the immersion treatment in river water and in the sea water decreased the level of fungus attack on bamboo bar, where bamboo bar treatment without immersion  "much overgrown with fungy", while bamboo bar immersed in sea water and immersed in water river "quite overgrown with fungy". The bamboo bar buried in the ground for four months indicates resistance to ground termite attacks ranging from "resistant" to "moderately resistant."Keywords: bamboo, immersed in river water, immersed in sea water
DESAIN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA RENCANA KAWASAN INDUSTRI BERBASIS KULIT DI KABUPATEN MAGETAN Broerie Pojoh
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Volume 7, No. 1 Desember, Tahun 2015
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.255 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v7i2.4808

Abstract

Desain pengolahan limbah cair pada rencana kawasan industri berbasis kulit di Kabupaten Magetan dilakukan dengan tujuan untuk melengkapi dokumen perencanaan pengembangan kawasan industri berbasis kulit.Desain IPAL dibangun dengan mempertimbangkan data lapangan, kontur rencana lahan kawasan industri, rencana kapasitas operasional kawasan industri, hasil wawancara dengan pemangku kepentingan, FGD, serta dipadukan dengan kajian empiris dan teoritis pengolahan air limbah industri. Permasalahan di lapangan saat dikaji adalah kapasitas pengolahan yang terbatas serta semakin meningkatnya pengusaha pengguna. Perkiraan volume dan kapasitas limbah cair yang dihasilkan oleh aktivitas industri berkisar antara 60-80% dari konsumsi air bersih sebesar ±2500 m3/hari.Unit utama pengolahan pada IPAL kawasan industri yang direncanakan meliputi unit ekualisasi, unit pemisahan padatan, unit biologis, dan unit pengolahan lumpur.Untuk menghemat lahan maka IPAL dirancang secara kompak. Aliran limbah cair diatur secara gravitasi dan atau menggunakan pompa dan bersifat kontinu. Total luas areal yang diperlukan untuk membangun IPAL adalah 9.147 m2 (atau sekitar 5,20% dari total luas Kawasan Industri), terdiri atas bangunan kantor dengan luas300m2, bangunan Lab IPAL dengan luas 144 m2, bak/tangki pengolah IPAL dengan luas3.500m2, incinerator dengan luas36 m2, dan RTH dengan luas5.167 m2. Rancangan dimensi dari tangki/bak-bak pengolahan didesain untuk dapat menampung limbah cair yang mengalir dengan waktu tinggal satu jam. Prediksi biaya yang relatif besar dari pembangunan IPAL dapat menjadi penghambat dibangunnya kawasan industri tersebut, tapi dilain pihak keberadaannya akan menjadi salah satu daya tarik investasi karena kecenderungan permintaan dunia terhadap produk kulit yang dihasilkan oleh pusat pengolahan yang berwawasan lingkungan. Kata kunci: Kawasan Industri, IPAL, pengelolaan limbah cair
PEMBUATAN PAPAN LAMINATING DARI TULANGAN BAMBU MENGGUNAKAN LIMBAH PLASTIK SEBAGAI BAHAN PENGISI DAN PEREKAT Broerie Pojoh
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 8 No. 2 Desember 2016
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.831 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v8i2.2164

Abstract

Kebutuhan akan bahan bangunan seperti kayu untuk pembuatan rumah panggung sangat besar. Pasokan bahan bangunan untuk mendukung industri rumah panggung  tidak dapat sepenuhnya dipasok oleh bahan baku lokal karena semakin menipisnya hutan produksi yang menghasilkan kayu berkualitas baik. Di lain pihak, bambu merupakan tumbuhan lokal yang dimanfaatkan secara luas antara lain sebagai bahan bangunan. Penggunaan bambu untuk menggantikan peran kayu telah mulai dilakukan antara lain dengan membuat papan komposit atau papan laminasi dengan menggunakan bahan perekat seperti PVC. Di lain pihak, plastik digunakan secara masif sebagai bahan kemasan, misalnya untuk botol atau gelas AMDK. Karena kesadaran yang masih rendah maka limbah kemasan plastik banyak berakhir sebagai sampah di badan-badan air. Penggunaan limbah plastik sebagai bahan pengisi dan perekat pada papan laminating tulangan bambu menarik untuk dilakukan. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan untuk membuat papan laminating dari beberapa jenis plastik dengan menggunakan bantuan alat cetak sistem panas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis plastik PP (ex-gelas AMDK dan tutup botol berwarna) dapat digunakan untuk menghasilkan papan laminating tulangan bambu yang kompak dan keras.Kata kunci: limbah plastik kemasan AMDK, bambu petung, tulangan bambu, papan laminating
POTENSI AKUMULASI ASAP CAIR PENGOLAHAN KELAPA DAN HASIL SAMPINGNYA Broerie Pojoh
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 9 No. 1 Juni 2017
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.803 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v9i1.3097

