Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGGUNAAN MEDIA, BAHAN STEK, DAN ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP KEBERHASILAN STEK MASOYI (Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm) Darwo Darwo; Irma Yeny
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.088 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.1.43-55

Abstract

ABSTRACTMasoyi (Cryptocarya massoy) is one of the high economic value, non wood forest products endemic to Papua. Development of masoyi plants currently are constrained by meeting the needs for quality seeds in a large quantity on time. Therefore, vegetative propagation become one of the solutions for this problem. The aim of this study was to get the best media, cutting materials, and doses of growth regulators for vegetative propagation of masoyi. Completely randomized factorial design was used. The first factor was the media of cuttings (soil+sand (2:1, v/v), coconut fiber+husk (2:1, v/v), and sand media). The second factor was cutting materials derived from 1 year old seedlings (the upper shoots and the down shoots). The third factor was the concentration of growth regulators (0; 500; and 1,000 ppm of NAA). The root percentage was influenced by media, the shoots, and growth regulator NAA. Root length was influenced by media as a single factor and the interaction between media and the shoots. The number of leaves was influenced by the media, while the number of roots was not influenced by each single factor and their interactions. Media was a critical factor for the success of masoyi cuttings. Thus, the combination of soil+sand (2:1, v/v) media with the upper shoots is a recommended treatment for masoyi shoot cuttings, where the combination is not influenced by the growth regulator NAA.Keywords: Cryptocarya massoy, growth regulator, media, shoot cuttingABSTRAKMasoyi (Cryptocarya massoy) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil hasil hutan bukan kayu (HHBK) endemik Papua bernilai ekonomi tinggi. Upaya pengembangan tanaman masoyi saat ini terkendala oleh sulitnya memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah banyak dan berkualitas. Untuk itu, perbanyakan secara vegetatif menjadi salah satu solusi permasalahan pemenuhan bibit. Penelitian bertujuan mendapatkan media tanam, bahan stek, dan dosis zat pengatur tumbuh NAA yang tepat untuk perbanyakan masoyi dengan cara stek. Penelitian menggunakan bibit berumur 1 tahun dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama adalah media tanam stek (tanah+pasir (2:1, v/v), serbuk sabut kelapa+ sekam (2:1, v/v), dan media pasir). Faktor kedua adalah bahan stek (bagian pucuk atas dan bagian pucuk bawah). Faktor ketiga adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh (0 ppm, NAA 500 ppm, dan NAA 1.000 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen berakar dipengaruhi oleh faktor tunggal media tanam, bagian stek dan zat pengatur tumbuh NAA. Panjang akar dipengaruhi oleh faktor tunggal media tanam dan interaksi antara media dengan bagian stek. Jumlah daun dipengaruhi faktor media tanam, sedangkan jumlah akar tidak dipengaruhi masing-masing faktor tunggal dan interaksinya. Faktor media merupakan faktor penentu keberhasilan stek masoyi. Dengan demikian, kombinasi media tanah+pasir (2:1, v/v) dengan bagian pucuk atas merupakan perlakuan yang direkomendasikan untuk stek masoyi, dan kombinasi perlakuan tersebut tidak dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh NAA.Kata Kunci : Cryptocarya massoy, media, stek pucuk, zat pengatur tumbuh
Tingkat Kerawanan dan Mitigasi Bahaya Kebakaran Hutan: Studi Kasus di KHDTK Sawala Mandapa, Kadipaten, Provinsi Jawa Barat (The Level of Vulnerability Forest Fire Hazard Mitigation: Case Study at Sawala Mandapa Forest Research Station (FRS) Kadipaten, West Java Province) Henny Wahyuti; Irma Yeny
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.109-123

