Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN WHEY PROTEIN TERHADAP PENGURANGAN GEJALA KERUSAKAN OTOT SETELAH AKTIVITAS EKSENTRIK reno siska sari
Jurnal Sporta Saintika Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Sporta Saintika Maret
Publisher : Jurusan Kesehatan Dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sporta.v4i1.97

Abstract

Aktivitas eksentrik adalah salah satu jenis aktivitas resistance yang sering menimbulkan kerusakan otot, yang dimulai dari 24 jam setelah aktivitas dan mencapai puncaknya pada 48 jam setelah aktivitas. Kerusakan otot menyebabkan hilangnya kekuatan otot, menurunkan range of motion sendi, meningkatkan inflamasi dan konsentrasi protein miofibril dalam darah. Rangsangan sintesis protein dan meminimalisasi muscle protein breakdown (proteolisis) adalah dua proses seluler yang penting untuk pemulihan setelah kerusakan otot. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh suplementasi whey protein terhadap pengurangan gejala kerusakan otot setelah aktivitas eksentrik. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PJKR IKIP Budi Utomo yang dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, 22 orang coba kelompok kontrol dan 22 orang coba kelompok perlakuan. Desain penelitian ini adalah randomized group pretest and posttest design. Aktivitas eksentrik yang dilakukan adalah aktivitas Drop Jumps pada bangku dengan ketinggian 0.5 meter. Whey protein diberikan setelah aktivitas eksentrik sebanyak 20 gram/subjek. Dalam penelitian ini whey protein diberikan dalam bentuk serbuk yang dilarutkan dengan 240 ml air mineral. Waktu pemberian whey protein dilakukan segera setelah aktivitas eksentrik, 24 dan 48 jam setelah aktivitas eksentrik (selama 3 hari pemulihan). Pengukuran kekuatan otot tungkai menggunakan back and leg dynamometer sedangkan pengukuran ROM sendi menggunakan alat goniometer. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian asupan whey protein pada kelompok perlakuan setelah aktivitas eksentrik dapat meningkatkan kekuatan otot tungkai pada 48 jam (72,3±16,1kg) dengan nilai p=0,003 (p<0,05) dan pada 72 jam (80,3±17,2) dengan nilai p=0,00 (p<0,05). Pemberian asupan whey protein pada kelompok perlakuan setelah aktivitas eksentrik juga dapat meningkatkan ROM sendi lutut pada 72 jam (130,8±3,1) whey protein sebesar 20 gram /hari setelah aktivitas eksentrik dapat meningkatkan kekuatan otot tungkai lutut pada jam ke 48 dan 72 serta ROM sendi pada jam ke 72
Olahraga Kardio dan Tabata: Rekomendasi Untuk Menurunkan Lemak Tubuh Dan Berat Badan Taufikkurrachman Taufikkurrachman; Amy Nilam Wardathi; Afif Rusdiawan; Reno Siska Sari; Buyung Kusumawardhana
Jendela Olahraga Vol 6, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jo.v6i1.7469

Abstract

The purpose of this study was to determine the condition of body weight and body fat after cardio and tabata exercises. The research design used was randomized group pre-test and post-test design. The research subjects of PJKR student IKIP Budi Utomo Malang are male, aged 18-22 years with overweight / obese BMI. 27 people were randomly divided into 3 groups, the control group (K1), the cardio group (K2) and the tabata group (K3). The treatment was given 3 times a week for 6 weeks. K1 group only did the test without treatment. K2 was given jogging and skipping exercises for 40 minutes with moderate intensity (55-70% maximum heart rate). K3 was given squat trust and skipping exercises for 20 seconds of exercise and 10 seconds of rest for 8 sets with an intensity of 90-95% maximum heart rate. The exercise is carried out for 20 minutes with 1-minute intervals per set. The results of the LSD test for weight variables showed a significant difference between the K1 and K2 groups (p = 0.001), K1 and K3 (p = 0.000), K2 and K3 (p = 0.038). For the fat variable, there was also a significant difference between the K1 and K2 groups (p = 0.000), K1 and K3 (p = 0.000), K2 and K3 (p = 0.037). The conclusion is that tabata training is better than cardio training in reducing weight and fat.Keywords: Cardio, tabata, fat, body weight, exerciseAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi berat badan dan lemak tubuh setelah melakukan latihan kardio dan tabata. Desain penelitian yang digunakan adalah Randomized group pre test and post test design. Subyek penelitian ini mahasiswa PJKR Ikip Budi Utomo Malang yang berjenis kelamin laki-laki, usia 18-22 tahun dengan IMT overweight/ obesitas. 27 orang coba dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok, kelompok kontrol (K1), kelompok kardio (K2) dan kelompok tabata (K3). Perlakuan diberikan 3 kali seminggu selama 6 minggu.. kelompok K1 hanya melakukan test tanpa perlakuan. K2 diberikan latihan jogging dan skipping selama 40 menit dengan intensitas sedang (55-70% DN maks). K3 diberikan latihan squat trust dan skipping selama 20 detik latihan dan 10 detik istirahat sebanyak 8 set dengan intensitas 90-95% DN maks. Latihan dilakukan selama 20 menit dengan interval 1 menit tiap set. Hasil uji LSD variable berat badan menunjukkan perbedaan signifikan kelompok K1 dan K2 (p=0,001), K1 dan K3 (p= 0,000), K2 dan K3 (p= 0,038). Untuk variable lemak juga terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok K1 dan K2 (p= 0,000), K1 dan K3 (p=0,000), K2 dan K3 (p=0,037). Kesimpulannya adalah latihan tabata lebih baik daripada latihan kardio dalam menurunkan berat badan dan lemak. Kata Kunci: Kardio, tabata, lemak, berat badan, Latihan