Ishak Yassir
Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumberdaya Alam

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS Ishak Yassir; R. Mulyana Omon
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2370.771 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2006.3.2.107-115

Abstract

Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari km 35, Kalimatan Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia tanah terhadap potensi CMA pada lahan kritis. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda petak tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan. Pada setiap kondisi topografi (puncak, lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur, yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4, 32), bahan organik yang rendah sampai dengan sedang, yaitu C-organik (2, 15%), kandungan N total (0, 13%) P tersedia (498 ppm), K tersedia (0, 44 me/g) dan KTK (8, 99 me/100g). Kepadatan spora CMA cukup baik, dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah, dari genus Glomus, Acaulospora dan Gigaspora. Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia, dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia, yang ditunjukkan oleh jumlah  spora CMA yang menurun  selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah.
KEBIJAKAN PENILAIAN KEBERHASILAN REKLAMASI LAHAN PASCA-TAMBANG BATUBARA DI INDONESIA Ardiyanto Wahyu Nugroho; Ishak Yassir
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.19 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2017.14.2.121-136

Abstract

Indonesian government has enacted regulations requiring reclamation and rehabilitation activities on post coal mining areas. However, the evaluation related to the ecological restoration concepts is yet unavailable. This study aims to evaluate the regulations on rehabilitation and reclamation of post coal mining areas in Indonesia conforming on ecological restoration concepts. Employing desk study and content anaysis, this research focussed on three technical regulations concerning reclamation guidance and post-mining evaluation guidance, namely ESDM Decree  No 7 Year  2014, MoF Decree No P.60/Menhut-II/2009, and MoF Decree No P.4/Menhut-II/2011. Each regulation was comprehensively evaluated whether the regulation already regulates matters relating to ecological restoration criterias, such as biodiversity recovery, soil remediation, planting of local plants, bans on invasive plant species and monitoring and evaluation. The result showed that there was no regulation complying with all ecological restoration criterias. Meanwhile, all the regulations have mandated monitoring and evaluation after rehabilitation and reclamation activities. However, there was no regulation mandating prohibition on planting invasive plant species. In conclusion, regulations related to post coal mining rehabilitation and reclamation have not fully complied with the ecological restoration concepts, therefore improvement to that regulations are necessary.