Abstract

ABSTRACTIn the dry season, land fires often occur in Sawala Mandapa forest research station (FRS) which is caused by human factors. In terms of anticipating this, the accurate information of land burnt potency is needed. The research aims are to determine the level of fire vulnerability and forest fire hazard mitigation. Data were collected by using survey techniques and interviews with key respondents. The collected data was analyzed in the excel program and showed a factor value of 1 - 5 according to their indicators. A survey was carried out on 11 polygons spread over the Sawala FRS Block 9. The data were collected in the specific form of variables of fire susceptibility level (human activity, land cover, weather, and soil type) and fire mitigation. The results showed that the research area had a vulnerable value of 1.8 - 3.3 (from low to high) vulnerable class category. The low-risk area has forest cover in the form of secondary forest and without any human activities. The moderate vulnerability has forest cover in the form of secondary forest and human activities in the certain forms such as obtaining firewood and community road access. The high vulnerability level has forest cover in the form of secondary forest and has certain human activities such as utilizing land under mahogany and teak stands. In addition, there were indicated that burning activities for waste disposal happened in the area. The mitigation that has been carried out is dominated by non-physical mitigation, namely strengthening community capacity. The fire hazard map produced by this study can be used as the basis for fire prevention policies.Keywords: Human activities, fire susceptibility, forest research station, mitigatioABSTRAKPada musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan sering terjadi di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sawala Mandapa yang diakibatkan oleh kelalaian manusia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan informasi yang akurat tentang lahan yang memiliki potensi terbakar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kerawanan kebakaran dan mitigasi bahaya kebakaran hutan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei dan wawancara terhadap responden kunci. Data yang terkumpul diinput dalam program Microsoft excel dan diberi nilai faktor 1 - 5 sesuai indikator yang dimiliki. Survei dilakukan pada 11 poligon yang tersebar pada KHDTK blok Sawala petak 9. Data yang dikumpulkan berupa variabel tingkat kerawanan kebakaran (aktivitas manusia, tutupan lahan, cuaca dan jenis tanah) dan mitigasi kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, wilayah penelitian memiliki nilai rawan 1,8 - 3,3 dengan kategori kelas rawan rendah hingga tinggi. Pada areal tingkat rawan rendah memiliki tutupan hutan berupa hutan sekunder dan tidak tampak aktivitas manusia. Tingkat rawan sedang, memiliki tutupan hutan berupa hutan sekunder dan aktivitas manusia berupa pengambilan kayu bakar dan akses jalan masyarakat. Tingkat rawan tinggi memiliki tutupan hutan berupa hutan sekunder dan memiliki aktivitas manusia berupa pemanfaatan lahan di bawah tegakan mahoni dan jati. Selain itu, terdapat aktivitas pembuangan dan pembakaran sampah. Mitigasi yang telah dilakukan didominasi oleh mitigasi non fisik, yaitu penguatan kapasitas masyarakat. Peta kerawanan kebakaran yang dihasilkan penelitian ini dapat dijadikan dasar kebijakan pencegahan kebakaran.Kata kunci : Aktivitas manusia, kerawanan kebakaran, KHDTK, mitigasi
POTENSI PENGEMBANGAN MASOYI (Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm) DI WILAYAH UPTD KPH UNIT V BOALEMO BERDASARKAN KESIAPAN MASYARAKAT DAN TINGKAT KESESUAIAN LAHAN (Potency of masoyi plantations in the area of UPTD KPH Boalemo Gorontalo Unit V based on community readinness and land suitability) Irma Yeny; Budi Hadi Narendra; Hani Siti Nuroniah
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.538 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.2.125-145

Abstract

 ABSTRACT Plantations development in KPH UPTD Boalemo Unit V area should be supported by community readiness and land suitability. This study analyzed the potential of masoyi plantations in the UPTD KPH Boalemo Gorontalo Unit V based on community readiness and land suitability. The level of community readiness was measured through in-depth interviews with key informants. Land suitability analysis was carried out using species matching method on the plant growth requirements of masoyi. Land characteristics were obtained from secondary data, direct field measurements, and soil analysis. The results showed: 1) community readiness is at level seven to nine; Ayuhulalo Village, Bendungan Village, Botumoito Village, and Rumbia Village have the highest community readiness, 2) land suitability is divided into: suitable 15.93%, moderately suitable 53.82%, and 24% unsuitable, 3) an area of 22,644 ha have the potential for development of masoyi plantation because it has a high level of community readiness and land suitabiliy level at moderately suitable, 4) an area of 7,041 ha is a priority area for the development of masoyi because it has a high level of community readiness and land suitability class at suitable, 5) Bendungan Village and Butomoito Village have the best community readiness and land suitability, 6) production forest area is dominated by marginally suitable land; land improvement/ manipulation is needed towards the limiting factors to support successful planting. Key words: Masoyi, land suitability, growing requirements, plantations  ABSTRAK Upaya pengembangan hutan tanaman di wilayah UPTD KPH Unit V Boalemo perlu didukung kesiapan masyarakat dan kesesuaian lahan. Penelitian ini menganalisis potensi pengembangan masoyi di wilayah UPTD KPH Unit V Boalemo Gorontalo berdasarkan kesiapan masyarakat dan kesesuaian lahannya. Tingkat kesiapan masyarakat diukur melalui wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh kunci. Analisis kesesuaian lahan dilakukan menggunakan metode pencocokan (species matching) terhadap persyaratan tumbuh tanaman masoyi. Karakteristik lahan diperoleh melalui pengumpulan data sekunder, pengukuran langsung di lapangan, dan analisis tanah di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan: 1) kesiapan masyarakat berada pada level tujuh sampai dengan sembilan; empat desa yaitu Desa Ayuhulalo, Desa Bendungan, Desa Botumoito, dan Desa Rumbia memiliki kesiapan lahan level sembilan (rasa memiliki di tingkat masyarakat tinggi), 2) kesesuaian lahan terdiri atas 15,93% sesuai, 53,82% agak sesuai, dan 30,24% tidak sesuai, 3) wilayah dengan luas 22.644 ha berpeluang bagi pengembangan masoyi karena memiliki tingkat kesiapan masyarakat yang tinggi (level 7 sampai 9) dan memiliki kelas kesesuaian agak sesuai, 4) wilayah dengan luas 7.041 ha merupakan lahan prioritas bagi pengembangan masoyi karena memiliki tingkat kesiapan masyarakat tinggi (level 7 sampai 9) dan memiliki kelas kesesuaian lahan sesuai, 5) desa dengan tingkat kesiapan masyarakat terbaik dan kesesuaian lahan pada kriteria sesuai adalah Desa Bendungan dan Desa Butomoito, 6) kawasan hutan produksi didominasi tingkat kesesuaian lahan agak sesuai sehingga perlu adanya perbaikan/manipulasi lahan terhadap faktor pembatas guna mendukung keberhasilan penanaman.Kata kunci: Masoyi, kesesuaian lahan, persyaratan tumbuh, hutan tanaman