Abstract

ABSTRAKKelapa dan produk turunannya dimanfaatkan secara luas sebagai sumber minyak, makanan, minuman, bahan bakar, dan bahan bangunan. Terdapat kecenderungan semakin menurunnya produktivitas kelapa dan perannya bagi ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh nilai jual yang relatif rendah dan berfluktuasi terutama terhadap produk utama yang dihasilkan, yaitu kopra asap. Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan keekonomian kelapa dilakukan antara lain dengan mengusahakan diversifikasi usaha dengan tanaman sela atau perikanan/peternakan. Meningkatnya permintaan terhadap produk seperti VCO membangkitkan semangat bagi petani/pengolah kelapa untuk mengolah kelapa. Salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah kelapa adalah dengan mengusahakan akumulasi asap cair dari proses pembuatan kopra asap/kopra putih, atau arang tempurung kelapa. Terdapat potensi yang sangat besar dari asap cair pada pengolahan kelapa menjadi kopra asap atau kopra putih serta pembuatan arang tempurung.  Akumulasi asap cair pada pengolahan kelapa dapat dilakukan dengan menambahkan kondensor pada tungku pembuatan kopra putih Tipe Baristand Industri Manado dan tungku pembuatan arang tempurung tipe Behive Baristand Industri Manado. Alternatif lainnya dari penggunaan kondensor tersebut adalah dengan meneliti  kemungkinan aplikasi teknik pendinginan yang diterapkan pada proses pembuatan minuman tradisional Minahasa, yaitu pembuatan cap tikus. Akumulasi asap menjadi asap cair setidaknya memberikan dua keuntungan, yaitu meningkatkan nilai tambah pengolahan kelapa menjadi produk yang bermanfaat dan menghindarkan pencemaran lingkungan akibat asap dari pengolahan kopra dan pembakaran arang tempurung.Kata kunci: asap cair, kopra asap, kopra putih, sabut kelapa,  arang tempurung ABSTRACT Coconut and its derivatives are widely used as a source of oil, food, beverages, fuel, and building materials. There is a tendency for declining coconut productivity and its role for the economy of society. This is due to the relatively low selling value and fluctuates mainly to the main product produced, ie copra smoke. Efforts undertaken to improve the coconut economy are done, among others, by seeking to diversify the business with intercrops or fishery / livestock. Increased demand for products such as VCO evokes enthusiasm for farmers / coconut processors to cultivate coconuts. One of the alternative business that can be done to increase the added value of coconut is by seeking the accumulation of liquid smoke from the process of making copra smoke / white copra, or coconut shell charcoal. There is a huge potential of liquid smoke in the processing of coconut into copra smoke or white copra and the manufacture of shell charcoal. The accumulation of liquid smoke in the coconut processing can be done by adding condensers to the white copra making furnace of Balai Riset dan Standardisasi Industri Type and the Balai Riset dan Standardisasi Industri Behive Type for shell charcoal making. Another alternative to the use of condensers is to examine the possibility of application of cooling techniques applied to the process of making Minahasa traditional drinks, namely the manufacture of “cap tikus.” The accumulation of smoke into liquid smoke at least provides two advantages, namely to increase the added value of coconut processing into a useful product and avoid environmental pollution due to smoke from copra processing and charcoal burning.Keywords: liquid smoke, copra smoke, white copra, coconut husk, shell charcoal